Pendahuluan: Gerbang Kebijaksanaan Al-Qur'an
Surah Al-Baqarah, yang secara harfiah berarti "Sapi Betina," menempati posisi yang sangat agung dan fundamental dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Ia adalah surah kedua, langsung mengikuti Al-Fatihah, dan merupakan surah Madaniyah yang diturunkan di Madinah, menandai dimulainya fase pembentukan komunitas dan perumusan syariat Islam secara intensif. Keagungan surah ini tidak hanya terletak pada isi dan bobot hukum yang dibawanya, tetapi juga pada ukurannya yang kolosal. Menjawab pertanyaan mendasar, ada berapa ayat Surah Al-Baqarah, adalah langkah pertama untuk memahami cakupan dan kedalaman teks suci ini.
Surah ini sering disebut sebagai ‘Fustatul Qur’an’ (Kemah atau Puncak Al-Qur'an) karena ia merangkum berbagai aspek kehidupan—mulai dari akidah, hukum, muamalah, hingga sejarah nabi-nabi terdahulu. Skala pembahasan yang begitu luas ini secara logis menuntut jumlah ayat yang sangat banyak, membedakannya dari surah-surah lain yang mungkin lebih fokus pada tema tunggal atau pesan eskatologis semata. Durasi pewahyuannya yang panjang di Madinah menunjukkan bahwa ayat-ayatnya berfungsi sebagai panduan bertahap bagi umat Islam yang baru membangun peradaban dan struktur sosialnya.
Jawaban Tunggal: Jumlah Pasti Ayat Al-Baqarah
Menurut konsensus mutlak ulama qira’ah dan tafsir, terutama berdasarkan mazhab penghitungan Kufi yang paling umum digunakan dalam mushaf standar saat ini, jumlah ayat Surah Al-Baqarah adalah 286 ayat.
Angka 286 ini bukan sekadar statistik, melainkan mencerminkan keseluruhan struktur yang sistematis, dimulai dari huruf-huruf muqatta'ah (Alif Lam Mim) hingga doa penutup yang memohon ampunan dan pertolongan Allah (rabbana la tu'akhizna...). Kejelasan jumlah ini menjadi penting karena setiap ayat dalam Al-Baqarah membawa bobot hukum atau naratif yang signifikan. Panjangnya surah ini menjadikannya yang terpanjang dari 114 surah dalam Al-Qur'an, sebuah fakta yang sering ditekankan oleh para ulama untuk menyoroti betapa besar perhatian yang harus diberikan padanya.
Alt: Angka 286 sebagai jumlah ayat Surah Al-Baqarah.
Variasi dan Sejarah Penghitungan Ayat
Meskipun jumlah 286 ayat diakui secara universal di dunia Islam modern, penting untuk dicatat bahwa dalam sejarah ilmu qira’ah (ilmu membaca Al-Qur'an), terdapat sedikit variasi dalam penentuan batas akhir suatu ayat (fawasil). Perbedaan ini umumnya berasal dari enam mazhab utama penghitungan (Adad Al-Ayat): Kufi, Madani (lama dan baru), Makki, Bashri, dan Syami.
Variasi ini tidak pernah memengaruhi isi, susunan kata, atau huruf Al-Qur'an sama sekali. Variasi hanya terjadi pada penempatan tanda berhenti yang menandakan akhir sebuah ayat. Misalnya, apa yang dianggap sebagai dua ayat pendek dalam tradisi Kufi, mungkin saja dihitung sebagai satu ayat panjang dalam tradisi Makki atau Bashri. Namun, untuk Surah Al-Baqarah, perbedaan ini sangat minim dan hampir seluruhnya menghasilkan angka yang sama atau sangat mendekati 286, dengan Kufi (yang digunakan di sebagian besar mushaf Asia dan Timur Tengah) menjadi penentu angka pasti tersebut.
Beberapa riwayat penghitungan kuno pernah mencatat Surah Al-Baqarah dengan jumlah 285 atau 287 ayat. Perbedaan satu atau dua ayat ini biasanya berpusat pada ayat pertama (Alif Lam Mim) dan bagaimana ayat-ayat yang sangat panjang seperti Ayat Ad-Dayn (Ayat Hutang, 2:282) dipisahkan. Namun, tradisi Kufi telah menjadi standar baku yang mengatasi perdebatan minor tersebut, mengukuhkan 286 sebagai angka mutlak yang harus dipegang oleh setiap Muslim.
Signifikansi Ayat Al-Baqarah dalam Islam
Mengapa Allah menurunkan surah yang begitu panjang? Jawabannya terletak pada fungsi Al-Baqarah sebagai konstitusi awal bagi umat Islam di Madinah. Sebanyak 286 ayat tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori utama, yang secara kolektif membentuk fondasi teologi dan legislasi Islam.
1. Pondasi Akidah dan Metafisika (Ayat Awal)
Ayat-ayat pembuka (2:1-20) langsung membagi manusia menjadi tiga kelompok: orang yang bertakwa (mukmin), orang kafir (kuffar), dan orang munafik (munafiqun). Pembedaan ini sangat penting karena ia menetapkan kriteria keanggotaan dalam komunitas baru Muslim dan mendefinisikan bahaya laten yang ditimbulkan oleh kemunafikan, sebuah ancaman internal yang jauh lebih merusak daripada ancaman eksternal.
Analisis Mendalam tentang Munafiqun
Surah Al-Baqarah mencurahkan perhatian yang signifikan pada karakteristik orang munafik. Ini bukan sekadar deskripsi singkat, melainkan sebuah analisis psikologis dan sosial yang mendalam. Ayat 2:14-15 menggambarkan bagaimana mereka 'berpura-pura beriman' padahal hati mereka sakit, dan Allah memperolok-olokkan mereka. Detail narasi yang dicurahkan pada topik ini menunjukkan urgensi pengenalan dan penanganan hipokrisi dalam masyarakat Islam yang sedang berkembang. Panjangnya pembahasan tentang munafiqun ini menyumbang secara substansial pada total jumlah 286 ayat, menunjukkan betapa sentralnya isu integritas iman.
2. Sejarah Profetik dan Kisah Bani Israil
Sebagian besar inti naratif Al-Baqarah didedikasikan untuk kisah Nabi Musa (Musa A.S.) dan Bani Israil (Anak Cucu Israel). Kisah ini diulang dan dibahas dari berbagai sudut pandang (sekitar 90 ayat dari 286), menjadikannya surah yang paling kaya akan detail mengenai interaksi antara Allah dan kaum yang diberikan Taurat ini.
- Kisah Sapi Betina (Al-Baqarah): Kisah sentral yang memberikan nama surah ini, ditemukan dalam ayat 2:67-73, menggambarkan sikap keras kepala, keraguan, dan penundaan Bani Israil dalam menaati perintah Allah, bahkan dalam kasus yang sederhana seperti penyembelihan sapi. Penjelasan detail tentang persyaratan sapi tersebut (warna, umur, fungsi) menunjukkan sifat literalistik dan kerumitan hukum yang mereka tuntut, yang kemudian menjadi pelajaran abadi bagi umat Muhammad tentang pentingnya ketaatan tanpa syarat.
- Pelanggaran Perjanjian: Surah ini menceritakan berbagai pelanggaran Bani Israil, mulai dari penyembahan anak sapi emas, penolakan memasuki kota suci, hingga pembangkangan terhadap manna dan salwa. Pengulangan kisah-kisah ini dalam konteks yang berbeda dalam Al-Baqarah, seperti penolakan janji dan pengingkaran terhadap kenikmatan, berfungsi sebagai peringatan bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan serupa. Narasi panjang ini, yang tersebar di puluhan ayat, adalah salah satu alasan utama mengapa surah ini mencapai 286 ayat.
3. Perumusan Hukum dan Syariat (Ayat Fiqh)
Al-Baqarah adalah gudang hukum Islam (fiqh). Banyak ayat yang menjadi sumber utama hukum syariat ditemukan di sini. Intensitas legislasi inilah yang paling memengaruhi panjangnya surah ini.
Ayat-Ayat Hukum yang Krusial:
Ayat 282: Ayat Hutang (Ayat Ad-Dayn)
Dari 286 ayat yang ada, Ayat 282 adalah yang terpanjang dalam seluruh Al-Qur'an. Ayat ini, yang mengatur secara rinci tata cara pencatatan hutang piutang, saksi, dan jaminan, sendiri terdiri dari lebih dari 100 kata. Kedalaman detailnya mencerminkan pentingnya menjaga keadilan ekonomi dan sosial dalam Islam. Ayat ini membahas: kewajiban mencatat hutang, peran juru tulis yang adil, syarat-syarat saksi (dua laki-laki atau satu laki-laki dan dua perempuan), dan pengecualian untuk transaksi tunai. Analisis tata bahasa dan hukum yang melekat pada Ayat Ad-Dayn sendiri memerlukan berlembar-lembar penjelasan tafsir, menyumbang porsi besar dari total konten Al-Baqarah.
Hukum Puasa (Ayat 183-187)
Ayat-ayat ini merinci kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, pengecualian bagi orang sakit dan musafir, serta ketentuan membayar fidyah. Penjelasan yang runtut dan bertahap tentang puasa ini, yang mencakup aspek ibadah dan kemanusiaan, menunjukkan Surah Al-Baqarah adalah tempat di mana perintah fundamental ibadah diformalkan.
Hukum Haji dan Umrah (Ayat 196-203)
Surah ini juga membahas detail praktis dari ibadah haji, termasuk larangan dan kebolehan, serta tata cara pelaksanaan yang aman dan sah. Perumusan hukum yang terstruktur membutuhkan ayat-ayat yang panjang dan presisi, sehingga menambah panjang surah tersebut menjadi 286 ayat.
Hukum Keluarga dan Perceraian (Ayat 221-242)
Bagian ini sangat luas, mencakup hukum pernikahan, mahar, masa iddah (penantian setelah cerai), hak-hak istri yang diceraikan, dan tanggung jawab mantan suami. Ayat-ayat perceraian dalam Al-Baqarah memberikan pedoman etis dan hukum yang mendalam untuk memastikan bahwa kedua belah pihak diperlakukan secara adil dan bermartabat, sebuah kompleksitas hukum yang memerlukan banyak ayat untuk dijelaskan secara tuntas.
4. Ayat Kursi: Mahkota dari 286 Ayat
Di antara 286 ayat Al-Baqarah, Ayat 255—yang dikenal sebagai Ayat Al-Kursi—memiliki kedudukan paling mulia. Para ulama menyebutnya sebagai ayat teragung dalam Al-Qur'an. Ayat ini, meskipun tidak terpanjang dari segi kata-kata, adalah yang paling padat maknanya mengenai sifat-sifat keesaan, kekuasaan, dan keagungan Allah SWT.
Inti dari 286 ayat ini terangkum dalam Ayat Kursi, yang menjelaskan bahwa Allah Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, tidak mengantuk, tidak tidur, memiliki segala sesuatu di langit dan di bumi, dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu kecuali yang Dia kehendaki untuk disingkapkan. Penempatan Ayat Kursi di tengah-tengah surah yang monumental ini menegaskan bahwa fondasi segala hukum dan kisah yang diuraikan sebelumnya adalah keyakinan total pada Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alt: Ilustrasi Kitab Suci Al-Qur'an yang Terbuka, melambangkan kekayaan kandungan Al-Baqarah.
Eksplorasi Ekstensif Kandungan dalam 286 Ayat
Untuk memahami mengapa Al-Baqarah memerlukan 286 ayat, kita perlu melihat bagaimana surah ini mengintegrasikan tema-tema besar, bergerak secara mulus dari spiritualitas individual ke struktur masyarakat dan negara. Setiap ayat, baik itu yang bersifat naratif maupun normatif, berfungsi sebagai batu bata dalam pembangunan fondasi umat Islam yang baru.
I. Hukum Waris, Wasiat, dan Filantropi
Salah satu alasan signifikan mengapa jumlah ayat Al-Baqarah mencapai 286 adalah karena surah ini menyediakan rincian awal mengenai distribusi kekayaan dan kewajiban sosial. Ayat-ayat tentang wasiat (2:180) menunjukkan pentingnya perencanaan harta sebelum wafat. Lebih lanjut, konsep infak dan sedekah (2:261-274) dibahas dengan intensitas luar biasa. Allah memberikan perumpamaan yang mendalam tentang pahala infak, membandingkannya dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir memiliki seratus biji.
Pengulangan perumpamaan ini dan penekanan pada keikhlasan dalam berinfak (bukan riya’ atau mengungkit pemberian) membutuhkan beberapa ayat untuk secara menyeluruh mendidik umat tentang etika harta. Ayat-ayat ini juga secara tegas mengharamkan riba (bunga), yang merupakan inti dari sistem ekonomi yang adil. Mengharamkan riba (2:275-280) adalah keputusan hukum yang revolusioner, dan untuk meyakinkan komunitas, penjelasan yang rinci dan peringatan yang keras—termasuk menyatakan perang dari Allah dan Rasul-Nya terhadap pelaku riba—disajikan dalam beberapa ayat berurutan, memastikan tidak ada ruang untuk keraguan dalam penerapan syariat ini.
II. Kisah Nabi Adam A.S. dan Konsep Khilafah
Meskipun kisah Adam (Adam A.S.) juga ada di surah lain, Al-Baqarah menyajikan kisah penciptaan manusia (2:30-39) dalam konteks pengangkatan manusia sebagai khalifah di bumi. Dialog antara Allah dan para malaikat mengenai penunjukan khalifah, serta pengajaran nama-nama, adalah narasi teologis yang sangat kaya.
Bagian ini menetapkan peran fundamental manusia di alam semesta. Detail tentang bagaimana setan (Iblis) menolak sujud, kejatuhan Adam, dan pengajaran tentang taubat (penyesalan) semua diuraikan secara ringkas namun padat makna. Keberadaan kisah fondasional ini di awal Al-Baqarah, sebelum membahas Bani Israil dan hukum Islam, menunjukkan bahwa 286 ayat ini dirancang untuk mendasari misi manusia di bumi sebelum menetapkan tata cara mereka menjalankan misi tersebut.
III. Isu Qiblat dan Transformasi Ibadah
Perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis (Yerusalem) ke Ka’bah di Makkah adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang diabadikan dalam ayat 2:142-150. Peristiwa ini bukan hanya perubahan arah fisik, melainkan ujian keimanan dan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Al-Baqarah mencurahkan banyak ayat untuk menjelaskan latar belakang, justifikasi, dan hikmah di balik perubahan ini. Panjangnya ayat-ayat ini diperlukan untuk menanggapi kritik dari kaum musyrik Makkah dan keraguan dari Bani Israil, yang melihat Ka’bah sebagai penyimpangan dari tradisi kenabian mereka.
Ayat-ayat ini menekankan bahwa Timur dan Barat adalah milik Allah, dan yang terpenting adalah ketaatan kepada perintah-Nya. Penjelasan yang terperinci ini, yang mencakup penegasan kenabian dan validitas kiblat baru, memerlukan ruang teks yang substansial, yang secara langsung menyumbang pada angka 286 ayat.
IV. Jihad dan Pertahanan Diri
Sebagai surah Madaniyah, Al-Baqarah juga mengatur hukum perang dan pertahanan diri (jihad). Ayat-ayat 2:190-195 memberikan kerangka etis bagi peperangan—menekankan bahwa perang hanya diizinkan untuk melawan pihak yang menyerang dan melarang melampaui batas (berlebihan). Aturan tentang kapan harus berperang, bagaimana memperlakukan tawanan, dan pentingnya kesiapan logistik dan spiritual diuraikan di sini.
Penetapan aturan yang sangat spesifik ini—seperti larangan perang selama bulan-bulan haram kecuali jika diserang—memerlukan formulasi hukum yang eksplisit dan tidak ambigu. Karena sifatnya yang sensitif dan konsekuensinya yang besar terhadap nyawa manusia, hukum-hukum perang ini disajikan dengan detail, menjamin bahwa dari 286 ayat, beberapa porsi signifikan didedikasikan untuk memastikan keadilan bahkan di tengah konflik bersenjata.
Penutup: Keutamaan Membaca 286 Ayat Al-Baqarah
Pemahaman mengenai ada berapa ayat Surah Al-Baqarah—yaitu 286 ayat—semestinya memicu apresiasi yang lebih dalam terhadap kedudukan surah ini. Al-Baqarah bukan hanya surah terpanjang; ia adalah inti dari ajaran praktis Islam.
Fadhilah (Keutamaan Spiritual)
Nabi Muhammad SAW secara khusus menekankan keutamaan membaca Al-Baqarah. Diriwayatkan bahwa rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah tidak akan dimasuki setan. Ini menunjukkan fungsi perlindungan spiritual yang inheren dalam 286 ayat tersebut.
- Pelindung dari Setan: Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian kuburan (sepi dari bacaan Al-Qur'an). Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surah Al-Baqarah."
- Syafaat di Hari Kiamat: Al-Baqarah, bersama dengan Surah Ali Imran, disebut sebagai "Az-Zahrawain" (Dua yang bercahaya). Keduanya akan datang pada hari kiamat laksana dua awan atau dua naungan, memberikan pembelaan bagi pembacanya.
- Harta Karun Tersembunyi: Dua ayat terakhir dari 286 ayat ini (2:285-286), yang dikenal sebagai 'Amanar Rasul', memiliki keutamaan khusus. Barangsiapa membacanya pada malam hari, cukuplah baginya (sebagai perlindungan dari segala keburukan dan sebagai pengganti shalat malam). Ayat-ayat penutup ini merangkum esensi ketaatan, kepasrahan, dan permohonan keringanan dari beban yang tidak tertanggungkan.
Kesimpulan dari kajian mendalam ini adalah bahwa jumlah 286 ayat Al-Baqarah adalah manifestasi dari kesempurnaan dan kelengkapan ajaran yang dibawa oleh Al-Qur'an untuk mengatur seluruh spektrum kehidupan manusia, dari keyakinan terdalam hingga transaksi ekonomi yang paling rinci. Mempelajari dan mengamalkan setiap dari 286 ayat tersebut adalah jalan menuju kehidupan yang sesuai dengan petunjuk Ilahi.
Penegasan Ulang Jumlah Ayat
Mengakhiri diskusi komprehensif ini, kita kembali menegaskan jawaban atas pertanyaan mendasar: jumlah ayat Surah Al-Baqarah adalah Dua Ratus Delapan Puluh Enam (286) ayat, sebuah jumlah yang melambangkan kekayaan hukum, keindahan kisah, dan keagungan teologis yang terkandung di dalamnya. Surah ini tetap menjadi pilar utama dalam pemahaman dan praktik Islam sepanjang masa.
Setiap Muslim didorong untuk tidak hanya mengetahui angkanya, tetapi yang lebih penting, untuk merenungkan makna dari setiap ayat tersebut. Dari ‘Alif Lam Mim’ yang misterius hingga permohonan ampunan ‘Rabbana la tu'akhizna’, Surah Al-Baqarah menyediakan panduan lengkap bagi umat manusia.
Eksplorasi Tambahan: Detail Hukum dan Etika dalam 286 Ayat
Struktur Surah Al-Baqarah yang berjumlah 286 ayat dirancang sedemikian rupa sehingga ia mampu menampung pembahasan yang sangat beragam tanpa kehilangan fokus pada tujuan utamanya: membangun umat yang bertakwa. Kita akan meninjau lebih jauh detail-detail spesifik yang menyumbang pada panjangnya surah ini.
V. Larangan Minuman Keras dan Judi (Pengantar Hukum Sosial)
Meskipun pengharaman total khamr (minuman keras) dan perjudian disempurnakan dalam Surah Al-Ma'idah, Al-Baqarah telah meletakkan dasar-dasar etika sosial ini. Ayat 219 membahas kedua isu ini sebagai dosa besar, meskipun ada manfaatnya (dalam konteks ekonomi atau sosial masyarakat jahiliyah), namun mudaratnya jauh lebih besar. Penetapan tahapan hukum ini adalah ciri khas Al-Qur'an Madaniyah, yang mana Al-Baqarah adalah representasi utamanya. Kebutuhan untuk menjelaskan rasionalitas di balik pengharaman ini memerlukan formulasi ayat yang jelas, menambah beban informatif surah yang mencapai 286 ayat.
VI. Kesempurnaan Akhlak dan Muamalah
Ayat-ayat mengenai muamalah (interaksi sosial dan ekonomi) dalam Al-Baqarah adalah yang paling rinci. Misalnya, ketika membahas tentang hutang (Ayat Ad-Dayn, 2:282), Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan pencatatan, tetapi juga mengajarkan akhlak dalam berinteraksi: jangan merugikan juru tulis atau saksi, dan jika salah satu pihak sedang dalam kesulitan ekonomi, berilah tangguh hingga ia mampu membayar. Etika ini disajikan dalam susunan kata yang teliti, memastikan bahwa hukum tidak hanya diterapkan secara kaku tetapi juga dengan penuh kasih sayang dan keadilan. Keseimbangan antara hukum formal dan etika inilah yang menyebabkan ayat-ayat terkait menjadi panjang dan detail.
VII. Peran Wanita dalam Masyarakat Madaniyah
Surah Al-Baqarah mendedikasikan porsi yang besar, dari total 286 ayat, untuk mengklarifikasi hak dan kewajiban wanita, terutama dalam konteks pernikahan, perceraian, dan hak waris (meskipun detail waris lengkap di Surah An-Nisa'). Hukum talak (perceraian) dijelaskan secara bertahap (talak raj’i dan talak ba’in), termasuk hukum Khulu’ (gugatan cerai oleh istri), serta hak nafkah dan mut’ah (pemberian kenang-kenangan). Sebelum Islam, wanita sering diperlakukan tidak adil dalam masalah perceraian. Al-Baqarah, melalui ayat-ayatnya yang panjang, memulihkan martabat wanita dan menetapkan hak-hak mereka di bawah Syariat Ilahi.
VIII. Pelajaran dari Ujian Nabi Ibrahim A.S.
Di antara 286 ayat tersebut, kisah Nabi Ibrahim (Ibrahim A.S.) juga diceritakan. Ibrahim adalah sosok sentral karena ia adalah penghubung antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Al-Baqarah menceritakan bagaimana Ibrahim diuji oleh Allah dan bagaimana ia berdoa agar keturunannya menjadi umat yang berserah diri (2:124-129). Kisah pembangunan Ka’bah oleh Ibrahim dan Ismail juga ditekankan di sini, yang berfungsi sebagai justifikasi teologis atas perubahan kiblat yang telah dibahas sebelumnya. Penggunaan kisah Ibrahim sebagai legitimasi Ka’bah menambah dimensi historis dan teologis yang memperkuat konstruksi 286 ayat Al-Baqarah.
IX. Penutup Surah: Doa Universal Umat Mukmin
Ayat terakhir Al-Baqarah (2:286) adalah doa yang sangat penting: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah...” Doa ini, yang merupakan salah satu dari 286 ayat, mewakili kesadaran umat Muslim akan kelemahan manusia. Setelah menerima beban hukum yang begitu berat dan mendalam melalui 285 ayat sebelumnya, Allah menutup surah ini dengan janji rahmat dan keringanan, sebuah kesimpulan yang sempurna secara spiritual dan hukum.
Dengan demikian, Surah Al-Baqarah, dengan total 286 ayatnya, bukan sekadar kompilasi perintah dan larangan. Ia adalah sebuah peta jalan peradaban yang dibangun di atas akidah murni, disokong oleh sejarah kenabian, dan dilindungi oleh sistem hukum yang adil dan berbelas kasih. Jumlah ayat ini adalah bukti fisik dari kelengkapan dan keutuhan ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di periode Madinah.
X. Kedalaman Linguistik Ayat-Ayat Al-Baqarah
Faktor lain yang menjelaskan mengapa Al-Baqarah terdiri dari 286 ayat adalah kedalaman linguistiknya yang luar biasa. Banyak ayat dalam surah ini menggunakan struktur gramatikal yang kompleks dan kosakata yang kaya untuk menyampaikan nuansa hukum dan etika. Sebagai contoh, perhatikan bagaimana ayat-ayat tentang riba (2:275) menggunakan metafora tentang orang yang berdiri seolah-olah dirasuki setan, sebuah gambaran visual dan psikologis yang kuat. Untuk menguraikan perumpamaan, hukum, dan peringatan eskatologis yang berlapis ini secara efektif, diperlukan jumlah ayat yang banyak. Kepadatan makna ini memastikan bahwa 286 ayat mampu menampung materi yang oleh kitab-kitab lain mungkin memerlukan volume yang jauh lebih tebal.
Keakuratan dan ketelitian dalam pemilihan kata di setiap ayat Al-Baqarah memastikan bahwa hukum yang ditetapkan bersifat abadi dan universal, sebuah tanggung jawab besar yang memerlukan ruang teks yang memadai. Setiap dari 286 ayat tersebut merupakan unit instruksi yang sempurna, baik dalam bentuk narasi, peringatan, atau penetapan syariat.