Struktur pembagian Kitab Suci Al-Qur'an.
Al-Qur'an, sebagai mukjizat abadi dan sumber utama pedoman bagi umat Islam, memiliki struktur yang sangat terorganisir. Pemahaman tentang pembagian ini—yaitu juz, surah, dan ayat—bukan hanya sekadar pengetahuan angka, tetapi kunci untuk memahami bagaimana umat Islam berinteraksi dengan wahyu, baik dalam konteks tilawah (membaca), hifz (menghafal), maupun tafsir (penafsiran). Pertanyaan mendasar tentang berapa jumlah juz, surah, dan ayat seringkali muncul, dan meskipun jumlah surah dan juz relatif konsisten, jumlah ayat seringkali memunculkan diskusi akademik yang menarik dan mendalam.
Artikel ini akan mengupas tuntas setiap lapisan struktur Al-Qur'an, memberikan angka-angka definitif yang diterima secara mayoritas, menjelaskan perbedaan metodologi penghitungan ayat yang muncul dari berbagai madzhab Qira’ah, serta menilik klasifikasi internal lain yang digunakan dalam tradisi keilmuan Islam, seperti Manzil, Hizb, dan Ruku'.
Secara umum, Al-Qur'an dibagi menjadi tiga tingkat hierarki utama, dari unit terbesar hingga unit terkecil:
Angka-angka berikut adalah standar yang digunakan dalam hampir semua Mushaf (cetakan Al-Qur'an) di seluruh dunia, terutama yang mengikuti riwayat Hafs 'an 'Asim (standar Mesir dan Timur Tengah):
Surah adalah unit utama dalam Al-Qur'an. Setiap Surah, kecuali Surah At-Taubah (Surah ke-9), dimulai dengan Basmalah (بسم الله الرحمن الرحيم - Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Surah pertama adalah Al-Fatihah, dan yang terakhir adalah An-Nas.
Secara tradisional, 114 Surah diklasifikasikan berdasarkan apakah Surah tersebut diturunkan sebelum atau sesudah Hijrah (perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah). Meskipun ada beberapa perselisihan mengenai lokasi penurunan beberapa Surah tertentu, klasifikasi umumnya adalah:
Para ulama juga membagi Surah berdasarkan panjangnya, yang memengaruhi bagaimana mereka diposisikan dalam mushaf. Pembagian ini dikenal sebagai Al-Suwar (Surah-surah):
Ini adalah tujuh Surah pertama setelah Al-Fatihah, yang memiliki ayat sangat banyak dan tema yang luas. Surah-surah ini adalah Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa’, Al-Ma’idah, Al-An’am, Al-A’raf. Surah ketujuh diperdebatkan antara Al-Anfal/At-Taubah atau Yunus.
Surah yang jumlah ayatnya sekitar 100 ayat atau sedikit lebih. Contohnya seperti Surah Hud dan Yusuf.
Surah yang jumlah ayatnya kurang dari seratus. Surah-surah ini disebut Matsani karena sering diulang-ulang dalam bacaan dan mengandung pelajaran yang sebanding dengan Mi’un.
Dimulai dari Surah Qaf atau Surah Al-Hujurat hingga Surah An-Nas. Surah-surah ini ditandai dengan pemisahan (fasl) yang sering antara satu Surah dengan Surah berikutnya, yang membuatnya mudah untuk dibaca dan dibedakan. Al-Mufassal ini kemudian dibagi lagi menjadi Tiwal Al-Mufassal (panjang), Awsat Al-Mufassal (sedang), dan Qisar Al-Mufassal (pendek).
Pembagian Al-Qur'an menjadi 30 Juz merupakan pembagian buatan manusia (bukan wahyu) yang bertujuan semata-mata untuk memudahkan pembacaan atau khataman dalam periode waktu tertentu, biasanya satu bulan (seperti selama bulan Ramadhan). Setiap Juz idealnya memiliki panjang yang relatif sama.
Setiap Juz dibagi lagi menjadi unit yang lebih kecil untuk mengatur pembacaan harian:
Setiap Juz dibagi menjadi dua Hizb, sehingga total ada 60 Hizb dalam Al-Qur'an. Ini memungkinkan pembacaan seluruh Al-Qur'an dalam 60 hari.
Ruku' adalah pembagian yang lebih kecil dari Hizb, ditandai dengan tanda khusus dalam Mushaf. Ruku’ menandai unit tematik dalam Surah, yang idealnya diakhiri ketika tema pembahasan berpindah atau mencapai kesimpulan ringkas. Dalam tradisi India/Pakistan, jumlah Ruku’ dihitung secara ketat, sementara dalam tradisi Timur Tengah, tanda Ruku’ mungkin kurang menonjol, namun konsep pembagian tematik tetap ada.
Mengetahui Surah dan ayat awal setiap Juz sangat penting bagi penghafal dan pembaca. Berikut adalah daftar 30 Juz beserta Surah awal dan akhirnya:
Juz 30 (Juz Amma) secara khusus paling sering dipelajari dan dihafal karena berisi mayoritas Surah-surah pendek, yang mudah dibaca dalam salat.
Ayat adalah unit terkecil dari wahyu. Kata ‘ayat’ berarti ‘tanda’, menunjukkan bahwa setiap kalimat atau frasa Al-Qur'an adalah tanda dari kebesaran Allah SWT. Namun, jika kita berbicara tentang ayat, kita memasuki ranah keilmuan Al-Qur'an yang sangat spesifik, yaitu 'Ilmu Adad Al-Ayat (Ilmu Penghitungan Ayat).
Meskipun teks Al-Qur'an (huruf dan kata-kata) sama di seluruh dunia—berdasarkan Mushaf Utsmani—jumlah ayat yang tercantum di akhir setiap kalimat dapat bervariasi. Perbedaan ini bukan karena ada teks yang hilang atau ditambahkan, melainkan karena perbedaan penetapan batas akhir ayat (Fawasil) oleh para ahli qira’ah di kota-kota utama Islam.
Perbedaan penghitungan ini muncul dari tradisi penetapan Fawasil (titik akhir ayat) yang didasarkan pada transmisi lisan dari Nabi Muhammad SAW. Terkadang, Rasulullah berhenti di akhir kalimat untuk bernapas atau merenung, yang oleh sebagian Sahabat dianggap sebagai akhir ayat, sementara yang lain melihatnya hanya sebagai jeda bacaan.
Ada enam madzhab utama dalam penghitungan ayat (Adad Al-Ayat), yang secara kolektif disebut Ahlu Al-Add. Variasi ini menghasilkan total jumlah ayat yang berbeda:
Penting: Jumlah 6.236 ayat (Madzhab Kufi) adalah yang paling dominan digunakan dalam Mushaf saat ini. Ini terkait erat dengan Qira'ah Hafs 'an 'Asim, yang merupakan standar cetakan mushaf di sebagian besar dunia Islam (termasuk Indonesia, Mesir, dan Saudi Arabia).
Salah satu sumber utama perbedaan dalam penghitungan ayat adalah status Basmalah (بسم الله الرحمن الرحيم):
Variasi ini menunjukkan kekayaan tradisi lisan dan kehati-hatian para ulama dalam mencatat transmisi Al-Qur'an secara tepat. Walaupun angka totalnya berbeda, semua ulama sepakat bahwa tidak ada satu huruf pun dari teks Al-Qur'an yang berbeda.
Selain Juz, Surah, dan Ayat, Al-Qur'an juga memiliki sistem pembagian lain yang digunakan untuk tujuan spesifik, terutama dalam ritual dan hafalan.
Manzil adalah pembagian Al-Qur'an menjadi tujuh bagian yang hampir sama panjang, dirancang agar seseorang dapat menyelesaikan (khatam) seluruh Al-Qur'an dalam satu minggu. Ini adalah praktik umum di kalangan Sahabat Nabi. Tujuh Manzil tersebut dikenal sebagai *‘Auwalus Suwar* (permulaan Surah-surah) yang dimulai pada hari Ahad:
Pembagian Manzil ini lebih tua daripada pembagian 30 Juz dan masih relevan bagi mereka yang ingin menjaga konsistensi bacaan mingguan.
Dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat tertentu yang ketika dibaca (baik dalam salat maupun di luar salat) disunnahkan untuk melakukan sujud (Sujud Tilawah). Jumlah ayat sajdah ini adalah 15 ayat, meskipun ada perbedaan pendapat mengenai Surah Sad (38:24) apakah termasuk sajdah wajib atau sajdah syukur.
Kelima belas ayat sajdah tersebut tersebar di Surah-surah berikut: Al-A'raf, Ar-Ra’d, An-Nahl, Al-Isra’, Maryam, Al-Hajj (dua kali), Al-Furqan, An-Naml, As-Sajdah, Fussilat, An-Najm, Al-Insyiqaq, dan Al-‘Alaq.
Pembagian dan penomoran ayat bukanlah sesuatu yang instan; ia melewati proses sejarah yang panjang, dimulai dari masa Nabi hingga era kodifikasi Mushaf Utsmani dan standarisasi bacaan di masa Abbasiyah.
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, teks Al-Qur'an distandarisasi dan disalin menjadi beberapa Mushaf yang dikirim ke pusat-pusat Islam utama (Mekah, Madinah, Syam, Kufah, dan Basra). Teks ini—yang dikenal sebagai Rasm Utsmani—hanya berisi konsonan tanpa tanda baca atau vokal. Hal ini memungkinkan sedikit variasi dalam bacaan (Qira’ah), tetapi memastikan bahwa teks inti Al-Qur'an tetap sama di seluruh dunia.
Namun, Mushaf Utsmani asli belum memiliki penanda Juz, Hizb, atau bahkan penomoran ayat. Penomoran ini baru ditambahkan kemudian, setelah terjadi penyebaran Islam yang luas dan kebutuhan untuk membantu pembaca non-Arab dan penghafal.
Penomoran ayat dan penentuan Fawasil (titik akhir ayat) menjadi pekerjaan yang dilakukan oleh generasi tabi’in (pengikut Sahabat) di setiap pusat kota. Karena mereka belajar dari Sahabat yang berbeda-beda, muncul enam madzhab penghitungan yang disebutkan di atas. Misalnya, masyarakat Kufah belajar dari Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud, yang cara berhentinya dalam membaca (yang menentukan akhir ayat) cenderung berbeda dari tradisi yang dipelajari oleh penduduk Madinah atau Syam.
Akhirnya, pada era modern, Mushaf standar yang dicetak oleh Raja Fuad I di Mesir pada tahun 1924, mengikuti riwayat Hafs 'an 'Asim dan perhitungan Al-Add Al-Kufi (6.236 ayat), menjadi standar global yang kini dikenal oleh mayoritas umat Islam.
Pembagian Al-Qur'an menjadi Juz, Surah, Ayat, dan Hizb memiliki implikasi praktis yang besar dalam ibadah dan pendidikan Islam.
Pembagian Juz dan Hizb sangat memfasilitasi proses menghafal. Seorang penghafal (hafiz) seringkali menetapkan target harian, seperti menghafal satu halaman (setengah Hizb), atau menargetkan penyelesaian satu Juz per bulan. Format Mushaf modern seringkali dirancang sedemikian rupa sehingga setiap Juz memiliki panjang yang sama, memudahkan pembacaan dan hafalan.
Selain itu, pembagian Ruku’ membantu penghafal mengidentifikasi di mana jeda tematik utama terjadi, sehingga memudahkan pengambilan nafas dan pemahaman konteks sebelum melanjutkan.
Pembagian 30 Juz memainkan peran sentral selama bulan Ramadhan. Hampir semua masjid di seluruh dunia menargetkan menyelesaikan seluruh Al-Qur'an (khataman) dalam salat Tarawih, dengan membaca satu Juz setiap malam selama 30 malam. Hal ini menjadikan Juz sebagai unit waktu dan volume bacaan yang sangat praktis dan diakui secara universal.
Bagi ulama dan penganut Tarekat (Sufisme), pembagian Manzil tetap penting untuk menjaga wirid (bacaan harian) mingguan. Dengan pembagian tujuh ini, disiplin spiritual dalam berinteraksi dengan wahyu dapat dipertahankan secara konsisten, memastikan Al-Qur'an dibaca dan direnungkan secara menyeluruh setiap tujuh hari.
Untuk menyimpulkan pertanyaan mendasar mengenai jumlah dalam Al-Qur'an, kita kembali pada angka-angka definitif yang diterima secara umum, sambil memahami nuansa akademisnya:
Visualisasi struktur numerik utama Al-Qur'an.
Jumlah surah dan juz adalah angka yang absolut dan tidak diperdebatkan dalam tradisi Islam mana pun: 114 Surah dan 30 Juz.
Adapun jumlah ayat, meskipun terdapat perbedaan akademis yang didasarkan pada transmisi Fawasil (titik akhir ayat), angka yang paling umum digunakan dan tertulis dalam hampir semua mushaf modern adalah 6.236 ayat, berdasarkan tradisi penghitungan Kufi. Penting untuk ditekankan sekali lagi bahwa perbedaan ini tidak memengaruhi teks Al-Qur'an itu sendiri, melainkan hanya titik di mana penanda ayat diletakkan.
Struktur yang rapi dan terbagi-bagi ini adalah cerminan dari kesempurnaan Al-Qur'an sebagai sebuah kitab. Ia dirancang untuk dibaca, dihafal, dan dipelajari, dengan setiap unit—dari Juz yang besar hingga Ayat yang terkecil—memiliki peran penting dalam memandu kehidupan Muslim.
Untuk memahami sepenuhnya mengapa angka 6.236 menjadi standar, kita perlu menyelami lebih dalam ke masa setelah wafatnya Sahabat besar yang menjadi rujukan. Setelah Mushaf Utsmani disebar, generasi Tabi’in mengambil peran untuk mengajarkan Al-Qur’an di kota-kota tersebut. Setiap guru di kota tersebut memiliki cara penyampaian dan penandaan titik berhenti yang ia terima dari Sahabat. Inilah cikal bakal Ilmu Adad Al-Ayat.
Empat Sahabat utama dikenal memiliki kontribusi signifikan dalam tradisi Fawasil yang diturunkan: Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud (keduanya berpengaruh di Kufah), Ubay bin Ka’b (berpengaruh di Madinah), dan Abdullah bin Abbas (berpengaruh di Mekah). Misalnya, penentuan batas ayat oleh Ibnu Mas’ud cenderung lebih rinci, yang berkontribusi pada jumlah ayat yang lebih tinggi di madzhab Kufi.
Ambil contoh Surah Al-Baqarah (Surah terpanjang). Di Madzhab Kufi, Surah ini memiliki 286 ayat. Namun, di Madzhab Syami (Damaskus) yang mengikuti bacaan Abdullah bin Amir, Surah Al-Baqarah hanya memiliki 283 ayat. Tiga ayat yang hilang secara numerik bukan berarti teksnya hilang, melainkan tiga tempat yang di Kufah dianggap akhir ayat, di Syam dianggap sebagai bagian tengah dari satu ayat yang lebih panjang.
Meskipun semua madzhab sepakat bahwa Al-Fatihah memiliki tujuh ayat, mereka berbeda pendapat mengenai ayat mana yang dihitung sebagai ayat pertama.
Meskipun perbedaan ini terasa detail, ia menunjukkan betapa telitinya para ulama awal dalam mempertahankan setiap transmisi yang mereka terima, bahkan jika itu hanya berkaitan dengan titik henti (Fawasil).
Meskipun pembagian Juz bersifat artifisial, banyak ulama modern yang mencoba menemukan korelasi antara tema sentral Al-Qur'an dengan pembagian Juz, khususnya dalam kaitannya dengan perkembangan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Sepuluh Juz pertama (terutama Juz 1-8) didominasi oleh Surah-surah Madaniyah yang panjang (Al-Baqarah, Ali 'Imran, An-Nisa', Al-Ma’idah, Al-An’am, Al-A’raf). Bagian ini fokus pada peletakan dasar-dasar masyarakat Muslim, termasuk hukum waris, pernikahan, puasa, haji, dan polemik dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Juz-juz ini membentuk kerangka operasional umat Islam di Madinah.
Juz 11 hingga Juz 20 seringkali dipenuhi dengan kisah-kisah Nabi terdahulu (Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Yusuf) yang bertujuan untuk menguatkan hati Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat. Surah-surah seperti Hud, Yusuf, Al-Kahf, dan Taha menunjukkan universalitas pesan Islam dan konsistensi perlawanan yang dihadapi para Rasul. Bagian ini memperkuat akidah di tengah kesulitan.
Juz 21 hingga 27 seringkali mengulas tentang hari kiamat, tauhid murni, dan keindahan alam semesta sebagai bukti kekuasaan Allah (misalnya Surah Ar-Rum, Luqman, Yasin, dan Ash-Shaffat). Puncaknya, Juz 28, 29, dan 30 (Juz Amma) didominasi oleh Surah-surah Makkiyah pendek yang fokus pada sumpah dramatis (qasam), peringatan keras tentang Hari Kebangkitan, dan penetapan moralitas dasar. Surah-surah ini padat, ringkas, dan sangat efektif untuk menanamkan rasa takut dan harapan kepada Allah.
Meskipun fokus utama adalah Juz, Surah, dan Ayat, perlu dicatat bahwa beberapa tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam konteks keutamaan (fadhilah) dan statistik, juga mencatat jumlah total kata dan huruf dalam Al-Qur'an. Angka-angka ini bervariasi tergantung metode penghitungan (terutama dalam membedakan huruf Alif dari Lam), namun memberikan gambaran tentang betapa masifnya teks suci ini.
Angka-angka ini sering digunakan untuk memotivasi umat Muslim agar meluangkan waktu untuk membaca, karena setiap huruf yang dibaca dijanjikan pahala berlipat ganda oleh Allah SWT.
Untuk melengkapi pemahaman struktur Al-Qur'an, ada beberapa istilah teknis yang harus dipahami, terutama oleh para penghafal dan Qari (pembaca):
Huruf-huruf Muqatta’at adalah kombinasi satu hingga lima huruf Arab yang terpisah, yang muncul di awal 29 Surah (misalnya Alif Lam Mim, Ha Mim, Kaf Ha Ya ‘Ain Shad). Para ulama sepakat bahwa arti sebenarnya dari huruf-huruf ini hanya diketahui oleh Allah (Mutasyabihat), meskipun telah banyak upaya tafsir. Huruf-huruf ini dianggap sebagai ayat tersendiri dalam sebagian besar madzhab penghitungan, menambah kompleksitas numerik.
Sebutan ini diberikan kepada Surah Al-Fatihah, berdasarkan hadits Nabi yang menyebutkan bahwa Surah tersebut adalah tujuh ayat yang diulang-ulang. Meskipun Al-Fatihah hanya terdiri dari tujuh ayat, ia memiliki kedudukan unik sebagai Surah pembuka yang wajib dibaca dalam setiap rakaat salat, menekankan fungsi penting ayat-ayat pendek sebagai inti spiritual.
Secara tematik, para fukaha (ahli hukum Islam) mengidentifikasi Ayat Ahkam, yaitu ayat-ayat yang berisi perintah, larangan, atau prinsip-prinsip syariat. Meskipun sulit ditentukan jumlah pastinya karena tergantung definisi hukum, perkiraan umum adalah sekitar 500 Ayat Ahkam, yang tersebar terutama di Juz-juz awal dan tengah yang Madaniyah (misalnya Surah Al-Baqarah, An-Nisa, Al-Ma'idah).
Struktur Al-Qur'an yang terdiri dari 30 Juz, 114 Surah, dan lebih dari 6.200 Ayat merupakan manifestasi dari organisasi ilahiah yang memudahkan umat manusia untuk berinteraksi dengan firman Tuhan. Pembagian Juz dan Hizb memungkinkan disiplin dalam tilawah. Pembagian Surah memungkinkan fokus pada tema-tema tematik tertentu. Dan penomoran Ayat—meskipun memiliki variasi yang halus antar madzhab—memastikan transmisi teks suci ini terjaga dengan akurat, huruf demi huruf.
Pemahaman mengenai ada berapa juz, surat, dan ayat dalam Al-Qur'an membawa kita pada apresiasi yang lebih besar terhadap warisan keilmuan Islam, di mana setiap penanda dan angka memiliki sejarah transmisi dan pemeliharaan yang ketat selama lebih dari empat belas abad.
Akhir dari Kajian Struktural Al-Qur'an