Bambu, tanaman yang dikenal karena kecepatan pertumbuhannya dan kekuatannya, memiliki sistem perakaran yang sangat khas dan seringkali menjadi subjek perdebatan, terutama bagi mereka yang ingin menanam atau mengendalikan penyebarannya. Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: apakah akar bambu serabut atau akar bambu tunggang?
Untuk menjawabnya secara akurat, kita harus memahami bahwa secara umum, bambu termasuk dalam kelompok tanaman monokotil. Dalam klasifikasi botani, sebagian besar tanaman monokotil memiliki sistem perakaran serabut (fibrous root system). Namun, bambu menampilkan kompleksitas tersendiri.
Sistem Akar Bambu: Serabut yang Menyebar Luas
Mayoritas spesies bambu, terutama bambu yang tumbuh secara invasif atau "menggeliat" (clumping bamboos), memang didominasi oleh akar bambu serabut. Akar serabut ini tidak memiliki satu akar utama tunggal yang tumbuh jauh ke bawah (seperti akar tunggang pada banyak pohon dikotil). Sebaliknya, akar serabut tumbuh menyamping dalam jaringan yang padat dan saling terkait.
Jaringan akar serabut ini sangat efisien dalam menyerap nutrisi dan air dari lapisan tanah atas. Selain itu, akar serabut inilah yang bertanggung jawab atas penyebaran rumpun bambu. Dari akar-akar serabut ini akan muncul tunas baru yang disebut rebung, yang kelak berkembang menjadi batang bambu baru. Jaringan akar yang padat ini juga berfungsi sebagai jangkar yang kuat, meski tidak dalam, membuat bambu sangat tahan terhadap angin kencang.
Apakah Ada Akar Tunggang pada Bambu?
Secara ketat, sistem akar utama bambu bukanlah akar tunggang dalam pengertian akar primer yang dominan. Namun, perlu dibedakan antara jenis bambu merambat (running bambus) dan bambu rumpun (clumping bambus).
- Bambu Merambat (Running): Jenis ini memiliki rimpang (rhizome) yang berjalan jauh secara horizontal di bawah tanah. Rimpang ini adalah struktur batang termodifikasi di bawah tanah yang menghasilkan akar serabut di sepanjang permukaannya, serta tunas di titik-titik tertentu. Penyebaran agresif mereka disebabkan oleh rimpang yang panjang ini, bukan akar tunggang yang menjulang ke bawah.
- Bambu Rumpun (Clumping): Jenis ini cenderung memiliki rimpang yang pendek dan rapat di sekitar pangkal batang. Meskipun rimpangnya berbeda, sistem perakaran yang tumbuh darinya tetap berupa akar bambu serabut yang padat, membentuk gumpalan yang sulit dipisahkan.
Dalam konteks umum agrikultur dan lansekap, ketika orang mencari akar tunggang, mereka biasanya merujuk pada bambu yang cenderung tumbuh tegak lurus tanpa menyebar ke mana-mana. Namun, secara morfologi, struktur utamanya tetap berbasis serabut dan rimpang yang menyebar horizontal.
Representasi visual perbedaan sistem perakaran (Bambu cenderung memiliki sistem serabut/rimpang yang menyebar).
Implikasi Praktis dari Sistem Akar Serabut
Memahami bahwa bambu didominasi oleh akar bambu serabut yang menyebar secara horizontal sangat krusial dalam manajemennya. Karena akar tidak menancap terlalu dalam, bambu lebih mudah dicabut atau dikendalikan jika batas penyebarannya ingin dibatasi, asalkan sistem rimpangnya dipotong dan dipangkas secara teratur.
Namun, sisi negatifnya adalah jangkauan horizontalnya. Rimpang dan akar serabut dapat merusak pondasi bangunan, jalur air, atau trotoar jika dibiarkan tumbuh tanpa batas. Pengendalian invasif seringkali memerlukan pemasangan penghalang fisik (rhizome barrier) yang ditanam cukup dalam untuk mencegat rimpang yang sedang menyebar.
Kesimpulan
Secara botani, bambu tidak memiliki akar tunggang yang dominan seperti yang ditemukan pada tanaman dikotil. Jantung dari sistem perakaran bambu adalah jaringan akar bambu serabut yang padat, yang berhubungan erat dengan sistem rimpang (rhizome) yang menyebar, baik secara agresif (running) maupun terkonsentrasi (clumping). Pengelolaan bambu harus berfokus pada pemotongan rimpang horizontal ini, bukan mencoba menggali akar tunggang yang tidak ada.