Tanaman pandan (Pandanus amaryllifolius) sangat akrab di dapur Asia Tenggara. Dikenal luas karena aromanya yang khas dan manis, daunnya sering digunakan sebagai penambah rasa alami pada nasi, kue, dan minuman. Namun, di balik kemasyhuran daunnya, bagian lain dari tanaman ini, yaitu **akar daun pandan**, sering terabaikan padahal menyimpan potensi dan fungsi yang tak kalah penting.
Akar pandan, yang biasanya merupakan bagian dari sistem perakaran serabut yang menyebar di permukaan tanah atau bahkan menjalar di udara (aerial roots) pada beberapa spesies, memiliki peran vital bagi stabilitas dan nutrisi tanaman. Meskipun tidak sepopuler daun dan buahnya, studi etnobiologi dan pengobatan tradisional sering kali mencatat penggunaan bagian akar ini dalam pengobatan herbal lokal.
Sistem perakaran pandan berfungsi sebagai jangkar utama yang menopang struktur tanaman yang cenderung tinggi dan ramping. Di daerah yang lembap, akar adventif atau akar udara sering terlihat menggantung dari batang. Akar-akar ini tidak hanya berfungsi sebagai penyerap air dan nutrisi dari tanah, tetapi juga membantu tanaman bertahan dalam kondisi tanah yang kurang ideal. Warna akar pandan umumnya bervariasi, mulai dari putih pucat hingga cokelat muda ketika sudah matang dan terekspos udara.
Secara ekologis, akar pandan memainkan peran dalam menjaga stabilitas tanah, terutama di daerah pesisir atau tepi sungai. Jaringan akarnya yang rapat membantu mencegah erosi. Di beberapa daerah, potongan akar pandan yang dikeringkan bahkan dimanfaatkan untuk membuat tali atau anyaman sederhana, menunjukkan kekuatannya sebagai serat alami.
Dalam tradisi pengobatan rakyat, berbagai bagian tanaman pandan dieksplorasi manfaatnya. Meskipun penelitian ilmiah modern mengenai akar pandan masih terbatas dibandingkan dengan daunnya, penggunaan tradisionalnya menunjukkan adanya senyawa bioaktif yang bermanfaat. Beberapa sumber menyebutkan bahwa akar pandan dapat diolah menjadi ramuan untuk mengatasi masalah pencernaan ringan. Selain itu, sifatnya yang dipercaya memiliki sedikit efek menenangkan juga membuatnya dimasukkan dalam formula pengobatan tradisional untuk meredakan stres atau membantu tidur.
Metode pengolahan akar pandan dalam pengobatan tradisional umumnya melibatkan proses pencucian, pengeringan, dan kemudian perebusan untuk mendapatkan ekstrak airnya. Ekstrak inilah yang kemudian diminum sebagai jamu atau teh herbal. Aroma yang dihasilkan dari akar yang direbus berbeda dengan daunnya; aromanya lebih bersahaja dan earthy, khas tanaman yang bersentuhan langsung dengan tanah.
Penting untuk membedakan kegunaan akar pandan dari daun dan buahnya. Daun adalah raja dalam dunia kuliner karena kandungan kimiawi bernama 2-asetil-1-pirolin yang memberikan aroma wangi. Sementara itu, buah pandan (yang sering diolah menjadi pewarna alami) juga memiliki manfaat tersendiri. Akar, di sisi lain, lebih cenderung dimanfaatkan untuk fungsi struktural (sebagai tali) atau tujuan pengobatan yang terkait dengan sistem internal tubuh, bukan sebagai pemberi aroma utama.
Meskipun daun pandan sudah teruji aman dan populer, penggunaannya harus dilakukan dengan hati-hati dan berlandaskan pengetahuan lokal yang teruji. Sama halnya dengan bagian akar. Mengingat minimnya data klinis modern tentang keamanan dosis akar pandan, masyarakat dianjurkan untuk tetap memprioritaskan penggunaan daunnya untuk keperluan pangan, sambil menghormati kearifan lokal terkait pemanfaatan akarnya dalam konteks pengobatan tradisional yang telah turun-temurun.
Akar daun pandan adalah pengingat bahwa kekayaan hayati seringkali tersembunyi di bagian yang kurang terlihat. Dari menopang tanaman di alam hingga perannya dalam pengobatan tradisional, akar pandan menunjukkan bahwa setiap komponen tanaman memiliki nilai intrinsik. Memahami akar ini memberi kita apresiasi yang lebih lengkap terhadap tanaman pandan, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan kuliner kita.