Jagung (*Zea mays* L.) adalah tanaman pangan yang sangat penting secara global. Keberhasilan budidaya jagung, baik untuk keperluan pangan, pakan ternak, maupun industri, sangat bergantung pada bagaimana tanaman tersebut membangun fondasinya di dalam tanah—yaitu sistem perakarannya. Memahami **akar pokok jagung** bukan sekadar pengetahuan botani, melainkan kunci strategis dalam manajemen pertanian modern.
Sistem perakaran jagung tergolong dalam tipe akar serabut (fibrous root system), namun memiliki karakteristik khas. Berbeda dengan tanaman monokotil lain yang mungkin memiliki akar primer yang cepat mati, jagung mengembangkan sistem akar yang ekstensif dan efisien dalam eksplorasi zona tanah.
Secara umum, akar jagung terbagi menjadi dua kategori utama yang bekerja secara sinergis. Pertama adalah **akar embrionik** (akar primer), yang tumbuh dari benih saat perkecambahan. Akar ini relatif cepat berkembang tetapi fungsinya terbatas dalam jangka panjang. Kedua, dan yang paling dominan, adalah **akar adventif** atau **akar nodal**. Akar nodal inilah yang membentuk struktur perakaran utama jagung, tumbuh dari buku-buku (node) di bawah permukaan tanah.
Akar nodal adalah inti dari kekuatan tanaman jagung. Akar-akar ini mulai muncul ketika tanaman mencapai fase vegetatif tertentu, biasanya sekitar dua minggu setelah tanam. Jumlah dan kedalaman akar nodal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan praktik budidaya.
Fungsi utama dari **akar pokok jagung** yang terbentuk dari akar nodal ini meliputi tiga aspek krusial:
Untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal, petani harus memperhatikan kondisi yang mendukung perkembangan **akar pokok jagung** secara optimal. Tanah yang padat (kompaksi) adalah musuh utama sistem perakaran. Ketika tanah terlalu padat, penetrasi akar terhambat, mengurangi luas permukaan kontak dengan media tanam. Akibatnya, tanaman menjadi rentan kekeringan dan defisiensi nutrisi.
Drainase yang buruk juga merugikan. Meskipun jagung membutuhkan banyak air, akar yang terendam air dalam jangka waktu lama akan mengalami anoksia (kekurangan oksigen), yang menyebabkan akar membusuk dan mati. Oleh karena itu, pengelolaan irigasi dan penyiapan lahan dengan drainase yang baik menjadi prasyarat mutlak. Pemupukan yang seimbang, terutama pada fase awal pertumbuhan, juga mendorong pertumbuhan akar yang lebih dalam dan bercabang.
Dalam praktik budidaya, pengelolaan yang berfokus pada kesehatan tanah secara langsung akan meningkatkan sistem perakaran. Praktik seperti tanpa olah tanah (No-Tillage) atau olah tanah minimum dapat membantu menjaga struktur tanah dan mengurangi kerusakan pada jaringan akar yang sudah terbentuk. Selain itu, penanaman tanaman penutup (cover crops) sebelum jagung dapat meningkatkan porositas tanah dan bahan organik, yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan akar yang dalam.
Sebagai kesimpulan, akar pokok jagung adalah sistem rekayasa biologis yang luar biasa. Dengan memahami dan mengelola kondisi tanah secara cermat, petani dapat memastikan bahwa fondasi tanaman jagung kokoh, mampu menyerap sumber daya secara efisien, yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kuantitas dan kualitas hasil panen. Investasi pada kesehatan tanah adalah investasi langsung pada kedalaman dan kepadatan sistem perakaran jagung.