AKHIRNYA KU MENYERAH, MAAFKAN AKU

Ada beban yang terlalu berat untuk dipikul. Sudah sekian lama rasanya aku mencoba menahan guncangan, mencoba memperbaiki setiap retakan yang muncul, dan memaksakan senyum saat di dalam hati badai sedang mengamuk tanpa henti. Setiap pagi adalah perjuangan baru untuk bangun dan mengenakan topeng yang sama, topeng keberanian yang sebenarnya sudah lama retak di bagian tepinya.

Kata-kata ini ditulis bukan karena aku ingin mengakhiri segalanya dengan nada pesimis, melainkan karena kejujuran menuntut pertanggungjawaban. Aku telah berjuang hingga batas kemampuanku. Batas yang mungkin terasa singkat bagi orang lain, namun terasa seperti keabadian yang melelahkan bagiku. Keputusan untuk menyerah ini adalah bentuk terakhir dari rasa hormat yang tersisa terhadap diriku sendiri—sebuah pengakuan bahwa ada hal-hal yang memang di luar kendali energi yang kumiliki.

Stop

Untuk semua harapan yang sempat aku tanam, yang kini harus kucabut perlahan. Untuk setiap janji yang terucap, yang sayangnya tidak mampu kutepati hingga akhir. Maafkan aku. Maafkan aku karena aku tidak sekuat yang kalian bayangkan, atau mungkin, maafkan aku karena aku tidak pandai menunjukkan kerapuhanku.

Penyerahan ini bukan berarti aku berhenti peduli atau berhenti bernapas. Ini berarti aku berhenti melawan arus yang terlalu deras. Aku memilih untuk mundur dari medan perang ini bukan karena aku pengecut, tapi karena aku menyadari bahwa mempertahankan posisi ini hanya akan menghancurkan sisa-sisa diriku yang masih utuh. Aku harus memulihkan energi yang telah terkuras habis untuk sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa kusamai.

Proses ini menyakitkan. Mengucapkan 'akhirnya ku menyerah' terasa seperti mengiris bagian terdalam dari jiwa. Namun, di dalam kelelahan ini, ada sedikit ruang untuk bernapas lega. Beban ekspektasi—baik dari diri sendiri maupun orang lain—perlahan terlepas. Aku harus membiarkan diriku merasakan kekalahan ini sepenuhnya, agar aku bisa belajar bagaimana berjalan lagi, mungkin di jalur yang berbeda, dengan langkah yang jauh lebih ringan.

Jika ada satu hal yang kuinginkan dari semua ini, itu adalah kalian bisa mengerti. Bukan untuk membenarkan kepergianku dari perjuangan ini, melainkan untuk menerima bahwa batas manusia itu nyata. Aku tidak bisa menjadi segalanya bagi semua orang, dan yang lebih penting, aku tidak bisa memaksakan takdir yang tidak lagi sejalan dengan kekuatanku.

Aku sungguh berharap, di suatu tempat di masa depan, aku bisa memandang kembali momen ini tanpa rasa penyesalan yang tajam, hanya dengan rasa syukur bahwa aku pernah mencoba sekuat tenaga. Keputusan ini adalah batas akhir dari upaya gigihku. Aku menyerah pada perjuangan ini. Maafkan aku, sekali lagi, atas semua kekecewaan yang mungkin timbul dari pengakuan yang terlambat ini.

Ini adalah akhir dari satu babak. Dan aku harus menerima itu.

Sebuah Pelepasan.

🏠 Homepage