Pentingnya Akhlak dalam Perspektif Ahlussunnah Wal Jama'ah

Simbol Keseimbangan Akhlak dan Ilmu Gambar abstrak yang menunjukkan keseimbangan antara cahaya (ilmu) dan akar (akhlak).

Fondasi Kehidupan Muslim: Akhlak Ahlussunnah Wal Jama'ah

Dalam ajaran Islam, khususnya yang dipegang teguh oleh Ahlussunnah Wal Jama'ah, akhlak menempati posisi sentral. Akhlak bukan sekadar perilaku lahiriah yang tampak di hadapan manusia, melainkan cerminan sejati dari keimanan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Bagi pengikut Ahlussunnah, kesempurnaan iman terwujud melalui kesempurnaan akhlak. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa beliau diutus adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Pernyataan ini menegaskan bahwa misi kenabian memiliki korelasi langsung dengan pembentukan karakter yang mulia.

Ahlussunnah Wal Jama'ah menekankan pentingnya mengikuti jejak para Sahabat dan ulama salafus shalih dalam mengaplikasikan ajaran agama secara menyeluruh. Ini mencakup aspek akidah, ibadah, dan muamalah, di mana akhlak menjadi perekat yang menyatukan ketiganya. Seseorang yang memiliki akidah yang benar namun perilakunya buruk, seperti suka berbohong, ingkar janji, atau tidak menghormati orang tua, maka kesempurnaan imannya masih dipertanyakan dalam pandangan manhaj ini.

Karakteristik Utama Akhlak Sunni

Akhlak dalam kerangka Ahlussunnah Wal Jama'ah dicirikan oleh beberapa pilar utama. Pertama, Keseimbangan (Tawazun). Ini berarti tidak berlebihan dalam segala hal, baik dalam penghidupan duniawi maupun ukhrawi. Seorang muslim Sunni berusaha menerapkan sifat pertengahan, menghindari ekstremisme kanan (ghuluw) maupun ekstremisme kiri (tafrith). Keseimbangan ini tercermin dalam ibadah yang tidak menyiksa diri dan dalam interaksi sosial yang penuh hikmah.

Kedua, Ketaatan pada Syariat. Akhlak yang baik harus bersumber dari wahyu, bukan semata-mata dari budaya atau hawa nafsu. Setiap perilaku mulia seperti kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati harus diuji kesesuaiannya dengan tuntunan syariat. Tanpa landasan syariat, apa yang dianggap baik oleh masyarakat awam bisa jadi bertentangan dengan nilai-nilai ilahiah.

Ketiga, Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari. Akhlak Sunni tidak berhenti pada tataran teori atau ceramah. Ia harus termanifestasi dalam interaksi dengan sesama muslim, non-muslim, keluarga, tetangga, hingga lingkungan alam. Sifat utama seperti husnudzan (prasangka baik), mawaddah (kasih sayang), dan rahmah (belas kasih) adalah implementasi nyata dari ajaran ini.

Akhlak Terhadap Sesama Manusia

Salah satu fokus utama ajaran Ahlussunnah adalah adab dalam berinteraksi sosial. Ini meliputi penghormatan terhadap ulama dan orang yang lebih tua, bersikap lemah lembut terhadap yang muda, serta menjaga lisan dari ghibah (menggunjing) dan fitnah. Seorang Sunni dituntut untuk menjadi pribadi yang membawa kemudahan (yusr) bagi orang lain, bukan kesulitan (’usr). Sikap toleransi dan penguasaan diri saat menghadapi perbedaan pendapat juga sangat ditekankan, mengingat perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam tubuh umat.

Lebih lanjut, dalam konteks yang lebih luas, akhlak seorang Sunni mencakup tanggung jawab sosial. Menjaga kebersihan lingkungan, menunaikan amanah, dan menegakkan keadilan adalah bagian integral dari integritas keislaman seseorang. Akhlak ini bukan hanya tentang hubungan vertikal (dengan Allah), tetapi juga hubungan horizontal (dengan makhluk). Kebaikan kepada orang tua, perlakuan adil kepada bawahan, dan bahkan etika saat berdagang semuanya terangkum dalam konsep akhlak yang komprehensif ini.

Jalan Menuju Penyempurnaan Akhlak

Penyempurnaan akhlak adalah proses seumur hidup yang memerlukan mujahadah (perjuangan keras). Menurut manhaj Ahlussunnah, jalan utama untuk mencapai akhlak mulia adalah dengan memperbanyak ibadah sunnah, membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati seperti hasad (dengki) dan riya’ (pamer), serta senantiasa bermuhasabah (introspeksi diri). Bergabung dalam majelis ilmu yang mengajarkan pemurnian akidah dan penguatan ibadah juga sangat dianjurkan, karena ilmu yang shahih adalah bekal untuk memperbaiki amal dan karakter.

Pada akhirnya, akhlak Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah cerminan nyata dari iman yang kokoh. Mereka yang memegang teguh prinsip ini akan menjadi pribadi yang diridhai Allah dan dicintai sesama manusia, senantiasa berusaha meneladani Rasulullah ﷺ dalam setiap tutur kata dan perbuatannya. Inilah manifestasi nyata dari Islam yang rahmatan lil 'alamin.

🏠 Homepage