Visualisasi metaforis tentang kondisi hati yang dipengaruhi akhlak tercela.
Dalam ajaran etika dan moral, terutama dalam konteks Islam, pembagian sifat manusia seringkali dikategorikan menjadi dua kutub utama: Akhlak Mahmudah (akhlak terpuji) dan Akhlak Khabisah (akhlak tercela atau keji). Akhlak Khabisah merujuk pada segala perilaku, ucapan, dan keyakinan yang buruk, merusak diri sendiri, dan membawa dampak negatif bagi lingkungan sosial. Memahami sifat-sifat ini adalah langkah awal krusial untuk membersihkan jiwa dan mencapai ketenangan batin.
Secara harfiah, "khabisah" berarti busuk, kotor, atau keji. Akhlak Khabisah adalah penyakit hati yang manifestasinya terlihat dalam tindakan sehari-hari. Sifat-sifat ini tumbuh subur ketika seseorang lalai dalam mengontrol hawa nafsu, kurangnya ilmu, serta pengaruh lingkungan yang buruk. Berbeda dengan kesalahan sesaat, akhlak khabisah cenderung menjadi kebiasaan yang mengakar, sehingga membutuhkan usaha keras untuk dicabut.
Penting untuk disadari bahwa akhlak buruk bukan hanya persoalan hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga merusak hubungan horizontal antarmanusia. Misalnya, kesombongan (kibr) yang merupakan inti dari banyak akhlak khabisah, tidak hanya menjauhkan seseorang dari rahmat Ilahi tetapi juga membuat orang lain enggan berinteraksi dengannya.
Ada beberapa penyakit hati yang paling sering disebutkan sebagai bentuk nyata dari akhlak khabisah. Mengenali manifestasi ini sangat penting agar kita dapat melakukan introspeksi diri secara berkelanjutan:
Dampak dari memelihara akhlak khabisah sangatlah luas. Pada level spiritual, ia menciptakan penghalang tebal antara hamba dan Tuhannya, membuat ibadah terasa hampa dan jauh dari kekhusyukan. Ketika hati dipenuhi sifat iri dan dengki, mustahil bagi hati tersebut merasakan kedamaian sejati.
Pada level sosial, seseorang yang dikenal memiliki akhlak buruk akan kehilangan kepercayaan. Tidak ada yang nyaman bergaul dengan orang yang suka berbohong, menipu, atau selalu mencari kesalahan orang lain. Kepercayaan ini, sekali hilang karena akhlak khabisah, sangat sulit dipulihkan. Oleh karena itu, pembersihan jiwa dari sifat-sifat keji ini adalah sebuah keharusan demi terwujudnya masyarakat yang harmonis dan beretika. Proses ini membutuhkan mujahadah (perjuangan keras) dan pertobatan yang tulus.