Kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW merupakan cermin sempurna bagi seluruh umat manusia, terutama dalam interaksi beliau dengan keluarga, khususnya istri-istri beliau. Sikap dan akhlak Rasulullah terhadap para Ummul Mukminin (ibu orang-orang beriman) tidak hanya menunjukkan kasih sayang, tetapi juga penghormatan, keadilan, dan kesabaran yang mendalam. Keteladanan ini sangat penting untuk direfleksikan, terutama di tengah tantangan rumah tangga modern.
Puncak Kelembutan dan Penghargaan
Salah satu prinsip utama dalam perlakuan Rasulullah adalah kelembutan (rifq). Beliau mengajarkan bahwa sebaik-baiknya laki-laki adalah yang paling baik (berakhlak mulia) kepada keluarganya. Banyak hadis sahih yang mencatat bagaimana beliau senantiasa mendahulukan kenyamanan istri-istrinya. Misalnya, jika beliau pulang ke rumah, beliau selalu memulai dengan salam dan senyuman. Senyuman ini adalah bentuk sedekah yang paling ringan namun bernilai besar dalam membangun kehangatan emosional.
Beliau tidak pernah meremehkan atau merendahkan peran istri. Sebaliknya, Rasulullah mengakui kontribusi mereka. Beliau turut serta dalam pekerjaan rumah tangga. Riwayat menyebutkan bahwa beliau sering membantu Aisyah RA dalam pekerjaan sehari-hari, seperti menjahit pakaian yang robek atau memperbaiki sandal yang rusak. Tindakan sederhana ini mengirimkan pesan kuat: bahwa suami memiliki tanggung jawab bersama dalam urusan domestik, dan itu bukanlah aib, melainkan kemuliaan.
Kesabaran dalam Menghadapi Perbedaan Pendapat
Rumah tangga mana pun pasti diwarnai dengan perbedaan pendapat atau sifat alami yang berbeda antara suami dan istri. Rasulullah SAW menunjukkan kesabaran luar biasa dalam menghadapi dinamika ini. Beliau tidak cepat marah atau bersikap otoriter. Ketika ada perselisihan kecil atau ketika istri-istri beliau menunjukkan rasa cemburu (hal yang manusiawi), beliau menghadapinya dengan kebijaksanaan dan dialog, bukan dengan kekerasan verbal maupun fisik.
Beliau bersedia mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi. Ketika Sayyidah Aisyah RA pernah menunjukkan rasa cemburu atau ketidakpuasan, Rasulullah memilih untuk menenangkan hati mereka terlebih dahulu, menegaskan kembali kedudukan mereka di hati beliau, sebelum kemudian memberikan nasihat atau penjelasan yang dibutuhkan. Hal ini menunjukkan pentingnya validasi perasaan dalam sebuah hubungan.
Keadilan dan Pembagian Waktu
Nabi Muhammad SAW hidup dengan banyak istri, namun beliau menjunjung tinggi prinsip keadilan dalam pembagian waktu dan perhatian. Meskipun cinta dan kasih sayang batiniah tidak bisa diukur secara persis, beliau memastikan bahwa giliran (sistem bermalam) ditaati dengan ketat. Keadilan dalam pembagian giliran ini adalah manifestasi dari kepemimpinan yang adil, memastikan setiap istri merasa diperhatikan dan dihargai secara proporsional.
Selain itu, beliau selalu berusaha untuk bersikap adil dalam hal nafkah lahiriah dan pemberian hadiah, menunjukkan bahwa keadilan adalah pondasi stabilitas rumah tangga poligami, sekaligus standar moralitas tertinggi yang harus dicapai oleh setiap Muslim.
Rasa Hormat dan Perlindungan
Rasulullah SAW sangat menjaga kehormatan istri-istrinya, baik di hadapan publik maupun di hadapan sahabat. Beliau sangat membenci jika ada yang berbicara buruk atau menyindir istri-istrinya. Beliau selalu membela mereka dengan cara yang santun namun tegas, menunjukkan bahwa istri adalah kehormatan yang harus dijaga.
Beliau bahkan seringkali berkonsultasi dan meminta pandangan mereka dalam urusan-urusan penting kenegaraan, seperti pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, di mana saran Sayyidah Ummu Salamah RA menjadi penuntun jalan keluar dari kebuntuan. Ini adalah pengakuan beliau atas kecerdasan dan kapasitas berpikir kaum perempuan.
Secara keseluruhan, akhlak Rasulullah terhadap istri-istrinya mengajarkan bahwa kekuatan seorang pria tidak diukur dari dominasinya, melainkan dari kemampuannya untuk mengayomi, mencintai, menghormati, dan bersikap adil kepada pasangan hidupnya. Keteladanan ini membuktikan bahwa Islam menempatkan posisi perempuan dalam ikatan pernikahan pada derajat yang sangat tinggi dan mulia.