Dalam konteks moralitas dan etika, konsep 'akhlak' merujuk pada perilaku atau watak yang dimiliki seseorang. Secara umum, akhlak terbagi menjadi dua kategori utama: akhlak terpuji (mahmudah) dan akhlak tercela (mazmumah). Ketika kita membahas akhlak tercela adalah, kita merujuk pada sifat-sifat buruk, tindakan negatif, atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma kebaikan, baik dalam pandangan agama maupun norma sosial kemanusiaan. Sifat-sifat ini cenderung merusak diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Ilustrasi: Simbol refleksi terhadap perilaku negatif.
Definisi dan Karakteristik Utama
Secara etimologis, 'tercela' berarti sesuatu yang patut dicela, dinilai buruk, atau dikecam. Oleh karena itu, akhlak tercela adalah segala perilaku yang diyakini membawa kerugian spiritual dan sosial. Karakteristik utama dari akhlak tercela adalah ia menciptakan ketegangan, kebencian, ketidakadilan, dan menjauhkan pelakunya dari kebahagiaan hakiki (baik di dunia maupun akhirat). Berbeda dengan akhlak terpuji yang mendorong harmoni dan kemajuan, akhlak tercela bersifat destruktif.
Memahami jenis-jenis akhlak tercela sangat penting sebagai langkah awal untuk melakukan perbaikan diri. Ketika seseorang menyadari bahwa suatu tindakan termasuk dalam kategori tercela, ia memiliki landasan kuat untuk meninggalkannya. Proses ini memerlukan kesadaran diri yang tinggi dan kemauan untuk berubah.
Contoh Nyata Akhlak Tercela dalam Kehidupan Sehari-hari
Akhlak tercela dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk, mulai dari yang tampak jelas hingga yang tersembunyi dalam hati. Beberapa contoh yang paling umum dan sering dibahas meliputi:
- Riya' (Pamer): Melakukan kebaikan bukan karena mencari ridha Tuhan, melainkan semata-mata agar dipuji orang lain. Ini merusak nilai ibadah itu sendiri.
- Hasad (Dengki): Merasa tidak senang atas nikmat yang diterima orang lain, bahkan berharap nikmat tersebut hilang dari mereka. Hasad adalah penyakit hati yang sangat merusak ketenangan jiwa.
- Ghibah (Menggunjing): Membicarakan keburukan orang lain di belakang mereka, meskipun apa yang dibicarakan itu benar. Ini adalah bentuk pengkhianatan kepercayaan sosial.
- Ghurur (Sombong): Merasa lebih baik, lebih pintar, atau lebih mulia dari orang lain, seringkali mengabaikan kekurangan diri sendiri. Kesombongan menutup pintu penerimaan kebenaran.
- Kikir (Bakhil): Enggan berbagi rezeki atau kekayaan, meskipun mampu. Ini menunjukkan kecintaan berlebihan pada harta duniawi.
- Pemarah yang Tidak Terkendali: Kehilangan kontrol diri saat emosi, yang seringkali berujung pada ucapan kasar atau tindakan kekerasan.
Dampak Negatif Akhlak Tercela
Konsekuensi dari mengamalkan akhlak tercela adalah bersifat berlapis. Pada level individu, sifat-sifat buruk ini menciptakan kegelisahan batin. Orang yang kikir akan selalu dihantui ketakutan kehilangan harta; orang yang iri akan terus-menerus merasa kurang bahagia karena membandingkan diri dengan orang lain. Jiwa mereka menjadi sempit dan tidak pernah merasa damai.
Pada level sosial, akhlak tercela adalah penghambat utama terwujudnya masyarakat yang harmonis. Fitnah dan ghibah akan menghancurkan reputasi dan memicu permusuhan antarsesama. Sombong akan menciptakan jurang pemisah antara kelompok-kelompok. Secara kolektif, masyarakat yang didominasi oleh perilaku tercela akan mudah mengalami disintegrasi sosial karena minimnya rasa saling percaya dan empati.
Pentingnya Mujahadah (Perjuangan Melawan Diri)
Mengatasi akhlak tercela memerlukan proses yang berkelanjutan, yang sering disebut sebagai mujahadah atau riyadhah an-nafs (latihan jiwa). Langkah pertama adalah penyadaran dan penyesalan yang tulus. Setelah itu, dibutuhkan penggantian aktif. Jika seseorang cenderung berbohong, ia harus memaksa dirinya untuk selalu berkata jujur. Jika ia pelit, ia harus mulai membiasakan sedekah, sekecil apapun.
Proses ini tidak mudah karena melibatkan penjinakan hawa nafsu yang cenderung mendorong pada keburukan. Namun, pahala yang dijanjikan bagi mereka yang berhasil membersihkan jiwanya dari noda-noda tercela adalah kebahagiaan sejati. Dengan membersihkan hati dari sifat-sifat yang dibenci, seseorang tidak hanya memperbaiki hubungan vertikalnya dengan Tuhan tetapi juga memperbaiki hubungan horizontalnya dengan sesama manusia dan alam semesta. Memahami bahwa akhlak tercela adalah racun bagi jiwa adalah fondasi menuju perbaikan diri yang permanen.