Memahami Makna Sejati: Akhlak Terpuji Disebut dengan Akhlak

AKHLAK

Dalam khazanah keilmuan, terutama yang berkaitan dengan etika dan moralitas, istilah akhlak terpuji disebut dengan akhlak secara umum. Namun, pemahaman yang lebih mendalam menunjukkan bahwa kata 'akhlak' itu sendiri merupakan landasan dari segala perilaku baik yang dapat diamati dari seseorang. Mengapa demikian? Karena akhlak bukan sekadar tindakan sesaat, melainkan cerminan jiwa yang telah tertanam kuat.

Definisi dan Cakupan Akhlak

Secara etimologis, akhlak (jamak dari khuluq) berarti watak, tabiat, atau budi pekerti. Dalam konteks spiritual dan sosial, akhlak mengacu pada cara seorang individu berinteraksi dengan Tuhannya, dirinya sendiri, sesama manusia, dan lingkungan alam sekitarnya. Ketika kita membicarakan akhlak terpuji disebut dengan akhlak, kita merujuk pada kualitas-kualitas mulia seperti jujur, sabar, amanah, dermawan, dan kasih sayang.

Tidak semua akhlak itu terpuji. Akhlak memiliki dua spektrum: al-Akhlaqul Mahmudah (akhlak terpuji) dan al-Akhlaqul Madzmumah (akhlak tercela). Oleh karena itu, ketika istilah akhlak terpuji disebut dengan akhlak, seringkali konteksnya adalah penekanan bahwa akhlak yang menjadi standar kebaikan adalah akhlak yang telah dimurnikan dari unsur negatif.

Pentingnya Membudayakan Akhlak Mulia

Pembentukan karakter yang baik adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan kesadaran dan latihan. Akhlak yang baik merupakan pondasi utama bagi tegaknya tatanan sosial yang harmonis. Individu yang memiliki akhlak terpuji cenderung membawa manfaat bagi lingkungannya, bukan sebaliknya.

Beberapa manifestasi utama dari akhlak terpuji meliputi:

Akhlak sebagai Representasi Diri

Mengapa penekanan sering diberikan pada akhlak terpuji disebut dengan akhlak? Karena perilaku baik adalah identitas sejati seseorang. Pepatah lama mengatakan, "Bagai mana engkau bertutur, begitulah engkau dilihat." Dalam konteks yang lebih luas, akhlak seseorang seringkali menjadi cerminan dari ajaran yang ia anut atau nilai-nilai yang ia yakini. Ketika seseorang menampilkan kesabaran di tengah badai, itulah akhlak yang berbicara.

Pembentukan akhlak ini dimulai dari internal. Ia bukan sekadar penampilan luar yang dibuat-buat, melainkan hasil dari mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu) dan riyadhah (latihan berulang) terhadap kebiasaan-kebiasaan baik. Ketika suatu tindakan baik dilakukan berulang kali tanpa paksaan, ia akan menjelma menjadi bagian integral dari pribadi tersebut—inilah yang kemudian kita sebut sebagai karakter luhur.

Memisahkan Antara Perilaku dan Nilai Dasar

Penting untuk membedakan antara sekadar melakukan tindakan baik sesekali dengan memiliki akhlak yang mulia. Seseorang bisa saja bersikap dermawan karena ingin dipuji (menjadi riya’), namun jika motifnya adalah ketulusan hati dan keinginan untuk memberi tanpa pamrih, maka tindakan tersebut sejalan dengan akhlak terpuji disebut dengan akhlak dalam arti yang murni. Perbedaan terletak pada niat (niyyah) yang melandasi setiap perbuatan.

Oleh sebab itu, dalam upaya meningkatkan kualitas diri, fokus utama harus diarahkan pada pembersihan hati dari penyakit-penyakit batin, seperti dengki, iri hati, dan kesombongan. Setelah hati bersih, pancaran perilakunya niscaya akan menjadi akhlak yang terpuji dan diridhai. Ini adalah inti dari perbaikan diri yang berkelanjutan.

Kesimpulannya, meskipun secara harfiah akhlak mencakup semua watak, dalam diskursus moralitas dan perbaikan diri, ketika kita mengatakan akhlak terpuji disebut dengan akhlak, kita sedang merujuk pada manifestasi tertinggi dari etika kemanusiaan—yaitu karakter yang mulia, konsisten, dan membawa manfaat bagi semesta.

🏠 Homepage