Dalam ajaran Islam, pembentukan karakter mulia (akhlakul mahmudah) adalah tujuan utama seorang muslim. Namun, untuk mencapai kemuliaan tersebut, seorang individu wajib mengenali dan menjauhi kebalikannya, yaitu Akhlakul Mazmumah. Istilah ini merujuk pada segala bentuk perilaku, perangai, dan sifat tercela yang merusak hubungan individu dengan Tuhannya, sesama manusia, maupun lingkungan sekitarnya. Memahami sifat-sifat ini bukan sekadar pengetahuan teoretis, melainkan langkah praktis pertama menuju penyucian jiwa.
Akhlakul Mazmumah adalah penyakit hati yang jika tidak segera diobati akan menumbuhkan benih-benih kerusakan sosial dan spiritual. Sifat-sifat ini seringkali berakar dari egoisme, ketidaktahuan, dan lemahnya iman. Ketika seseorang terjerumus dalam akhlak tercela, ia tidak hanya merugikan orang lain, tetapi yang paling utama, ia merusak fondasi ketakwaannya sendiri.
Karakteristik Utama Akhlakul Mazmumah
Sifat tercela ini sangat beragam, namun beberapa di antaranya seringkali muncul dalam interaksi sosial dan ibadah sehari-hari. Mengidentifikasi karakteristik ini penting agar upaya perbaikan diri dapat terfokus.
- Kesombongan (Kibr): Merasa diri lebih unggul dari orang lain dan meremehkan kebenaran atau orang lain. Ini adalah sifat iblis yang pertama kali muncul.
- Hasad (Dengki): Kebencian terhadap nikmat yang diperoleh orang lain dan keinginan agar nikmat tersebut hilang dari mereka.
- Ghibah (Menggunjing): Membicarakan keburukan orang lain di belakang mereka, sekalipun hal yang dibicarakan itu benar.
- Namimah (Adu Domba): Menyebarkan fitnah atau perkataan untuk memecah belah persatuan.
- Kikir (Bakhil): Enggan mengeluarkan harta untuk kebaikan, meskipun mampu.
- Riya': Melakukan amal ibadah dengan tujuan dilihat dan dipuji manusia, bukan karena mencari ridha Allah SWT.
Dampak Negatif Memelihara Sifat Tercela
Memelihara akhlakul mazmumah membawa konsekuensi berlapis. Di dunia, ia menciptakan lingkungan yang penuh ketidakpercayaan, konflik, dan permusuhan. Seorang yang sombong akan dijauhi, orang yang pendusta akan ditinggalkan. Dalam konteks hubungan vertikal (dengan Allah SWT), sifat tercela ini menjadi penghalang utama diterimanya amal ibadah. Sebagai contoh, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amal saleh yang disertai kesombongan akan hangus.
Kehidupan yang diwarnai oleh keserakahan, iri hati, dan dusta adalah kehidupan yang penuh kegelisahan batin. Seorang yang hatinya dipenuhi dengki tidak akan pernah merasakan ketenangan sejati, karena pikirannya selalu terpusat pada apa yang dimiliki orang lain, bukan pada rasa syukur atas apa yang dimiliki sendiri. Oleh karena itu, pembersihan diri dari sifat-sifat ini adalah bentuk jihad terbesar.
Strategi Menghindari dan Mengobati Akhlakul Mazmumah
Proses meninggalkan akhlakul mazmumah memerlukan mujahadah (perjuangan keras) dan kesadaran yang mendalam. Langkah pertama adalah Al-Ma'rifah (mengenali). Seseorang harus jujur pada dirinya sendiri untuk mengakui kelemahan dan dosa-dosa yang melekat. Setelah itu, diperlukan proses Al-Mujahadah (perjuangan).
Jika seseorang mendapati dirinya cenderung iri hati (hasad), maka ia harus secara aktif mengganti perasaan itu dengan tawaffuq (berharap kebaikan yang sama untuk dirinya) atau targhiib (bersyukur atas nikmat yang telah ada). Jika muncul kesombongan, maka ia harus mengingat hakikat penciptaannya sebagai makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Ilahi. Kontemplasi tentang kematian dan pertanggungjawaban akhirat seringkali menjadi penyeimbang yang efektif melawan godaan sifat tercela.
Selain introspeksi diri, lingkungan pertemanan sangat memengaruhi. Mencari teman-teman yang senantiasa mengingatkan kepada kebaikan dan menjauhi lingkungan yang mendukung terciptanya keburukan adalah langkah krusial. Pada akhirnya, permohonan pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT melalui doa adalah kunci utama. Memohon agar dijauhkan dari sifat tercela adalah pengakuan bahwa kekuatan diri manusia terbatas dan hidayah sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta. Dengan demikian, perjalanan menuju karakter mulia akan lebih terarah dan berkelanjutan.