Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, banyak kebudayaan lokal yang terancam tergerus. Namun, di tanah Lampung, ada sebuah warisan berharga yang terus diupayakan kelestariannya: Aksara Lampung. Aksara ini bukan sekadar sistem penulisan kuno, melainkan sebuah benteng budaya yang kokoh, menjaga identitas dan kearifan lokal masyarakat Lampung. Memahami dan melestarikan Aksara Lampung berarti turut memperkuat benteng pertahanan terhadap homogenisasi budaya global.
Aksara Lampung, yang juga dikenal dengan sebutan Kaganga, memiliki akar sejarah yang panjang. Ia termasuk dalam rumpun aksara Brahmi dari India, yang kemudian berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan linguistik dan budaya Nusantara, khususnya di Sumatera. Bentuknya yang khas, dengan lekukan-lekukan yang geometris dan anggun, mencerminkan estetika seni tradisional masyarakat Lampung. Keunikan Aksara Lampung tidak hanya terletak pada visualnya, tetapi juga pada strukturnya yang terstruktur rapi, lengkap dengan gugus konsonan dan vokal yang memungkinkan penulisan kata-kata yang kompleks.
Setiap karakter dalam Aksara Lampung memiliki nama dan bunyi tersendiri. Terdapat dua jenis aksara utama, yaitu Aksara Numen (huruf induk) dan Aksara Wenio (huruf sesapan). Kombinasi keduanya memungkinkan penulisan berbagai macam suku kata, yang kemudian membentuk kata dan kalimat. Sistem penulisan ini sangat kaya dan mampu merepresentasikan kekayaan bahasa Lampung, baik dialek Pesisir maupun dialek Abung.
Dalam konteks pelestarian budaya, Aksara Lampung berfungsi layaknya sebuah benteng pertahanan. Ia menjadi garda terdepan dalam melindungi kekayaan sastra lisan, hikayat, pepatah, dan berbagai bentuk ekspresi budaya masyarakat Lampung dari kepunahan. Ketika Aksara Lampung masih dipelajari dan digunakan, ketika naskah-naskah kuno yang ditulis menggunakan aksara ini dapat dibaca dan dipahami, maka identitas budaya Lampung akan tetap terjaga utuh.
Penggunaan Aksara Lampung dalam berbagai media, mulai dari prasasti, naskah kuno, hingga produk-produk budaya kontemporer seperti seni rupa, musik, dan desain, menunjukkan bahwa aksara ini masih relevan dan memiliki daya tarik tersendiri. Upaya-upaya revitalisasi yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas pegiat budaya, seperti kursus Aksara Lampung, lomba menulis, dan publikasi materi pembelajaran, merupakan cara-cara strategis untuk memperkuat benteng ini. Tanpa generasi penerus yang memahami dan mencintai aksara ini, benteng budaya tersebut akan rapuh.
Meskipun memiliki peran penting sebagai benteng budaya, pelestarian Aksara Lampung tidak lepas dari tantangan. Dominasi bahasa dan aksara asing, perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung pragmatis, serta kurangnya materi pembelajaran yang memadai di beberapa daerah, menjadi hambatan yang signifikan. Banyak generasi muda yang lebih akrab dengan alfabet Latin daripada dengan Aksara Lampung.
Namun, semangat untuk menjaga kelestarian warisan nenek moyang terus membara. Berbagai upaya terus digencarkan. Museum Lampung seringkali menampilkan koleksi naskah kuno Aksara Lampung. Di beberapa sekolah, Aksara Lampung mulai dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal. Komunitas-komunitas seperti Sanggar Aksara Lampung menjadi wadah bagi para pecinta aksara untuk berkumpul, belajar, dan berbagi. Pengenalan Aksara Lampung melalui media digital juga menjadi terobosan penting, menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda yang melek teknologi.
Melestarikan Aksara Lampung bukan hanya tugas pemerintah atau para ahli, tetapi tanggung jawab kita bersama. Dengan mengenal, mempelajari, dan menggunakan aksara ini, kita turut serta dalam menjaga dan memperkuat benteng budaya Lampung, memastikan warisan berharga ini tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Aksara Lampung adalah permata budaya yang perlu kita jaga dari kerusakaan zaman, menjadikannya sumber kebanggaan dan identitas yang tak ternilai harganya.