Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi aksara Latin, kekayaan warisan budaya berupa sistem penulisan tradisional seringkali terlupakan. Salah satu contoh yang sangat menarik dan memiliki nilai historis tinggi adalah konsep "aksara lan pasangane" yang banyak dijumpai dalam berbagai tradisi penulisan Nusantara, terutama dalam konteks aksara Jawa, Sunda, Bali, dan lainnya. Memahami aksara dan pasangannya bukan hanya sekadar mempelajari simbol-simbol kuno, melainkan membuka jendela untuk menelusuri sejarah, filsafat, dan kearifan lokal yang tertuang di dalamnya.
Secara umum, "aksara" merujuk pada huruf atau simbol dasar yang digunakan untuk merepresentasikan bunyi-bunyi dalam suatu bahasa. Namun, dalam konteks "aksara lan pasangane," istilah ini mencakup sebuah sistem yang lebih kompleks. "Pasangane" atau sering juga disebut "pasangan aksara" adalah bentuk tanda yang digunakan untuk menekan atau menghilangkan bunyi vokal inheren (biasanya suara 'a') dari aksara dasar. Setiap aksara dasar dalam sistem ini memiliki bunyi vokal inheren, dan ketika ingin menulis suku kata yang diawali oleh konsonan tanpa diikuti vokal 'a' (atau vokal lain yang dimodifikasi), pasangan aksara inilah yang berperan.
Tanpa adanya pasangan aksara, penulisan suku kata tertutup atau konsonan yang bertemu dengan konsonan lain akan sangat sulit diwujudkan secara efisien. Bayangkan jika kita harus menulis kata "bangsa" dalam aksara Jawa. Aksara dasarnya adalah 'ba', 'nga', 'sa'. Jika ingin menulis 'bang', kita tidak bisa hanya menumpuk aksara 'ba' dan 'nga'. Di sinilah pasangan aksara 'nga' berfungsi untuk menghilangkan vokal 'a' pada aksara dasar 'nga', sehingga terbentuklah suku kata 'ng'. Dengan demikian, penulisan menjadi lebih ringkas, jelas, dan sesuai dengan fonologi bahasa.
Keberadaan pasangan aksara ini juga mencerminkan kekayaan fonologis dari bahasa-bahasa yang menggunakan sistem penulisan ini. Ia memungkinkan representasi bunyi yang lebih presisi, termasuk gugus konsonan yang sering ditemui dalam bahasa daerah. Penguasaan aksara dan pasangannya menjadi kunci untuk dapat membaca dan menulis teks-teks kuno, prasasti, naskah lontar, hingga karya sastra klasik yang masih tersimpan rapi.
Meskipun konsep dasar "pasangan aksara" serupa, setiap tradisi aksara memiliki kekhasan tersendiri.
Setiap bentuk pasangan aksara dirancang dengan mempertimbangkan kaidah morfologi dan fonologi bahasa aslinya. Keberagaman bentuk dan fungsi pasangan aksara ini menunjukkan evolusi linguistik dan budaya yang kaya di setiap daerah.
Di era digital ini, pelestarian aksara lan pasangane menghadapi tantangan tersendiri. Minat generasi muda cenderung menurun, digantikan oleh kemudahan aksara Latin. Namun, berbagai pihak, baik pemerintah, akademisi, maupun pegiat budaya, terus berupaya mengenalkan kembali kekayaan ini. Workshop, kurikulum muatan lokal di sekolah, aplikasi pembelajaran, hingga pembuatan font digital yang mendukung aksara tradisional adalah beberapa upaya yang dilakukan.
Memahami aksara lan pasangane bukan hanya tentang menghafal bentuk, tetapi juga merasakan denyut nadi budaya yang melahirkannya. Ini adalah warisan berharga yang patut dijaga dan dilestarikan agar tidak punah ditelan zaman. Dengan mengenali dan mengapresiasi aksara ini, kita turut berkontribusi dalam menjaga kebhinekaan budaya Indonesia dan memperkaya khazanah peradaban manusia. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap aksara dan pasangannya, kita dapat menghubungkan diri dengan akar sejarah dan kearifan para leluhur.