Surah Al-Hijr, yang juga dikenal sebagai Surah Al-Hijr (Batu Pahat), adalah salah satu bab dalam Al-Qur'an yang sarat dengan kisah-kisah teladan dan peringatan penting. Di tengah ayat-ayat yang membahas tentang penciptaan, kesombongan Iblis, dan kaum-kaum terdahulu, terdapat sebuah ayat yang sangat menguatkan bagi setiap mukmin yang merasa lemah dan terancam, yaitu ayat ke-39.
Ayat ini merupakan bagian dari doa yang dipanjatkan oleh Nabi Adam AS setelah diusir dari surga dan menghadapi godaan serta tipu daya musuh abadi umat manusia, yaitu setan. Ayat ini berfungsi sebagai sebuah manual perlindungan spiritual, sebuah kunci untuk menjaga ketenangan hati di tengah tantangan duniawi.
Doa dalam Al-Hijr ayat 39 ini sangat ringkas namun padat makna. Kata kunci utama di sini adalah permohonan pertolongan langsung kepada Allah SWT, sambil mengakui bahwa satu-satunya jalan keluar dari kezaliman adalah melalui rahmat dan pertolongan-Nya. Nabi Adam tidak meminta senjata, kekuasaan, atau jalan pintas; beliau meminta najāt (keselamatan) yang bersumber dari rahmat (kasih sayang) Allah.
Permohonan ini diajukan ketika ancaman "kaum yang zalim" (القَوْمِ الظَّالِمِينَ) terasa nyata. Dalam konteks kisah Nabi Adam, kaum zalim ini merujuk pada tipu daya setan dan pengikutnya yang bertujuan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Bagi seorang Muslim kontemporer, "kaum yang zalim" bisa diinterpretasikan sebagai segala bentuk godaan, lingkungan yang buruk, kesulitan hidup yang menindas, atau bahkan hawa nafsu diri sendiri yang mengajak pada perbuatan maksiat.
Ayat 39 Al-Hijr mengajarkan beberapa prinsip vital dalam menghadapi kesulitan hidup:
Permohonan ini menunjukkan kerendahan hati total. Adam AS menyadari bahwa tanpa intervensi ilahi, ia tidak akan mampu menghadapi musuh yang kuat dan licik. Dalam hidup modern, ini berarti kita harus selalu memulai segala urusan dengan kesadaran bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kecerdasan atau harta, melainkan pada dukungan Ilahi.
Permohonan "selamatkanlah aku dengan rahmat-Mu" menunjukkan bahwa sumber keselamatan adalah kasih sayang Allah, bukan jasa atau amal perbuatan kita semata. Rahmat Allah adalah pondasi bagi segala kemudahan. Jika rahmat-Nya dicabut, amal sebanyak apapun tidak akan mampu menahan kesulitan. Oleh karena itu, memohon rahmat seharusnya menjadi prioritas utama dalam setiap doa.
Zalim adalah mereka yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya—baik itu tindakan aniaya terhadap orang lain, maupun ketidakadilan terhadap diri sendiri (berbuat dosa). Ketika kita merasa terdesak oleh ketidakadilan atau godaan yang mendorong kita pada kezaliman, senjata terbaik yang kita miliki adalah doa yang tulus. Doa ini adalah cara kita "melaporkan" keadaan kita kepada Sang Pemilik Segala Kekuatan, meminta agar dibebaskan dari keadaan yang merusak iman dan dunia kita.
Mengamalkan pelajaran dari Al-Hijr ayat 39 berarti menjadikan doa ini sebagai wirid harian, terutama ketika memasuki situasi yang terasa menekan. Ketika kita menghadapi lingkungan kerja yang tidak sehat, pergaulan yang menjerumuskan, atau perasaan diri sendiri yang mulai condong pada kemaksiatan, mengingat doa ini akan mengembalikan fokus kita. Kita memohon bukan hanya untuk lolos dari bahaya (keselamatan), tetapi juga agar proses penyelamatan itu sendiri merupakan manifestasi dari cinta dan kasih sayang Allah kepada kita.
Ayat ini menggarisbawahi bahwa pertolongan Allah selalu tersedia, tetapi datangnya harus melalui permohonan yang jujur dan penyerahan diri yang total. Nabi Adam AS diberi petunjuk dan ampunan setelah doa ini, menunjukkan bahwa bagi mereka yang berlindung dan bergantung penuh kepada Rabb-nya, jalan keluar pasti akan ditemukan, meskipun jalan itu terlihat sempit dan penuh tantangan. Dengan demikian, Al-Hijr ayat 39 menjadi mercusuar harapan bagi setiap jiwa yang berjuang di tengah kegelapan kezaliman duniawi.
Renungan mendalam terhadap ayat ini menegaskan kembali bahwa dalam Islam, tawakkal (berserah diri) sejati selalu didahului oleh doa yang kuat dan berkelanjutan. Perlindungan sejati hanya ada di bawah naungan rahmat Ilahi.