Surat Al-Hijr, yang dikenal juga sebagai Surah Al-Hijr (Batu), adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an. Ayat 94 dan 95 dari surah ini memegang posisi penting karena mengandung perintah langsung, tegas, dan tidak dapat ditawar dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk menyampaikan risalah-Nya tanpa rasa takut atau ragu sedikit pun. Ayat-ayat ini sering kali diletakkan sebagai penutup dari serangkaian peringatan dan kisah-kisah umat terdahulu, memberikan fondasi moral dan spiritual bagi dakwah.
Inti dari perintah ini adalah penegasan mengenai tanggung jawab Nabi sebagai penyampai wahyu. Dalam konteks dakwah yang keras dan penuh tantangan, ayat ini menjadi penguat batiniah, mengingatkan bahwa tugas beliau adalah menyampaikan, bukan memaksa hati manusia untuk beriman.
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
Fasda’ bi-mā tu’maru wa a’riḍ ‘anil-musyrikīn(a).Maka sampaikanlah apa yang diperintahkan (kepadamu) dengan terus terang dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ
Innā kafainākal-mustahzi’īn(a).Sesungguhnya Kami cukup untuk melindungimu dari orang-orang yang membuat olok-olok.
Kata kunci dalam ayat 94 adalah "fasda’" (فَاصْدَعْ). Kata ini memiliki akar makna yang berarti membelah, memecah, atau menciptakan keretakan. Dalam konteks perintah dakwah, ini bermakna menyampaikan kebenaran secara lantang, jelas, tanpa ragu, dan tanpa menyembunyikannya meskipun kebenaran tersebut mungkin menimbulkan perpecahan atau reaksi keras dari kaum musyrik. Allah memerintahkan kejujuran total dalam menyampaikan risalah-Nya. Tidak ada ruang untuk kompromi dalam akidah atau penyampaian pokok-pokok ajaran Islam. Nabi harus menjadi pembelah antara hak dan batil.
Setelah diperintahkan untuk bersikap tegas, datanglah perintah kedua: berpaling dari orang-orang musyrik. "Berpaling" di sini bukan berarti meninggalkan mereka secara fisik, melainkan berpaling dari upaya sia-sia untuk meyakinkan mereka yang telah menunjukkan penolakan keras dan cenderung mengolok-olok. Ini adalah batasan emosional dan fokus energi. Nabi diperintahkan untuk tidak membuang waktu dan sumber daya mentalnya untuk orang-orang yang hatinya sudah tertutup dan secara aktif mengejek risalah yang dibawa. Fokus harus dialihkan kepada mereka yang mau menerima petunjuk.
Ayat 95 adalah jaminan ilahi yang luar biasa. Setelah Nabi diperintahkan untuk tampil berani menghadapi ejekan, Allah langsung memberikan kompensasi dan perlindungan. "Kafaināka" berarti Kami telah mencukupi bagimu atau Kami telah melindungi/menjaga engkau. Target perlindungan ini secara spesifik adalah "al-mustahzi’īn" (orang-orang yang membuat olok-olok).
Ini memberikan ketenangan bahwa segala bentuk peremehan, ejekan, fitnah, atau bahkan ancaman fisik yang bersumber dari para penghina kebenaran akan ditangani langsung oleh Allah SWT. Dalam sejarah Islam, kita melihat bagaimana ejekan yang dilemparkan kepada Nabi—seperti tuduhan gila, penyair, atau penyihir—semuanya berakhir dengan kehancuran pelakunya, sementara dakwah Nabi terus tegak berdiri dan berkembang pesat. Ayat ini menegaskan bahwa keberanian dalam menyampaikan kebenaran berbanding lurus dengan jaminan keamanan dari Ilahi.
Al-Hijr ayat 94 dan 95 bukan hanya konteks sejarah dakwah Nabi, tetapi juga pedoman abadi bagi setiap Muslim yang menyeru kepada kebaikan (amar ma'ruf nahi munkar).
Dengan memahami kedua ayat ini, seorang Muslim diingatkan untuk menjadi komunikator kebenaran yang berani, fokus, dan pada akhirnya, berserah diri sepenuhnya kepada kuasa Allah yang Maha Melindungi.