Dalam lautan tantangan dan ujian kehidupan, umat Muslim senantiasa mencari ketenangan dan perlindungan hakiki. Salah satu sumber kekuatan spiritual yang tak ternilai adalah Al-Qur'an, firman Allah SWT yang mengandung petunjuk dan janji-janji-Nya. Di antara ayat-ayat tersebut, Al Hijr ayat 40 menempati posisi penting sebagai penegasan janji ilahi kepada hamba-hamba-Nya yang teguh dalam keimanan.
لَّيْسَ لَهُ عَلَيْهِم سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ
"Sesungguhnya kamu (iblis) tidak mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, kecuali orang-orang yang mengikutimu dari golongan orang-orang yang sesat."
Ayat ini merupakan kelanjutan dari dialog antara Allah SWT dengan Iblis setelah penolakannya untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Iblis tidak akan mampu menggoda atau menyesatkan mayoritas hamba Allah yang tulus. Ayat 40 ini menjadi klimaks penegasan otoritas dan kekuasaan Allah SWT atas ciptaan-Nya, sekaligus menetapkan batasan tegas bagi musuh utama manusia, yaitu Iblis.
Untuk memahami kedalaman pesan Al Hijr ayat 40, kita perlu melihat konteksnya dalam surat Al Hijr (Surah ke-15). Surat ini banyak membahas kisah penciptaan Adam, penolakan Iblis, dan azab yang menimpa kaum-kaum terdahulu yang mendustakan rasul. Dalam konteks perseteruan abadi antara kebenaran dan kebatilan, ayat 40 ini memberikan jaminan penting bagi para pengikut kebenaran.
Ketika Iblis memohon penangguhan hingga Hari Kiamat (sebagaimana disebutkan dalam ayat 36-38), Allah mengizinkannya, namun dengan satu syarat tegas: Iblis tidak memiliki sulthan (kekuasaan, otoritas, atau daya pikat yang memaksa) atas hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman dan mengikuti jalan petunjuk-Nya. Kekuasaan Iblis hanya berlaku bagi mereka yang secara sukarela memilih untuk tunduk pada tipu dayanya—yaitu "orang-orang yang sesat" (al-ghawīn).
Pesan utama dari ayat ini adalah bahwa perlindungan spiritual sepenuhnya berada di tangan Allah, dan benteng terkuat melawan godaan adalah mengikuti petunjuk para rasul. Rasul yang dimaksud dalam ayat ini merujuk pada Nabi Muhammad SAW, tetapi secara universal juga mencakup semua nabi dan rasul yang membawa risalah tauhid.
Mengikuti rasul berarti mematuhi ajaran yang mereka bawa, menjalankan syariat, dan memegang teguh prinsip keimanan yang murni. Ketika seseorang berpegang erat pada tali Allah (Al-Qur'an dan Sunnah), maka kekuatan Iblis menjadi nol di hadapannya. Iblis hanya bisa 'menguasai' mereka yang telah membuka pintu hati mereka sendiri melalui kemaksiatan dan penyimpangan dari jalan yang lurus. Ini menekankan pentingnya kesadaran diri (muhasabah) dan pertanggungjawaban individu atas pilihan spiritualnya. Kita tidak bisa menyalahkan Iblis sepenuhnya; pilihan untuk tersesat adalah pilihan sadar kita.
Al Hijr ayat 40 berfungsi sebagai pengingat yang kuat dalam menjalani kehidupan modern yang penuh godaan. Dalam era informasi, godaan datang dalam bentuk yang beragam, mulai dari kesenangan duniawi yang melalaikan, keraguan terhadap ajaran agama, hingga propaganda yang merusak akidah. Memahami ayat ini memberikan kita perspektif yang benar: kita memiliki kekuatan untuk menolak, selama kita teguh pada ketaatan.
Ketika kita merasa tergoda atau lemah, ayat ini mengajarkan kita untuk kembali merujuk pada bimbingan Rasulullah SAW. Komunitas yang solid, yang berpegang pada Sunnah, menjadi benteng kolektif yang sulit ditembus oleh Iblis. Sebaliknya, perpecahan, penyimpangan ideologi, dan meninggalkan ibadah adalah celah yang dapat dimanfaatkan oleh tipu daya setan.
Intinya, ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis mengenai Iblis, tetapi merupakan peta jalan praktis untuk keamanan jiwa. Jalan menuju keselamatan adalah jalan kepatuhan total kepada Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan segala jalan yang mengarah pada kesesatan. Selama kita tidak memilih untuk mengikuti jalur kesesatan (al-ghawīn), maka janji perlindungan ilahi dalam Al Hijr ayat 40 adalah jaminan yang kokoh bagi setiap mukmin. Ini adalah janji keadilan ilahi: otoritas hanya diberikan kepada mereka yang secara aktif memilih untuk melepaskan diri dari perlindungan Sang Pencipta.