Signifikansi Ayat Al Isra 17:1 dalam Perjalanan Kenabian

Ilustrasi Konsep Isra Mi'raj: Perjalanan Cahaya dari Masjid Suci ke Langit Masjid Isra Mi'raj

Perjalanan spiritual dan mukjizat terbesar dalam sejarah Islam adalah peristiwa Isra Mi'raj yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini didasarkan pada landasan utama dalam Al-Qur'an, yang secara eksplisit disebutkan dalam Surat Al-Isra, ayat pertama. Ayat ini menjadi pintu gerbang pemahaman kita tentang bagaimana Allah SWT memuliakan hamba-Nya dengan membawanya melakukan perjalanan luar biasa melintasi dimensi ruang dan waktu.

Teks dan Terjemahan Ayat Al Isra 17:1

"Subhanalladzii asraa bi 'abdihii lailam minal Masjidil Haraami ilal Masjidil Aqsha alladzii baaraknaa haulahuu li nuriyahu min aayaatinaa, innahu huwas Samii'ul Basiir."

Terjemahan: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini, Al Isra 17 1, adalah titik tolak. Kata "Isra" sendiri berarti perjalanan di malam hari. Ayat ini menetapkan bahwa perjalanan luar biasa ini dimulai dari Al-Masjidil Haram (Ka'bah di Mekkah) menuju Al-Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis di Yerusalem). Perjalanan ini dilakukan "pada suatu malam," menegaskan sifat supernatural dan keagungan peristiwa tersebut.

Mukjizat di Balik Perjalanan Malam

Mengapa Allah SWT memilih memulai perjalanan dari Masjidil Haram? Masjidil Haram adalah pusat ibadah umat terdahulu dan simbol tauhid yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Memulainya dari sana menunjukkan kesinambungan risalah. Sementara itu, Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam dan tempat berkumpul para nabi, melambangkan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW mencakup semua ajaran suci sebelumnya.

Ayat ini mengandung beberapa poin penting. Pertama, ungkapan "Subhanalladzii" (Maha Suci Allah) menunjukkan bahwa peristiwa ini berada di luar nalar dan kemampuan manusia biasa, memerlukan intervensi dan kekuasaan ilahi. Kedua, tujuan utama perjalanan ini disebutkan dengan jelas: "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Ini menunjukkan bahwa Isra Mi'raj bukan hanya sebuah ziarah, tetapi sebuah proses pendidikan ilahi yang mendalam bagi Nabi Muhammad SAW.

Tanda-Tanda Kebesaran Allah

Tanda-tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan selama perjalanan tersebut sangat banyak. Dalam riwayat hadis, perjalanan ini mencakup Mi'raj (kenaikan) ke tingkatan-tingkatan langit, di mana Nabi menyaksikan berbagai fenomena alam semesta, bertemu dengan para nabi terdahulu, dan menerima perintah penting, yaitu penetapan shalat lima waktu sehari semalam.

Ayat Al Isra 17 1 menegaskan bahwa tempat-tempat suci ini diberkahi oleh Allah SWT. Berkah tersebut tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual, karena tempat-tempat ini menjadi saksi atas keagungan Allah. Isra Mi'raj meneguhkan status Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan menjadi jembatan antara bumi dan langit, menghubungkan ritual yang paling mendasar (shalat) dengan realitas kosmik yang paling tinggi.

Dua sifat Allah yang disudahi ayat ini, "Maha Mendengar lagi Maha Melihat," memberikan jaminan kepada Nabi dan umatnya bahwa setiap doa, perjuangan, dan niat suci mereka tidak luput dari pengawasan dan pendengaran langsung dari Tuhan Semesta Alam. Ayat pembuka Surah Al-Isra ini adalah pengingat abadi akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas dan kasih sayang-Nya yang meliputi alam semesta.

🏠 Homepage