Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang membahas berbagai kisah nabi, prinsip akidah, dan etika sosial. Di antara ayat-ayatnya, rentetan ayat 82 hingga 85 memiliki fokus yang sangat spesifik mengenai wahyu, kedudukan Al-Qur'an, dan reaksi manusia terhadapnya.
Ayat-ayat ini menegaskan status Al-Qur'an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang yang beriman, sekaligus menyoroti keengganan kaum kafir untuk menerima kebenaran yang dibawanya.
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
(QS. Al-Isra: 82)
Ayat 82 dibuka dengan penegasan bahwa Allah menurunkan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang memiliki dua fungsi utama bagi orang yang beriman: syifaa' (penyembuh) dan rahmah (rahmat). Penyembuhan di sini tidak hanya terbatas pada penyakit fisik, tetapi mencakup penyakit hati, keraguan, kesesatan, dan kegelisahan spiritual. Bagi seorang mukmin sejati, membaca, merenungi, dan mengamalkan isi Al-Qur'an memberikan ketenangan jiwa yang tak tertandingi.
Namun, ayat ini memberikan kontras yang tajam. Bagi orang-orang yang zalim—mereka yang menolak kebenaran dan memilih untuk berbuat kezaliman—Al-Qur'an justru tidak menambah apa-apa selain khasaran (kerugian). Semakin mereka mendengar kebenaran, semakin besar penolakan mereka, yang pada akhirnya memperparah kerugian spiritual mereka di dunia dan akhirat.
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا
(QS. Al-Isra: 83)
Ayat selanjutnya menjelaskan kecenderungan umum manusia ketika mendapatkan nikmat. Ketika Allah melimpahkan karunia (kesehatan, kekayaan, kemudahan), manusia cenderung berpaling dan menyombongkan diri (a'radha wa na'a bijanibih). Mereka lupa sumber nikmat tersebut dan menganggapnya sebagai hak milik semata.
Sebaliknya, ketika musibah atau kesulitan (syarr) menimpa, sifat asli manusia yang rapuh muncul; mereka menjadi sangat putus asa (ya'usan). Kontras ini menunjukkan betapa manusia mudah terombang-ambing antara kesombongan saat senang dan keputusasaan saat susah, kecuali mereka yang tertambat hatinya pada prinsip keimanan yang kokoh.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
(QS. Al-Isra: 84)
Menanggapi sifat dualistik manusia tersebut, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menegaskan prinsip universal: "Katakanlah, 'Setiap orang berbuat sesuai dengan keadaan (kecenderungan) dirinya.'" (Kullun ya'malu 'ala shakilatih). Istilah 'syakilah' merujuk pada jalan, kebiasaan, atau sifat batin yang telah tertanam dalam diri seseorang.
Jika seseorang terbiasa bersyukur dan taat, tindakannya akan mencerminkan kebaikan itu. Jika ia terbiasa kufur dan maksiat, tindakannya pun akan sesuai dengan watak tersebut. Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui siapa yang paling benar jalannya (ahda sabila). Ini adalah peringatan bahwa pertanggungjawaban akhir hanya akan dilihat dari konsistensi amal dan niat batin seseorang.
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
(QS. Al-Isra: 85)
Ayat penutup rentetan ini membahas pertanyaan besar yang sering diajukan kepada Nabi, yaitu tentang Ar-Ruh (Roh). Mayoritas tafsir menyebutkan bahwa pertanyaan ini datang dari kaum Yahudi yang ingin menguji keilmuan Nabi Muhammad SAW. Jawaban yang diberikan sangat tegas dan fundamental: "Katakanlah, 'Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.'" (Wa ma utitum minal 'ilmi illa qalila).
Pesan dari ayat 85 adalah pengingat akan keterbatasan ilmu pengetahuan manusia. Meskipun ilmu pengetahuan modern telah berkembang pesat, hakikat roh—inti kehidupan—tetap berada di luar jangkauan pemahaman total manusia. Batasan ini mendorong manusia untuk tunduk pada kuasa Ilahi dan tidak terlalu jauh menyelami misteri yang tidak diizinkan untuk dijangkau, dan sebaliknya, fokus pada pedoman yang telah diberikan, yaitu Al-Qur'an.
Jika kita hubungkan ayat 82 dengan ayat 85, terdapat pelajaran mendalam. Sementara manusia sibuk mencari jawaban tentang misteri alam semesta (seperti ruh) yang diberikan ilmu sedikit, mereka sering mengabaikan obat sejati bagi jiwa mereka, yaitu Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah obat yang tersedia, penyembuh yang terbukti, namun banyak yang justru menjadikannya sebagai sumber kerugian karena penolakan atau pengabaian. Memahami Al-Isra 82-85 adalah undangan untuk meninjau kembali prioritas spiritual kita: apakah kita mengejar hal yang samar dengan sedikit bekal, ataukah memanfaatkan rahmat yang jelas untuk menyehatkan jiwa?