Al Isra Ayat 2: Memahami Makna dan Pesan Ilahi

Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 2

Ayat kedua dari Surah Al-Isra (Bani Israil) adalah salah satu ayat penting yang mengingatkan manusia tentang tujuan penciptaan dan keutamaan yang diberikan kepada Nabi Musa AS serta kaumnya.

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا

Arti dan Terjemahan

"Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): 'Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.'"
KITAB

Ilustrasi petunjuk ilahi

Analisis dan Penjelasan Al-Isra Ayat 2

Al-Isra ayat 2 adalah bagian dari serangkaian ayat yang menegaskan hubungan antara Allah SWT dengan hamba-hamba-Nya, khususnya dalam konteks pemberian wahyu dan pedoman hidup. Ayat ini secara spesifik menyoroti karunia besar yang diberikan kepada Nabi Musa AS.

Pemberian Kitab Suci (Taurat)

Allah SWT menyatakan bahwa Dia telah menurunkan Kitab (Taurat) kepada Musa bin Imran. Kitab ini bukanlah sekadar kumpulan tulisan, melainkan wahyu ilahi yang mengandung syariat, hukum, dan hikmah. Pemberian kitab ini adalah bentuk rahmat dan pertolongan Allah kepada Bani Israil yang saat itu berada dalam kondisi yang memerlukan arahan jelas setelah keluar dari perbudakan Firaun.

Taurat berfungsi sebagai fondasi kehidupan spiritual dan sosial mereka. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini menekankan pentingnya memiliki pedoman yang bersumber langsung dari Sang Pencipta. Tanpa petunjuk ilahi, manusia cenderung tersesat dalam kebingungan dan hawa nafsu duniawi.

Petunjuk Bagi Bani Israil

Ayat tersebut melanjutkan dengan menegaskan bahwa Kitab Taurat tersebut dijadikan "hudan li Bani Israil" (petunjuk bagi Bani Israil). Ini menunjukkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi sebelum Nabi Muhammad SAW memiliki fungsi utama sebagai penunjuk jalan. Petunjuk ini mencakup ajaran tauhid, etika, hukum perdata, dan tata cara ibadah.

Meskipun kitab ini secara spesifik ditujukan kepada Bani Israil pada masa itu, secara universal, kisah ini mengajarkan prinsip bahwa setiap umat yang menerima wahyu memiliki tanggung jawab untuk mengikutinya sebagai jalan kebenaran. Kegagalan mereka untuk berpegang teguh pada petunjuk ini, yang disebutkan dalam ayat-ayat berikutnya dalam Surah Al-Isra, menjadi pelajaran bagi umat Islam di masa kemudian.

Larangan Mengambil Pelindung Selain Allah

Bagian akhir ayat ini merupakan penegasan inti tauhid: "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku." Kata "Wakiil" (pelindung atau penolong) di sini memiliki makna yang sangat mendalam. Ini bukan hanya larangan untuk menyembah selain Allah, tetapi juga larangan untuk bersandar, bergantung, atau mencari keamanan mutlak selain dari sumber segala kekuasaan, yaitu Allah SWT.

Ketergantungan total kepada Allah (tawakkul) adalah inti dari ayat ini. Ketika Bani Israil diberi Taurat, mereka diperintahkan untuk meyakini bahwa hanya Allah yang mampu menjaga, menolong, dan membimbing mereka. Mencari perlindungan dari makhluk, kekuasaan duniawi, atau berpegang pada kekuatan sendiri tanpa mengakui peran ilahi adalah bentuk penyimpangan dari ajaran dasar yang dibawa oleh Musa AS.

Mengacu pada konteks sejarah, banyak dari Bani Israil kemudian terpecah belah, sebagian menolak ajaran Nabi Musa, sebagian lagi menyimpang dari isi Taurat karena tergoda oleh kekuasaan duniawi dan mencari sekutu selain Allah, yang pada akhirnya menyebabkan mereka jauh dari petunjuk ilahi.

Relevansi Universal Ayat

Meskipun ayat ini berbicara tentang Bani Israil dan Taurat, pesan utamanya tetap relevan bagi seluruh umat manusia, khususnya umat Islam. Pesan ini adalah pengingat abadi bahwa sumber petunjuk yang paling sahih dan pelindung yang sejati hanyalah Allah. Dalam menghadapi tantangan hidup, tekanan sosial, atau godaan kekuasaan, umat beriman harus senantiasa kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, serta meyakini bahwa pertolongan dan perlindungan hakiki hanya datang dari Zat Yang Maha Kuasa.

Ayat ini mengajarkan bahwa karunia berupa wahyu (seperti Taurat dan Al-Qur'an) harus diterima sebagai pedoman hidup, dan keberhasilan sejati terletak pada kepatuhan mutlak kepada Sang Pemberi wahyu, bukan pada kekuatan ciptaan-Nya.

🏠 Homepage