Al-Qur'an adalah pedoman hidup komprehensif yang mencakup aspek akidah, ibadah, hingga etika sosial. Salah satu ayat yang sering ditekankan karena bobot moralnya adalah Surah Al-Isra (atau Al-Isra' wal-Mi'raj) ayat ke-23. Ayat ini merupakan inti dari ajaran Islam mengenai perlakuan kita terhadap orang tua, sebuah pilar utama dalam pembentukan karakter seorang Muslim. Ayat ini datang setelah penekanan kuat mengenai tauhid (mengesakan Allah) di ayat-ayat sebelumnya, menunjukkan bahwa penghormatan terhadap orang tua adalah konsekuensi logis dari pengakuan terhadap keesaan Tuhan.
Ilustrasi: Hubungan yang mengakar dan penuh kasih sayang
Ayat ini mengajarkan batasan dalam berinteraksi dengan orang tua, namun dengan penekanan pada kebaikan tertinggi yang harus kita berikan kepada mereka.
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah (kamu) berbuat baik kepada kedua orang tua." (QS. Al-Isra [17]: 23)
Ayat ini sangat ringkas namun padat makna. Secara struktural, Allah SWT menyandingkan dua perintah fundamental dalam Islam: Tauhid (mengesakan Allah) dan Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua). Penempatan kedua perintah ini secara berurutan memiliki implikasi mendalam: penghormatan kepada orang tua merupakan bagian integral dari ketundukan sejati kepada Allah SWT. Jika seseorang mengaku beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka manifestasi keimanan itu harus terlihat jelas dalam perilakunya terhadap figur yang paling berjasa dalam hidupnya.
Perintah untuk berbuat baik kepada ibu bapak adalah perintah langsung dari Allah, menjadikannya kewajiban yang hampir setara dengan hak Allah sendiri. Bahkan, ketika ayat-ayat berikutnya membahas tentang bagaimana cara berbakti, kita akan menemukan tingkatan-tingkatan dalam perlakuan baik tersebut. Ini mencakup pemenuhan kebutuhan fisik, emosional, dan menjaga kehormatan mereka selama mereka hidup.
Dalam konteks tafsir, para ulama menekankan bahwa perintah "berbuat baik" ini mencakup segala hal yang menyenangkan hati mereka, selama tidak bertentangan dengan syariat. Ini berbeda dengan perintah yang lebih ketat mengenai larangan syirik, yang merupakan hak mutlak Allah. Dengan menyandingkannya, Islam mengajarkan bahwa kebaikan sosial tertinggi adalah bentuk ibadah yang paling nyata setelah ibadah ritual.
Alasan mengapa orang tua menempati posisi yang tinggi dalam Islam seringkali dikaitkan dengan perjuangan mereka. Ibu, khususnya, menanggung beban kehamilan, melahirkan, dan menyusui—kesulitan yang disebutkan secara spesifik dalam surah Luqman. Ayah berperan sebagai tulang punggung nafkah dan pelindung keluarga. Kesulitan pengorbanan ini menjadikan hak mereka sebagai hutang budi yang tidak akan pernah lunas, meskipun dibayar dengan bakti seumur hidup.
Berbakti kepada orang tua bukan sekadar melaksanakan kewajiban, tetapi juga merupakan investasi akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua. Sebaliknya, kemurkaan Allah bisa didapatkan jika kita menyakiti hati mereka. Oleh karena itu, Al-Isra ayat 23 menjadi pengingat konstan bagi setiap Muslim untuk selalu bersikap tawadhu (rendah hati) dan penuh kasih sayang kepada kedua orang tua, apapun kondisi hubungan mereka saat ini.
Implementasi Al-Isra ayat 23 melampaui sekadar memberi nafkah. Dalam ranah modern, ini berarti:
Memahami dan mengamalkan Al-Isra ayat 23 adalah kunci untuk meraih ketenangan batin dan keberkahan dalam hidup. Ketika hubungan kita dengan pencipta baik (tauhid), dan hubungan kita dengan manusia terdekat (orang tua) juga baik, maka jalan menuju keridhaan Ilahi akan menjadi lebih lapang. Ayat ini adalah cetak biru moralitas Islam yang universal dan abadi.