Setiap lembaran Al-Qur'an mengandung hikmah dan petunjuk yang mendalam bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan penting mengenai kepastian dan akhir dari segala urusan adalah Surat Al-Isra ayat 81. Ayat ini secara spesifik berbicara mengenai validitas dan kekuatan hakiki dari kebenaran di hadapan kebatilan.
Inti Penegasan Kebenaran
Ayat 81 dari Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj) merupakan sebuah deklarasi profetik yang diucapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ayat ini bukan sekadar sebuah harapan, melainkan sebuah janji ilahiah yang tegas. Kata kunci utama dalam ayat ini adalah "Al-Haqq" (kebenaran) dan "Al-Batil" (kebatilan).
Ketika kebenaran, yang diwakili oleh wahyu Ilahi, ajaran tauhid, dan syariat yang dibawa oleh para nabi, itu datang dan ditegakkan, maka secara otomatis struktur kebatilan yang dibangun di atas kesesatan, keraguan, dan penolakan terhadap hakikat, akan mulai runtuh. Kedatangan kebenaran adalah titik balik yang menentukan nasib kebatilan itu sendiri.
Sifat Fana Kebatilan
Bagian kedua dari ayat tersebut menegaskan sifat inheren dari kebatilan: "Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap." Ini adalah jaminan bahwa kebatilan tidak memiliki daya tahan jangka panjang. Kebatilan, meski kadang tampak dominan, kuat, atau mampu menyebar luas dalam waktu tertentu, pada hakikatnya adalah sesuatu yang rapuh dan sementara. Ia bergantung pada ketiadaan cahaya, dan ketika cahaya kebenaran menyinari, kegelapan (kebatilan) tidak punya tempat untuk bersembunyi.
Dalam konteks sejarah, kita bisa melihat bagaimana peradaban yang dibangun di atas fondasi kezaliman dan penyimpangan spiritual selalu berakhir dengan keruntuhan. Sebaliknya, ajaran yang berlandaskan kebenaran (tauhid) akan selalu menemukan jalan untuk kembali eksis, mungkin setelah melalui masa penindasan yang panjang.
Relevansi Dalam Kehidupan Kontemporer
Pemahaman mendalam terhadap Al-Isra ayat 81 sangat krusial bagi seorang Muslim di era modern. Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai ideologi yang saling bertentangan, ayat ini menjadi jangkar spiritual. Ia mengingatkan bahwa semua klaim, teori, atau sistem hidup yang bertentangan dengan petunjuk Allah pada akhirnya akan terbukti sebagai kebatilan yang akan sirna.
Bagi individu, ini berarti adanya ketenangan batin saat menghadapi godaan atau tekanan untuk menyimpang. Jika prinsip yang dipegang teguh adalah kebenaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka ketakutan akan kegagalan atau ketidakpopuleran harus digantikan dengan keyakinan bahwa hasil akhir telah ditetapkan oleh Yang Maha Benar. Meskipun proses tegaknya kebenaran mungkin membutuhkan perjuangan panjang, kesabaran, dan keteguhan hati—seperti yang dicontohkan dalam kisah para nabi—hasil akhirnya adalah kepastian lenyapnya yang palsu.
Kebenaran Sebagai Energi Universal
Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran memiliki energi pendorong yang melekat dalam penciptaan itu sendiri. Allah adalah Al-Haqq (Yang Maha Benar). Oleh karena itu, segala sesuatu yang bersumber dari-Nya pasti mengandung unsur kebenaran yang abadi. Sebaliknya, kebatilan adalah distorsi, penyimpangan dari fitrah yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, ketika kebenaran (Islam) datang, ia tidak perlu berjuang keras melawan kebatilan dengan cara yang sama destruktifnya, melainkan cukup dengan hadir dan menampakkan dirinya secara utuh. Cahaya tidak perlu bertarung dengan kegelapan; ia hanya perlu menyala, dan kegelapan akan tersingkir dengan sendirinya. Pemahaman ini mendorong umat beriman untuk fokus pada konsolidasi dan penegakan nilai-nilai kebenaran (keadilan, kejujuran, iman), alih-alih terlalu terpaku pada upaya menghancurkan setiap bentuk kebatilan secara reaktif.
Kesimpulannya, Al-Isra ayat 81 adalah mercusuar harapan dan kepastian. Ia menjamin bahwa perjuangan melawan kesesatan bukanlah perjuangan yang sia-sia, karena inti dari pesan Ilahi adalah bahwa kebenaran pasti menang dan segala sesuatu yang bertentangan dengannya pasti akan lenyap dari muka bumi.