Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan Penutup", adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-53 dari surah ini memegang posisi penting dalam diskursus keimanan, loyalitas, dan konsekuensi dari keraguan atau ketidakpercayaan terhadap wahyu Allah.
Ayat ini seringkali menjadi sorotan utama ketika membahas pentingnya persatuan umat, bahaya mengikuti hawa nafsu musuh, serta konsekuensi dari sikap munafik atau terpecah belah di tengah komunitas beriman. Memahami konteks turunnya ayat ini dan penafsiran para ulama adalah kunci untuk mengaplikasikan pesan moral dan teologisnya dalam kehidupan kontemporer.
Berikut adalah teks asli ayat tersebut, diikuti dengan terjemahan umumnya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi Auliya’ (pemimpin, pelindung, atau teman setia); sebahagian mereka adalah Auliya’ bagi sebahagian yang lain. Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi Auliya’, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Kata kunci utama dalam ayat ini adalah Auliya’ (jamak dari Wali). Kata ini memiliki spektrum makna yang luas, mulai dari teman dekat, pelindung, sekutu politik, hingga pemimpin spiritual atau otoritas yang ketaatannya harus diutamakan di atas segalanya. Dalam konteks peperangan atau pembentukan negara di masa Nabi Muhammad SAW, Auliya’ merujuk pada ikatan kesetiaan politik dan militer.
Ayat ini secara tegas melarang kaum mukminin menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai Auliya’ dalam arti mengambil mereka sebagai sekutu utama yang mengikat loyalitas hati dan kebijakan, terutama ketika loyalitas tersebut berpotensi bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
Sebagian besar mufassir menghubungkan turunnya ayat ini dengan situasi ketika umat Islam di Madinah menghadapi ancaman eksternal. Pada saat genting tersebut, terdapat segelintir kaum Muslimin yang (karena kelemahan iman atau mencari keuntungan duniawi) masih cenderung mencari perlindungan dan mengambil sekutu dari kalangan Yahudi atau Nasrani yang pada dasarnya memiliki permusuhan ideologis terhadap Islam, atau mereka yang terbukti mengkhianati perjanjian dengan kaum Muslimin (seperti pada kasus Bani Qainuqa' atau Bani Nadhir).
Ayat ini menegaskan prinsip bahwa iman menciptakan garis loyalitas yang jelas. Jika seseorang memilih bersandar dan menempatkan kepercayaannya pada kelompok yang secara ideologis menentang ajaran yang diyakininya, maka ia telah mengkhianati dasar imannya sendiri. Frasa "sebahagian mereka adalah Auliya’ bagi sebahagian yang lain" menunjukkan adanya kesamaan kepentingan politik dan ideologis di antara kelompok-kelompok tersebut yang berlawanan dengan kepentingan umat Islam.
Peringatan dalam Al-Maidah 53 bukanlah sekadar perintah historis yang terbatas pada abad ke-7 Masehi. Para ulama menegaskan bahwa akar masalahnya terletak pada prinsip loyalitas (al-wala’ wal-bara’). Loyalitas penuh harus diberikan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, terutama yang teguh dalam prinsip kebenaran.
Ayat ini menekankan bahwa persatuan dan kekuatan umat Islam bergantung pada kemandirian ideologis dan politik mereka. Mengandalkan pihak luar yang memiliki pandangan dunia yang berbeda secara fundamental akan melemahkan barisan iman dan menyebabkan umat mudah terpecah belah atau terjerumus ke dalam kesesatan. Hal ini diperkuat oleh penutup ayat: "Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Dalam konteks modern, "kezaliman" di sini dapat diartikan sebagai tindakan menempatkan urusan penting umat di bawah pengaruh atau kontrol pihak yang tidak memiliki kepentingan tulus terhadap kemaslahatan Islam, yang pada akhirnya menjauhkan mereka dari kebenaran dan petunjuk Ilahi.
Oleh karena itu, Al-Maidah ayat 53 menjadi landasan penting dalam membangun integritas komunitas Muslim, memastikan bahwa sumber kekuatan, perlindungan, dan pengambilan keputusan tetap berpusat pada ketaatan kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.