Al-Qur'anul Karim adalah sumber hukum tertinggi bagi umat Islam. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang mengatur berbagai aspek kehidupan, mulai dari ibadah hingga muamalah. Salah satu ayat yang penting untuk dipahami secara mendalam adalah Surah Al-Maidah ayat 98. Ayat ini memberikan landasan penting mengenai siapa yang berhak menerima ampunan dan siapa yang menjadi pelindung bagi orang-orang yang bertakwa.
"Katakanlah (hai Muhammad): 'Buktikanlah kebenaran ucapanmu itu jika kamu memang orang-orang yang benar!' (Ingatlah) sesungguhnya orang yang paling berhak menerima pertolongan dan perlindungan dari Allah ialah orang-orang yang bertakwa kepada-Nya dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)." (QS. Al-Maidah: 98)
Ayat 98 dari Surah Al-Maidah ini seringkali diturunkan dalam konteks seruan kepada kaum musyrikin atau mereka yang meragukan kebenaran ajaran Islam untuk membuktikan klaim mereka. Namun, makna universal dari ayat ini jauh melampaui konteks spesifik tersebut. Ayat ini menegaskan sebuah prinsip fundamental dalam Islam: **hubungan langsung antara ketakwaan dan pertolongan Allah (al-walayah).**
Allah SWT secara eksplisit menyatakan bahwa pertolongan dan perlindungan-Nya (al-walayah) dikhususkan bagi dua kelompok utama: orang-orang yang bertakwa (al-muttaqin) dan orang-orang yang berbuat ihsan.
Takwa adalah inti dari segala amal shaleh. Secara harfiah, takwa berarti memelihara diri dari kemurkaan Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam konteks Al-Maidah 98, orang yang bertakwa adalah mereka yang menjadikan Allah sebagai prioritas utama dalam setiap langkah dan keputusan hidup mereka. Mereka sadar akan pengawasan Allah (ihsan) dan berusaha keras menjaga hati serta perbuatan mereka.
Pertolongan Allah kepada orang yang bertakwa bukan hanya berarti terhindar dari musibah duniawi semata. Pertolongan ini meliputi ketenangan batin, kemudahan dalam menghadapi ujian, dan yang terpenting, rahmat serta ampunan di akhirat kelak. Ketika seseorang benar-benar bertakwa, ia akan menemukan bahwa segala urusannya menjadi lebih mudah karena ia bersandar pada Zat Yang Maha Kuasa.
Ayat ini melengkapi takwa dengan sifat ihsan. Ihsan memiliki dua tingkatan makna utama. Pertama, ihsan dalam beribadah, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak bisa melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihat kita. Kedua, ihsan dalam bermuamalah, yaitu berbuat kebaikan kepada sesama makhluk, menolong yang membutuhkan, dan bersikap dermawan.
Mengapa ihsan disebutkan bersamaan dengan takwa? Karena takwa seringkali berfokus pada aspek penghindaran (menjauhi larangan), sementara ihsan menekankan aspek proaktif (melakukan kebaikan). Kombinasi keduanya menciptakan seorang Muslim yang paripurna: ia menjaga dirinya dari keburukan (takwa) sekaligus aktif menyebarkan kebaikan (ihsan). Allah menjanjikan perlindungan-Nya kepada mereka yang mengombinasikan dua sifat mulia ini.
Ilustrasi: Representasi perlindungan ilahi bagi orang bertakwa.
Memahami Al-Maidah 98 bukan sekadar menghafal teks, tetapi mengaplikasikannya. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang layak mendapatkan pertolongan-Nya?
Inti dari Al-Maidah ayat 98 adalah janji ilahi: Siapa yang menempatkan Allah di puncak prioritas hidupnya dengan cara bertakwa dan berbuat baik (ihsan), maka Allah menjamin bahwa Dialah yang akan menjadi pelindung, penolong, dan wali utama mereka, baik di dunia yang penuh ujian maupun di akhirat yang penuh perhitungan.