Surah Al-Maidah, yang berarti Hidangan, mengandung banyak kisah penting dan hukum-hukum dalam Islam. Bagian ayat 11 hingga 20 ini secara spesifik mengingatkan umat Islam tentang pentingnya mengingat nikmat Allah, menepati janji, serta konsekuensi dari ingkar janji dan ketidakpatuhan.
Ayat-ayat ini dimulai dengan seruan kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa mengingat sumpah dan perjanjian yang telah mereka ikrarkan kepada Allah, serta mengingat kembali perlakuan kaum-kaum terdahulu yang melanggar perjanjian tersebut. Bagian awal ini menekankan fondasi moralitas Islam yaitu komitmen dan tanggung jawab.
(11) Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu, maka Allah menahan tangan mereka dari kamu dan Allah Maha Mencegah. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman bertawakal.
Inti: Mengingat pertolongan Allah di saat genting dan pentingnya berserah diri (tawakal).
Setelah mengingatkan perlindungan ilahi di masa lalu (khususnya terkait peristiwa Perang Khandaq atau pertempuran di masa awal Madinah), ayat-ayat selanjutnya menggarisbawahi pentingnya memegang teguh perjanjian ('aqd) dan janji yang telah diucapkan. Dalam konteks ayat 12-14, Allah mengingatkan tentang ingkarnya Bani Israil terhadap perjanjian yang telah diberikan, yang berujung pada hukuman berupa keterasingan dan kebencian di antara mereka hingga Hari Kiamat.
(14) Dan dari orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani", Kami ambil perjanjian dari mereka, tetapi mereka (sebagian) melupakan sebagian dari peringatan yang diberikan kepada mereka, maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka perbuat.
Inti: Konsekuensi melupakan sebagian ajaran agama adalah timbulnya perpecahan dan permusuhan abadi.
Ayat 15 hingga 16 secara khusus berbicara tentang kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa cahaya (an-Nur) dan Al-Kitab yang jelas. Ini adalah nikmat besar yang menuntut pertanggungjawaban. Kaum mukmin diperintahkan untuk tetap konsisten dalam menjalankan perintah Allah, karena keselamatan dunia dan akhirat bergantung pada keteguhan ini.
Ayat 17 dan 18 menguatkan bahwa kekuasaan di langit dan di bumi sepenuhnya milik Allah. Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Meskipun demikian, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Namun, penegasan ini juga ditujukan kepada Ahli Kitab yang menganggap bahwa mereka memiliki jalan yang pasti, padahal jalan yang benar adalah jalan yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an.
(20) Katakanlah: "Hai orang-orang Yahudi dan Nasrani, marilah kamu kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kamu, yaitu: bahwa kita tidak menyembah selain Allah, dan kita tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya, dan bahwa (sebagian) dari kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
Inti: Ajakan fundamental menuju tauhid murni; dasar kesamaan semua agama samawi.
Ayat 20 adalah puncak dari ajakan dialog pada bagian ini. Ini adalah seruan universal kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk kembali kepada inti ajaran semua nabi: pemurnian ibadah hanya kepada Allah (Tauhid) dan penolakan terhadap segala bentuk penyekutuan. Jika mereka menolak seruan yang jelas dan universal ini, maka umat Islam diperintahkan untuk menyatakan posisi mereka dengan tegas sebagai Muslim yang tunduk patuh kepada Allah.
Secara keseluruhan, rentang ayat Al-Maidah 11-20 berfungsi sebagai pengingat historis mengenai konsekuensi pengkhianatan terhadap janji Allah, penekanan pada pentingnya rasa syukur atas pertolongan-Nya, dan ajakan fundamental untuk menegakkan prinsip tauhid sebagai landasan kehidupan beragama yang benar.