Ilustrasi simbolis panduan ilahi
Surah Al-Ma'idah adalah surah kelima dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Termasuk dalam kategori surah Madaniyah, surah ini kaya akan penetapan hukum dan norma-norma kehidupan sosial, politik, dan ibadah bagi umat Islam. Nama "Al-Ma'idah" sendiri berarti "Hidangan," yang diambil dari kisah kaum Nabi Musa AS yang meminta hidangan dari langit, sebagaimana disebutkan dalam ayat ke-112 hingga 115 surah ini.
Sebagai salah satu surah yang turun belakangan, Al-Ma'idah mengandung banyak sekali syariat penting yang mengatur berbagai aspek kehidupan. Keutamaan surah ini terletak pada kelengkapannya dalam membahas hal-hal yang berkaitan dengan muamalah (interaksi antarmanusia) dan ibadah mahdhah (ibadah khusus). Mempelajari surah ini berarti menggali pedoman praktis yang disajikan secara komprehensif oleh Allah SWT.
Al-Ma'idah memuat berbagai hukum yang menjadi fondasi bagi tatanan kehidupan Muslim. Beberapa di antaranya adalah:
Pengaturan hukum ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar teks spiritual, tetapi juga konstitusi hidup yang mencakup seluruh dimensi eksistensi manusia. Ketegasan dalam menetapkan halal dan haram berfungsi sebagai pagar pelindung bagi moralitas dan kesehatan umat.
Bagian tengah surah ini banyak membahas dialog dan kritik terhadap praktik keagamaan yang menyimpang dari ajaran tauhid murni, khususnya yang dilakukan oleh sebagian kalangan Yahudi dan Nasrani. Ayat-ayat ini mengingatkan kembali tentang mukjizat Nabi Isa bin Maryam AS.
Kisah yang melahirkan nama surah ini adalah permintaan para pengikut Nabi Isa untuk mendapatkan hidangan dari langit (Al-Ma'idah). Kisah ini diabadikan sebagai pengingat akan nikmat Allah yang luar biasa, namun juga sebagai pelajaran tentang bahaya ingkar nikmat dan sifat keras kepala. Allah menegaskan posisi Nabi Isa sebagai hamba dan rasul-Nya, membantah klaim ketuhanan atau persekotuan dengan Allah yang muncul belakangan dalam sejarah keagamaan.
Penekanan pada kisah-kisah terdahulu ini berfungsi sebagai peringatan historis agar umat Nabi Muhammad SAW tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu dalam menyelewengkan ajaran kenabian.
Ayat pamungkas Surah Al-Ma'idah, ayat 3, adalah salah satu ayat paling agung dan monumental dalam Islam. Ayat ini menyatakan bahwa agama Islam telah disempurnakan: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu menjadi agamamu." Pernyataan ini menegaskan bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah wahyu terakhir yang final dan paripurna, tidak memerlukan penambahan atau pengurangan.
Setelah kesempurnaan nikmat agama ini, Al-Qur'an memberikan peringatan keras mengenai pertanggungjawaban amal di hadapan Allah. Semua perbuatan, baik yang terlihat maupun tersembunyi, akan dihisab. Surah Al-Ma'idah menutup dengan seruan untuk berpegang teguh pada keadilan dan takwa, karena ketaatan kepada Allah adalah sumber kemuliaan hakiki di dunia dan akhirat, jauh melampaui kekuasaan atau otoritas duniawi lainnya. Surah ini, dengan segala hukum dan hikmahnya, adalah peta jalan menuju keridhaan Ilahi.