Ilustrasi konseptual tentang multiverse dan realitas tersembunyi.
Konsep alam semesta yang lain, atau yang sering disebut sebagai multiverse, telah lama menjadi subjek yang memicu imajinasi umat manusia. Dari mitologi kuno hingga fisika teoretis modern, ide bahwa realitas kita hanyalah satu di antara banyak realitas terus menghantui para ilmuwan dan filsuf. Dalam dekade terakhir, kemajuan dalam kosmologi kuantum dan teori string telah memberikan landasan ilmiah yang lebih substansial bagi spekulasi yang terdengar seperti fiksi ilmiah ini.
Ketika kita berbicara tentang "alam semesta yang lain," kita biasanya merujuk pada beberapa model teoretis. Salah satu yang paling populer adalah konsep "alam semesta gelembung" (bubble universes) yang muncul dari teori inflasi abadi. Dalam model ini, ruang terus mengembang (inflasi), dan terkadang, inflasi berhenti di wilayah lokal, menciptakan "gelembung" yang menjadi alam semesta terpisah dengan hukum fisika yang mungkin berbeda. Alam semesta kita hanyalah satu gelembung di lautan kosmik yang terus membesar.
Kemudian ada interpretasi dari mekanika kuantum, dikenal sebagai interpretasi Banyak Dunia (Many-Worlds Interpretation / MWI). Teori ini menyatakan bahwa setiap kali terjadi pengukuran kuantum—setiap kali sebuah peristiwa memiliki beberapa kemungkinan hasil—alam semesta terpecah menjadi salinan-salinan yang tak terhingga, di mana setiap hasil yang mungkin terwujud dalam realitasnya sendiri. Bayangkan miliaran versi diri Anda sedang membuat keputusan yang berbeda pada saat ini juga.
Salah satu aspek paling menarik dari alam semesta yang lain adalah potensi variasi hukum fisika. Alam semesta kita diatur oleh konstanta fundamental yang sangat spesifik—seperti kecepatan cahaya, massa elektron, dan kekuatan gravitasi. Jika konstanta-konstanta ini sedikit saja berbeda, bintang tidak akan terbentuk, atom tidak stabil, dan kehidupan seperti yang kita kenal tidak mungkin ada. Ini adalah apa yang disebut sebagai 'Fine-Tuning Problem'.
Dalam konteks multiverse, keberadaan alam semesta lain memberikan jawaban elegan: kita berada di alam semesta yang "beruntung" karena hukumnya mendukung keberadaan pengamat. Alam semesta lain mungkin memiliki tiga dimensi ruang ditambah waktu yang bergerak mundur, atau mungkin memiliki gaya nuklir kuat yang terlalu lemah untuk menyatukan partikel. Eksplorasi teoritis terhadap alam semesta yang lain membantu kita memahami betapa spesifiknya kondisi yang memungkinkan kita ada di sini.
Tantangan terbesar dalam membuktikan keberadaan alam semesta yang lain adalah sifat intrinsik dari definisi mereka: jika mereka benar-benar terpisah, komunikasi atau observasi langsung hampir mustahil dilakukan dengan fisika saat ini. Namun, para ilmuwan sedang mencari "tanda-tanda" tidak langsung.
Satu kemungkinan adalah menemukan "memar kosmik" (cosmic bruises) pada latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB). Ini adalah sisa panas dari Big Bang. Jika alam semesta kita pernah bertabrakan atau bersentuhan dengan alam semesta gelembung lain di masa lalu yang sangat jauh, tabrakan tersebut mungkin meninggalkan pola temperatur yang aneh dan tidak terduga pada peta CMB yang bisa dideteksi oleh teleskop generasi berikutnya. Meskipun spekulatif, pencarian ini mendorong batas-batas astrofisika observasional.
Selain itu, teori string menyarankan adanya dimensi tambahan (seperti sepuluh atau sebelas dimensi). Meskipun sebagian besar dimensi ini mungkin "tergulung" sangat kecil, beberapa hipotesis mengajukan bahwa alam semesta lain mungkin berada pada "brane" (membran) lain yang berbagi ruang dengan kita, meskipun terpisah dalam dimensi ekstra yang tidak kita rasakan. Jika gravitasi dapat "bocor" antara brane, ini mungkin meninggalkan jejak yang dapat diukur dalam eksperimen akselerator partikel berenergi tinggi.
Pada akhirnya, alam semesta yang lain mewakili batas pengetahuan kita. Mereka memaksa kita untuk mempertimbangkan kembali apa itu realitas, apa peran probabilitas, dan mengapa alam semesta kita memiliki sifat-sifat yang sangat mendukung kehidupan. Sementara bukti langsung masih menjadi misteri, perjalanan teoretis menuju pemahaman multiverse terus membuka cakrawala baru dalam sains fundamental.