Ilustrasi volume ejakulasi yang berkurang.
Volume ejakulasi yang normal bervariasi, namun rata-rata berkisar antara 1,5 hingga 5 mililiter (sekitar sepertiga hingga satu sendok teh). Ketika seorang pria menyadari bahwa cairan yang keluar saat ejakulasi terasa jauh lebih sedikit dari biasanya, hal ini sering menimbulkan kekhawatiran mengenai kesuburan atau kesehatan reproduksi secara umum. Kondisi ini dikenal sebagai hipospermia.
Penyebab sperma keluar sedikit bisa bersifat sementara dan tidak perlu dikhawatirkan, namun bisa juga menjadi indikasi adanya kondisi medis yang memerlukan perhatian. Memahami akar permasalahannya adalah langkah pertama untuk mencari solusi yang tepat.
Beberapa faktor sehari-hari dapat sangat memengaruhi volume ejakulat untuk sementara waktu. Jika volume kembali normal setelah beberapa hari, kemungkinan besar penyebabnya adalah salah satu dari faktor ini:
Jika penurunan volume ejakulasi terjadi secara persisten, ada beberapa kondisi medis yang mungkin menjadi penyebabnya. Ini biasanya melibatkan masalah pada organ penghasil cairan semen, yaitu testis, kelenjar prostat, atau vesikula seminalis.
Saluran ejakulasi adalah jalur tempat sperma dan cairan dari kelenjar lain bertemu sebelum dikeluarkan. Penyumbatan (obstruksi) pada salah satu atau kedua saluran ini dapat secara signifikan mengurangi jumlah cairan yang mencapai uretra. Penyebab penyumbatan bisa berupa:
Testosteron berperan penting dalam produksi sperma dan cairan seminal. Kadar testosteron yang rendah (hipogonadisme), yang dapat disebabkan oleh masalah pada testis atau kelenjar pituitari, dapat mengurangi volume ejakulasi secara keseluruhan karena berkurangnya produksi cairan.
Kedua kelenjar ini bertanggung jawab menyumbang sebagian besar volume ejakulasi (sekitar 70-90% dari total volume).
Ini adalah kondisi di mana ejakulat (cairan semen) tidak keluar melalui penis, melainkan mengalir mundur ke kandung kemih selama orgasme. Karena cairan masuk ke kandung kemih, volume yang keluar melalui penis menjadi sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Ejakulasi retrograde sering dikaitkan dengan diabetes, operasi prostat atau kandung kemih, atau penggunaan obat-obatan tertentu. Urin setelah ejakulasi biasanya akan tampak keruh karena bercampur dengan sperma.
Jika Anda secara konsisten mengalami volume ejakulasi yang sangat rendah selama beberapa minggu, terutama jika disertai dengan gejala lain seperti nyeri saat ejakulasi, kesulitan ereksi, atau perubahan warna urin, sangat disarankan untuk menemui dokter spesialis urologi atau andrologi. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, menanyakan riwayat kesehatan, dan mungkin menyarankan tes analisis sperma atau tes darah untuk mengukur kadar hormon.
Meskipun volume ejakulasi yang sedikit menimbulkan kecemasan, perlu diingat bahwa jumlah sperma yang sehat (konsentrasi) jauh lebih penting untuk kesuburan daripada total volume ejakulasi. Namun, memahami penyebab hipospermia tetap krusial untuk menjaga kesehatan reproduksi secara menyeluruh.