Ilustrasi: Makna hidangan (Al-Ma'idah) dan cahaya petunjuk.
Surah Al-Ma'idah (Al-Ma’idah berarti "Hidangan") merupakan salah satu surah Madaniyah terakhir yang diturunkan. Nama ini diambil dari kisah permintaan kaum Hawariyyin kepada Nabi Isa AS agar Allah SWT menurunkan hidangan makanan dari langit, sebagaimana diceritakan dalam ayat 112 hingga 115. Surah ini mengandung banyak sekali aspek hukum (syariat) yang sangat penting, menjadikannya salah satu rujukan utama dalam fikih Islam.
Secara umum, Al-Ma'idah membahas tentang penyempurnaan ajaran Islam, pemenuhan janji (akad), hukum-hukum mengenai makanan, perburuan, pernikahan, hingga tata cara berwudhu dan tayamum. Surah ini juga menegaskan kembali pentingnya keadilan mutlak, bahkan ketika berhadapan dengan musuh. Ayat-ayatnya menggarisbawahi prinsip bahwa kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh mendorong seorang Muslim untuk berlaku tidak adil.
Salah satu pesan paling fundamental dari surah ini adalah penekanan terhadap keadilan. Ayat 8 adalah landasan moral yang sering dikutip:
Ayat ini mengajarkan bahwa integritas moral seorang Muslim harus melampaui sentimen pribadi, kebencian, atau afiliasi kelompok. Keadilan (Ihsan) adalah nilai universal yang harus diterapkan tanpa kompromi, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun. Ini menunjukkan kedewasaan konsep hukum dalam Islam, yang menempatkan kebenaran di atas kepentingan golongan.
Al-Ma'idah memuat banyak ketentuan rinci yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Mulai dari ketentuan halal-haramnya hewan buruan (ayat 96), ketentuan pernikahan (ayat 5), hingga pembahasan mengenai Ahlul Kitab.
Surah ini juga memperjelas tentang apa yang diizinkan bagi umat Islam untuk dikonsumsi dari makanan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), yaitu yang disembelih sesuai syariat, serta memperbolehkan menikahi wanita dari kalangan mereka (ayat 5). Namun, ayat ini juga diikuti dengan penegasan kembali bahwa wanita Muslimah hanya boleh dinikahi oleh pria Muslim.
Selain itu, terdapat juga aturan mengenai sanksi (hudud) bagi para pelaku kejahatan tertentu, yang bertujuan untuk menjaga ketertiban dan keamanan sosial dalam komunitas Muslim.
Bagian tengah surah ini menceritakan dialog antara Nabi Isa AS dengan para Hawariyyin mengenai hidangan yang diminta. Permintaan ini adalah ujian keimanan bagi para murid Nabi Isa. Setelah hidangan tersebut turun, mereka berjanji untuk selalu beriman dan bersaksi atas kebenaran. Allah SWT mengingatkan bahwa janji (akad) tersebut harus ditepati.
Pesan dari kisah ini sangat jelas: setelah menyaksikan mukjizat dan menerima kebenaran yang nyata, komitmen iman haruslah kokoh dan tidak boleh goyah. Konteks hidangan ini menjadi simbol rezeki ilahi yang harus diiringi rasa syukur dan ketaatan yang berkelanjutan.
Menjelang akhir surah, terdapat dialog penting antara Allah SWT dengan para nabi terdahulu, termasuk Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa risalah Islam adalah kelanjutan dan penyempurnaan dari risalah sebelumnya. Surah Al-Ma'idah ditutup dengan pengakuan bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan diridhai Allah SWT.
Dengan segala aspek hukum, moralitas, dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya, Surah Al-Ma'idah berfungsi sebagai kompas bagi umat Islam untuk menjalani kehidupan yang seimbang, di mana ketaatan kepada Allah SWT diwujudkan melalui perilaku yang adil, jujur, dan bertanggung jawab di hadapan sesama manusia. Mempelajari surah ini berarti mendalami inti dari tatanan sosial Islami yang ideal.