Ilustrasi simbolik tentang goncangan dahsyat.
Ayat yang menjadi pembuka Surat Az-Zalzalah (Surat ke-99 dalam Al-Qur'an) selalu memicu perenungan mendalam bagi setiap Muslim. Ayat tersebut adalah "Idza zulzilatil ardu zilzalaha". Kalimat ini bukan sekadar deskripsi peristiwa alam biasa, melainkan sebuah peringatan keras mengenai hari kiamat, Hari Pembalasan, di mana seluruh tata tertib dunia akan berakhir dan pertanggungjawaban atas segala perbuatan akan dimulai.
Untuk memahami kedalaman maknanya, kita perlu memecah frasa tersebut. Kata "Idza" berarti "Ketika". Kemudian, "Zulzilatil ardu" secara harfiah berarti "Bumi diguncangkan". Kata dasarnya, *zalzalah*, merujuk pada guncangan yang sangat hebat, gempa bumi yang luar biasa kuat, melebihi segala jenis gempa yang pernah dialami manusia di muka bumi. Penekanan pada kata 'zilzalaha' (dengan akhiran 'ha' yang merujuk kembali ke bumi) menunjukkan bahwa guncangan tersebut adalah guncangan yang total dan menyeluruh atas planet ini.
Jadi, arti dari "Idza zulzilatil ardu zilzalaha" adalah: "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang hebat".
Ayat ini membuka rangkaian peristiwa yang menggambarkan kepanikan luar biasa yang akan terjadi pada hari kebangkitan. Ketika guncangan hebat pertama itu datang, seluruh tatanan alam semesta akan mengalami kekacauan. Gunung-gunung yang selama ini tampak kokoh akan hancur menjadi debu yang beterbangan. Lautan akan meluap dan bercampur, sementara semua bangunan dan struktur yang dibangun manusia akan runtuh tanpa sisa.
Goncangan ini menandai berakhirnya kehidupan duniawi dan dimulainya fase perhitungan amal. Bagi orang-orang yang menyaksikannya, rasa takut akan menjadi dominan, sebagaimana digambarkan dalam ayat-ayat selanjutnya: "Dan bumi mengeluarkan isi beratnya." Ayat ini mengindikasikan bahwa bumi akan memuntahkan semua yang terpendam di dalamnya, baik itu mayat-mayat yang telah dikubur maupun harta karun tersembunyi.
Makna dari Idza zulzilatil ardu zilzalaha bukan sekadar ramalan bencana, melainkan sebuah pengingat teologis yang kuat. Surat ini menekankan dua prinsip utama dalam Islam: Pertanggungjawaban Universal dan Keadilan Mutlak Tuhan.
Setelah bumi mengeluarkan isinya, manusia akan dibangkitkan dan diperhadapkan dengan realitas baru. Setiap perbuatan, sekecil apapun—entah itu kebaikan atau keburukan—akan ditampakkan. Tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah SWT. Inilah konsep "Hisab" atau perhitungan amal.
Surat ini mengajarkan kita untuk selalu hidup dalam kesadaran akan akhirat. Karena guncangan dahsyat itu pasti terjadi, maka persiapan amal shaleh harus menjadi prioritas utama. Keraguan atau kemaksiatan yang dilakukan saat di dunia akan diperhitungkan saat bumi "berbicara" dan "mengeluarkan isinya".
Ayat selanjutnya dalam surat tersebut memberikan gambaran tentang kebingungan manusia: "Dan manusia berkata, 'Mengapa bumi ini (berguncang)?'" Pertanyaan retoris ini menunjukkan betapa manusia—yang selama hidupnya merasa aman dan menguasai bumi—terkejut ketika fondasi eksistensinya dihancurkan oleh kehendak Ilahi.
Kebingungan itu semakin menjadi-jadi ketika bumi memberikan kesaksiannya: "Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya." Bumi yang selama ini menjadi saksi bisu atas segala perbuatan manusia, baik yang dilakukan di permukaan maupun di perutnya, akan diperintahkan untuk melaporkan semuanya. Ini adalah puncak dari keadilan, di mana alam semesta ikut bersaksi atas tindakan penciptanya.
Oleh karena itu, memahami arti "Idza zulzilatil ardu zilzalaha" harus memotivasi kita untuk bertindak. Kita hidup di dunia yang akan mengalami goncangan akhir. Alih-alih takut tanpa daya, kita justru harus bersemangat untuk menanam kebaikan hari ini, agar ketika hari perhitungan itu tiba, kita tidak termasuk golongan yang meratapi nasib di hadapan bumi yang telah bersaksi atas segala perbuatan kita. Inti dari pesan ini adalah penegasan bahwa kehidupan dunia hanya sementara, dan pertanggungjawaban di akhirat adalah final dan tak terhindarkan.