Memahami Arti dari Al Humazah

Ikon Peringatan

Pengantar Surat Al-Humazah

Surat Al-Humazah adalah salah satu surat pendek dalam Al-Qur'an, terletak pada urutan ke-104. Surat ini tergolong Makkiyah, yang berarti diturunkan di Mekkah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Meskipun ayatnya singkat, kandungan maknanya sangat padat dan memberikan peringatan keras mengenai perilaku tercela yang merusak hubungan manusia dengan Tuhannya dan sesama manusia. Memahami arti dari Al Humazah sangat penting sebagai introspeksi diri terhadap potensi kesombongan dan sifat merendahkan orang lain.

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela," (QS. Al-Humazah: 1)

Kata kunci utama dalam surat ini adalah "Al-Humazah" (الهمّازَة) dan "Al-Lumaazah" (اللمّازَة). Secara harfiah, kedua kata ini merujuk pada tindakan mencela, menggunjing, dan meremehkan orang lain. Ini bukan sekadar kritik membangun, melainkan sebuah kebencian tersembunyi yang diwujudkan melalui lisan dan perbuatan.

Membedah Arti dari Al Humazah dan Al-Lumaazah

Para mufassir (ahli tafsir) memberikan penjelasan yang mendalam mengenai perbedaan halus namun signifikan antara kedua istilah tersebut. Arti dari Al Humazah sering diartikan sebagai orang yang senang mencela atau mengumpat dengan menggunakan isyarat tubuh, mata, atau gerakan kepala untuk merendahkan orang lain secara sembunyi-sembunyi (secara fisik atau isyarat).

Sementara itu, Al-Lumaazah merujuk pada orang yang suka mencela secara terang-terangan melalui ucapan atau lidahnya. Intinya, baik humazah maupun lumaazah adalah sifat yang berakar dari penyakit hati berupa kesombongan, iri hati, dan rasa superioritas. Allah SWT mengancam orang-orang dengan sifat ini dengan ancaman yang sangat berat.

Ancaman bagi Pengumpul Harta dan Perhiasan Dunia

Ayat selanjutnya dalam surat ini menjelaskan motivasi di balik perilaku mencela tersebut:

"Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya." (QS. Al-Humazah: 2-3)

Ini menunjukkan bahwa akar masalahnya adalah materialisme ekstrem. Orang yang terjerumus dalam sifat humazah dan lumaazah biasanya sangat terobsesi dengan akumulasi kekayaan dan merasa aman hanya karena banyaknya harta yang dimiliki. Mereka menyamakan nilai diri mereka dengan aset materi, lupa bahwa harta tersebut tidak dapat membeli keabadian atau menyelamatkan mereka dari azab Allah. Mereka sibuk menghitung lembaran demi lembaran, seolah-olah angka kekayaan itu adalah jaminan hidup abadi.

Ketentuan Allah: Dijebloskan ke Dalam Al-Hutamah

Puncak peringatan dalam surat ini terdapat pada ayat-ayat berikutnya, di mana Allah menjelaskan tempat balasan bagi mereka:

"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Dan tahukah kamu apakah Hutamah itu? (yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan," (QS. Al-Humazah: 4-6)

Al-Hutamah (الحطمة) secara harfiah berarti sesuatu yang menghancurkan, meremukkan, atau membakar hingga ke dasar. Ini adalah deskripsi neraka yang sangat mengerikan. Api di dunia, sekecil apapun, akan padam atau berhenti membakar. Namun, api Hutamah adalah api ciptaan Allah yang tidak pernah padam dan mampu menembus hingga ke hati dan jiwa.

Penting untuk merenungkan bagaimana ketergantungan berlebihan pada harta dan penghinaan terhadap sesama akan berbalik menjadi azab yang melahap habis. Ini adalah konsekuensi logis: seseorang yang merusak kehormatan orang lain di dunia akan dihancurkan kehormatannya di akhirat.

Kesimpulan Penting dari Surat Al-Humazah

Untuk menghindari ancaman ini, seorang Muslim wajib membersihkan hatinya dari penyakit sombong, riya' (pamer), dan nifaq (kemunafikan sosial). Arti dari Al Humazah harus menjadi pengingat konstan bahwa perhiasan sejati seorang hamba adalah akhlaknya, bukan asetnya. Kekayaan harus digunakan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai alat untuk merendahkan ciptaan-Nya yang lain.

Ayat penutup surat ini menggarisbawahi sifat api tersebut:

"yang menyiksa (manusia) yang berdosa. (yaitu) api (azab) Allah (yang membakar) dada-dada mereka." (QS. Al-Humazah: 7-8)

Azab tersebut menyentuh bagian terdalam, yaitu dada, tempat bersemayamnya hati dan niat. Oleh karena itu, surat Al-Humazah mengajarkan kita untuk hidup rendah hati, menjaga lisan dari ghibah dan fitnah, serta menyadari bahwa semua kenikmatan duniawi adalah ujian, bukan tujuan akhir kehidupan. Dengan demikian, kita dapat mengharapkan rahmat dan perlindungan dari api yang telah dijanjikan bagi para pencela dan pengumpul harta yang kikir.

🏠 Homepage