Perjalanan Agung Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Mukadimah Perjalanan Spiritual

Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar dan paling agung yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Perjalanan spiritual dan fisik ini bukan sekadar kisah heroik, tetapi juga mengandung pelajaran tauhid, ketabahan, dan kedudukan mulia Rasulullah di sisi Allah SWT. Isra (perjalanan malam hari) membawa Rasulullah dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara Mi'raj (kenaikan) adalah kelanjutan perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju langit tertinggi, Sidratul Muntaha.

Kisah ini menegaskan kembali posisi Nabi Muhammad sebagai penutup para anbiya dan rasul, serta menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam, terutama dengan diwajibkannya salat lima waktu langsung dari Allah SWT.

Ilustrasi visualisasi perjalanan malam dan kenaikan ke langit Perjalanan Malam Kenaikan Mekkah

Ayat yang Menceritakan Isra Mi'raj

Sumber utama dan primer mengenai Isra Mi'raj termaktub dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Isra’ ayat pertama. Ayat ini secara eksplisit menceritakan bagian 'Isra' atau perjalanan malam hari dari satu masjid suci ke masjid suci lainnya.

Surah Al-Isra' (Al-Isra): Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini adalah landasan teologis utama. Kata "Isra" (أَسْرَىٰ) berarti perjalanan di malam hari, dan tujuan awal disebutkan dengan jelas: dari Masjidil Haram (di Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (di Yerusalem). Allah SWT menegaskan bahwa tujuan perjalanan ini adalah untuk menunjukkan "sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami" kepada Nabi Muhammad SAW. Bagian Mi'raj—kenaikan ke langit—tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat ini, namun dijelaskan secara rinci dalam Hadis-hadis sahih yang menjadi pelengkap penjelasan ayat tersebut.

Peran Hadis dalam Melengkapi Kisah Mi'raj

Meskipun Surah Al-Isra' ayat 1 menjadi pondasi ayat yang menceritakan isra mi raj, detail mengenai kenaikan Nabi Muhammad SAW ke tingkatan-tingkatan langit (Mi'raj) dan pertemuan beliau dengan para nabi terdahulu dijelaskan secara komprehensif melalui riwayat hadis. Beberapa hadis sahih, terutama yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, menceritakan tahapan perjalanan tersebut.

Dalam riwayat hadis, diceritakan bahwa Nabi Muhammad diperjalankan menggunakan tunggangan ajaib bernama Buraq. Setelah tiba di Masjidil Aqsa, beliau menjadi imam shalat bagi para nabi yang telah berkumpul di sana, sebagai penanda bahwa risalah Islam adalah puncak dari seluruh risalah kenabian sebelumnya. Setelah itu, dimulailah proses Mi'raj.

Rangkaian Penting dalam Mi'raj

  1. Penerimaan Salat Lima Waktu: Ini adalah hadiah terbesar. Awalnya, salat diwajibkan lima puluh kali sehari semalam, kemudian melalui dialog bijaksana antara Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT, dikurangi menjadi lima kali sehari semalam, namun pahalanya tetap setara dengan lima puluh kali.
  2. Pertemuan dengan Para Nabi: Beliau bertemu dengan Nabi Adam AS di langit pertama, Nabi Yahya dan Zakariya AS di langit kedua, Nabi Yusuf AS di langit ketiga, Nabi Idris AS di langit keempat, Nabi Harun AS di langit kelima, Nabi Musa AS di langit keenam, dan Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh.
  3. Sidratul Muntaha: Batas akhir yang tidak bisa dilampaui oleh makhluk lain, kecuali Nabi Muhammad SAW atas izin Allah SWT. Di sinilah beliau menerima wahyu dan menyaksikan kebesaran Ilahi yang tak terhingga.

Makna Filosofis Isra Mi'raj

Peristiwa Isra Mi'raj bukan semata-mata perjalanan fisik belaka, namun memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Islam. Ia terjadi di masa tersulit dalam dakwah Nabi, setelah peristiwa wafatnya istri tercinta Khadijah RA dan penolakan keras dari kaum Ta'if (dikenal sebagai 'Aamul Huzn' atau Tahun Kesedihan). Perjalanan ini adalah bentuk penghiburan dan penguatan iman langsung dari Sang Pencipta.

Ayat yang menceritakan isra mi raj, melalui Surah Al-Isra' ayat 1, menekankan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi SAW menghadapi kesendirian dan penolakan di bumi, perjalanannya diakui dan disaksikan secara langsung oleh Yang Maha Kuasa. Perjalanan ini membuktikan kebenaran kenabian beliau kepada mereka yang meragukannya, serta menjadi legitimasi tertinggi bagi syariat Islam, terutama kewajiban salat sebagai tiang agama yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya, terlepas dari jarak dan waktu.

🏠 Homepage