Pertanyaan mengenai berapa derajat suhu saat ini di Surabaya adalah pintu gerbang untuk memahami kompleksitas iklim tropis basah yang dialami oleh kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia ini. Surabaya, yang terletak di ujung timur Pulau Jawa dan berdekatan dengan Selat Madura, selalu identik dengan suhu yang tinggi dan kelembaban yang signifikan. Namun, suhu "saat ini" bukanlah angka tunggal yang statis; ia adalah hasil dari interaksi dinamis antara faktor geografis, meteorologis, dan bahkan urbanisasi.
Untuk mendapatkan angka yang akurat mengenai suhu saat ini, kita harus merujuk pada data real-time dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Perak atau Stasiun Juanda. Secara umum, suhu harian di Surabaya sangat jarang turun di bawah 24°C, bahkan pada malam hari. Puncak panas biasanya terjadi antara pukul 11:00 hingga 15:00 WIB. Pada periode ini, terutama saat musim kemarau, angka termometer sering menyentuh 33°C hingga 35°C, dan kadang-kadang melampaui batas tersebut ketika terjadi kondisi iklim ekstrem.
Faktor yang paling membedakan Surabaya dari kota-kota beriklim sedang adalah tingginya tingkat kelembaban relatif. Meskipun suhu udara mungkin "hanya" 33°C, kelembaban yang mencapai 60% hingga 80% membuat suhu yang dirasakan (feels like temperature) bisa melonjak hingga 38°C atau bahkan 40°C. Hal ini disebabkan oleh tubuh kesulitan melepaskan panas melalui penguapan keringat di udara yang sudah jenuh uap air.
Secara ilmiah, iklim Surabaya diklasifikasikan berdasarkan sistem Köppen-Geiger sebagai iklim Tropis Muson (Am) atau terkadang sangat dekat dengan iklim Tropis Savana (Aw), meskipun sering kali lebih tepat dikategorikan sebagai iklim tropis basah secara umum. Klasifikasi ini menunjukkan bahwa Surabaya mengalami dua musim utama yang sangat jelas dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun.
Siklus suhu dan curah hujan di Surabaya didominasi oleh dua periode monsun besar:
Periode transisi, yang dikenal sebagai pancaroba (April-Mei dan Oktober-November), adalah waktu yang paling tidak terduga. Suhu dapat berfluktuasi liar, dengan potensi badai petir lokal yang intens dan tiba-tiba, meskipun suhu dasar tetap panas.
Lokasi geografis Surabaya memberikan kontribusi besar terhadap suhu tinggi. Surabaya terletak di dataran rendah pesisir, di delta Sungai Brantas. Ketinggian yang sangat rendah (rata-rata hanya 5 meter di atas permukaan laut) dan kedekatannya dengan garis khatulistiwa (sekitar 7° Lintang Selatan) memastikan bahwa sudut datang sinar matahari selalu curam dan intens sepanjang tahun. Tidak ada peredam termal signifikan berupa pegunungan tinggi di sekitar kota yang dapat menahan panas atau mendorong kondensasi hujan yang lebih teratur.
Pengaruh massa air (lautan dan sungai) juga meningkatkan kelembaban, yang, seperti dijelaskan sebelumnya, memperburuk sensasi panas. Meskipun suhu maksimum di Surabaya mungkin tidak secara konsisten mencapai 40°C seperti di gurun, kombinasi suhu 34°C dan kelembaban 75% terasa jauh lebih mencekik dan menantang bagi fisiologi manusia.
Selain faktor iklim alami, Surabaya juga menghadapi peningkatan suhu signifikan akibat faktor buatan manusia, yang dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI). UHI adalah fenomena di mana daerah perkotaan menjadi jauh lebih hangat daripada daerah pedesaan di sekitarnya. Di Surabaya, UHI merupakan masalah serius yang secara langsung memengaruhi suhu harian yang dialami penduduk.
Studi menunjukkan bahwa perbedaan suhu antara pusat kota Surabaya (misalnya, area Darmo atau pusat niaga) dengan area penyangga di pinggiran kota (misalnya, kawasan pertanian Sidoarjo atau Gresik yang berdekatan) dapat mencapai 4°C hingga 7°C, terutama pada malam hari. Inilah mengapa suhu minimum malam hari di Surabaya tetap tinggi, seringkali di atas 26°C, yang mengganggu kenyamanan tidur dan kesehatan.
UHI tidak hanya meningkatkan suhu, tetapi juga memperburuk kualitas udara. Udara panas cenderung menahan polutan di lapisan bawah atmosfer. Selain itu, suhu yang lebih tinggi di perkotaan dapat meningkatkan laju reaksi kimia di atmosfer yang menghasilkan Ozon permukaan (polutan sekunder berbahaya), yang memengaruhi kesehatan pernapasan penduduk Surabaya.
Suhu "saat ini" di Surabaya juga sangat bergantung pada fenomena iklim skala besar yang terjadi di Samudra Pasifik dan Hindia. Indonesia, sebagai negara kepulauan, sangat rentan terhadap dampak anomali iklim global ini.
ENSO memiliki dua fase utama yang berdampak langsung pada iklim Jawa Timur:
Pemantauan fase ENSO sangat krusial bagi warga Surabaya, sebab hal ini menentukan apakah mereka akan menghadapi musim kemarau dengan suhu yang ekstrem atau musim hujan dengan risiko banjir yang tinggi. Ketidakpastian ini menuntut adaptasi terus-menerus dalam perencanaan infrastruktur dan kegiatan sehari-hari.
MJO adalah gelombang cuaca raksasa yang bergerak ke timur di sekitar khatulistiwa setiap 30 hingga 60 hari. Meskipun dampaknya lebih cepat dan sementara dibandingkan ENSO, MJO sangat memengaruhi curah hujan dan potensi badai petir di Surabaya. Ketika fase aktif MJO melewati Indonesia, terjadi peningkatan kelembaban dan potensi hujan yang tiba-tiba, yang dapat sedikit meredam suhu panas untuk sementara waktu, sebelum kembali melonjak saat MJO bergerak menjauh.
Data jangka panjang menunjukkan tren peningkatan suhu rata-rata tahunan di Surabaya. Peningkatan ini sejalan dengan tren pemanasan global, diperparah oleh efek UHI yang terus membesar. Suhu minimum malam hari menunjukkan peningkatan yang lebih cepat daripada suhu maksimum siang hari, sebuah indikator kuat dari retensi panas yang disebabkan oleh urbanisasi masif. Hal ini membuat malam di Surabaya terasa semakin gerah dan panas, sebuah tantangan besar bagi kualitas hidup perkotaan.
Selama berabad-abad, masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya, telah mengembangkan berbagai cara adaptasi, baik secara budaya, arsitektur, maupun gaya hidup, untuk bertahan di lingkungan yang secara inheren panas dan lembab. Adaptasi ini menjadi semakin penting mengingat tren peningkatan suhu yang berkelanjutan.
Arsitektur tradisional di Jawa, sebelum dominasi beton modern, dirancang secara inheren untuk mengatasi panas. Prinsip-prinsip ini masih relevan:
Pola makan masyarakat Surabaya juga menyesuaikan diri dengan iklim panas. Makanan dan minuman yang bersifat mendinginkan menjadi primadona, seperti es degan (es kelapa muda), es campur, dan minuman herbal tradisional yang dipercaya dapat menstabilkan suhu tubuh dari dalam. Pakaian yang dikenakan cenderung longgar, berbahan ringan, dan berwarna cerah, meminimalkan penyerapan panas dan memungkinkan penguapan keringat.
Aktivitas sosial dan ekonomi juga disesuaikan; banyak kegiatan berat dilakukan pada pagi atau sore hari, menghindari puncak panas tengah hari. Budaya ‘istirahat siang’ (meskipun tidak seformal di negara Mediterania) adalah respons alami terhadap kebutuhan tubuh untuk mengurangi aktivitas fisik saat suhu mencapai titik terpanasnya.
Menyadari dampak negatif UHI dan perubahan iklim, Pemerintah Kota Surabaya telah mengambil langkah-langkah signifikan untuk memitigasi peningkatan suhu dan meningkatkan daya tahan kota terhadap iklim panas.
Surabaya dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang gencar membangun taman kota, seperti Taman Bungkul, Taman Prestasi, dan berbagai taman kecil di jalur median jalan. RTH ini berfungsi ganda: sebagai paru-paru kota dan sebagai "pulau dingin" lokal yang menyediakan pendinginan melalui evapotranspirasi dan naungan. Peningkatan persentase RTH adalah strategi utama untuk menurunkan suhu di tingkat lingkungan.
Sungai Kalimas, yang membelah kota, memainkan peran penting dalam termoregulasi. Tubuh air alami menyediakan efek pendinginan lokal (pendinginan evaporatif). Selain itu, pengelolaan saluran drainase yang baik sangat penting. Saat musim hujan ekstrem akibat La Niña, sistem ini harus mampu menampung volume air tinggi untuk mencegah banjir, yang dapat memperparah kondisi termal dan kelembaban setelah genangan surut.
Dorongan untuk menerapkan atap hijau (green roof) dan dinding hijau (green wall) pada gedung-gedung komersial dan residensial mulai digalakkan. Lapisan vegetasi ini mengurangi jumlah panas yang diserap oleh atap beton secara drastis dan membantu mengurangi suhu udara di sekitarnya. Ini adalah respons langsung terhadap masalah retensi panas material konstruksi konvensional.
Transisi menuju moda transportasi publik yang efisien dan ramah lingkungan, serta mengurangi kepadatan kendaraan pribadi, juga merupakan bagian dari mitigasi UHI. Jumlah kendaraan bermotor yang lebih sedikit berarti emisi panas antropogenik yang lebih rendah, sehingga secara kolektif membantu menstabilkan suhu udara di jalan-jalan utama.
Meskipun suhu rata-rata Surabaya dapat dilaporkan pada angka tertentu, pengalaman termal setiap warga sangat bervariasi tergantung di mana mereka berada. Surabaya bukanlah massa termal yang homogen; ia terdiri dari berbagai mikro-iklim.
Kawasan pelabuhan dan pesisir cenderung memiliki suhu yang sedikit lebih stabil dan sering kali lebih berangin dibandingkan pusat kota. Dekatnya dengan laut menghasilkan angin laut (sea breeze) yang memberikan efek pendinginan yang moderat selama siang hari. Namun, kelemahan zona ini adalah kelembaban yang luar biasa tinggi, yang berasal dari penguapan air laut, seringkali mencapai 85% hingga 90% pada pagi hari.
Inilah inti dari fenomena UHI. Dengan kepadatan bangunan tinggi, lalu lintas padat, dan sedikitnya RTH, zona ini adalah yang terpanas, terutama di malam hari. Panas yang terperangkap oleh gedung-gedung beton sulit dilepaskan, membuat suhu minimum tetap tinggi dan waktu pendinginan alami menjadi sangat singkat.
Area ini, yang dulunya merupakan pinggiran kota, kini berkembang pesat dengan perumahan dan industri. Jika masih terdapat sawah atau area terbuka di sekitarnya, suhu siang hari mungkin sedikit lebih rendah daripada pusat kota. Namun, kehadiran kawasan industri (seperti di Rungkut) menghasilkan sumber panas antropogenik lokal yang signifikan, menjaga suhu di sekitarnya tetap tinggi.
Pemahaman mengenai mikro-iklim ini sangat penting. Angka suhu yang dilaporkan oleh stasiun BMKG (yang mungkin terletak di pinggiran bandara atau pelabuhan) seringkali merupakan representasi rata-rata. Namun, bagi pekerja yang beraktivitas di tengah kepadatan Tunjungan, suhu yang dirasakan bisa jauh lebih tinggi daripada data resmi yang dipublikasikan.
Suhu tinggi yang terus-menerus, diperburuk oleh kelembaban tinggi dan polusi udara, menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi penduduk Surabaya, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja lapangan.
Paparan panas yang intens meningkatkan risiko dehidrasi dan berbagai bentuk stres panas, mulai dari kram panas, kelelahan panas, hingga yang paling parah, serangan panas (heatstroke). Kelembaban tinggi membuat keringat tidak efektif menguap, sehingga mekanisme pendinginan alami tubuh gagal berfungsi.
Pemerintah dan lembaga kesehatan secara rutin mengkampanyekan pentingnya asupan cairan yang cukup (elektrolit) dan menghindari paparan matahari langsung pada jam-jam puncak. Pekerja konstruksi dan pedagang kaki lima merupakan kelompok yang paling berisiko dan membutuhkan jadwal kerja yang fleksibel atau jeda yang lebih sering.
Iklim tropis panas dan basah di Surabaya juga ideal untuk perkembangbiakan vektor penyakit, seperti nyamuk Aedes aegypti, pembawa demam berdarah dengue (DBD). Musim hujan, yang membawa kelembaban tinggi, meningkatkan populasi nyamuk, sementara suhu tinggi mempercepat siklus hidup virus di dalam tubuh nyamuk. Oleh karena itu, suhu di Surabaya secara tidak langsung berhubungan dengan tren penyebaran penyakit menular.
Suhu malam hari yang tinggi di atas 26°C, yang sering terjadi karena UHI, berdampak negatif pada kualitas tidur. Kurang tidur kronis dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, dan kesejahteraan mental secara keseluruhan. Masyarakat urban sering terpaksa bergantung pada pendingin udara, yang ironisnya, berkontribusi kembali pada UHI dan peningkatan konsumsi energi.
Analisis tren global dan regional menunjukkan bahwa kota-kota pesisir seperti Surabaya akan menghadapi peningkatan suhu yang lebih cepat di masa depan. Meskipun sulit untuk memprediksi angka pasti "berapa derajat sekarang" dalam 20 tahun mendatang, model iklim memberikan gambaran tantangan yang signifikan.
Diproyeksikan bahwa suhu rata-rata tahunan di Jawa Timur akan terus meningkat. Kenaikan 0.5°C hingga 1°C dalam beberapa dekade ke depan mungkin terdengar kecil, tetapi dalam konteks iklim tropis yang sudah panas, peningkatan ini akan sangat memengaruhi frekuensi dan intensitas hari-hari dengan suhu ekstrem (di atas 35°C). Periode panas yang diperpanjang akan menjadi norma, bukan lagi anomali.
Selain panas, perubahan iklim juga membawa ancaman kenaikan permukaan laut. Sebagai kota dataran rendah yang terletak di delta, Surabaya rentan terhadap intrusi air laut dan banjir rob. Intrusi air laut dapat memengaruhi pasokan air bersih dan infrastruktur kota, sehingga semakin mempersulit upaya pendinginan dan sanitasi.
Masa depan Surabaya sangat bergantung pada upaya ketahanan kota (city resilience). Ini mencakup investasi besar dalam infrastruktur hijau (memperluas RTH secara agresif), mengadaptasi kode bangunan untuk memaksimalkan efisiensi energi dan ventilasi alami, serta mengembangkan sistem peringatan dini yang efektif untuk gelombang panas dan cuaca ekstrem lainnya.
Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan "berapa derajat sekarang di Surabaya" akan menjadi semakin penting. Angka tersebut bukan sekadar data meteorologi, melainkan sebuah indikator kesehatan kota, efisiensi infrastruktur, dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi dinamika iklim yang terus berubah.
Dengan kepadatan populasi yang tinggi dan ketergantungan pada sektor industri dan maritim, Surabaya harus terus berinvestasi dalam penelitian iklim lokal dan strategi adaptasi inovatif. Hanya melalui pendekatan holistik—menggabungkan kebijakan lingkungan, arsitektur berkelanjutan, dan kesadaran publik yang tinggi—Surabaya dapat mempertahankan kualitas hidup warganya di tengah tantangan suhu yang semakin meningkat. Suhu hari ini di Surabaya hanyalah satu babak dari kisah panjang kota ini dalam menaklukkan panas tropis yang abadi.
Evolusi iklim di Surabaya akan terus menjadi fokus perhatian para perencana kota, insinyur sipil, dan pakar kesehatan. Ketersediaan data suhu real-time dan prakiraan jangka panjang akan menjadi alat vital untuk memastikan bahwa Surabaya tetap menjadi Kota Pahlawan yang tangguh dan layak huni, terlepas dari seberapa tinggi angka yang ditunjukkan termometer di masa mendatang. Adaptasi terus menerus, didukung oleh ilmu pengetahuan dan kebijakan yang cerdas, adalah satu-satunya jalan ke depan dalam menghadapi tantangan termal yang unik ini. Setiap derajat kenaikan suhu membawa implikasi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang harus dikelola dengan cermat.
Penting untuk diingat bahwa setiap peningkatan suhu di Surabaya, terutama suhu minimum malam hari, tidak hanya memengaruhi kenyamanan tetapi juga membebani sistem energi kota. Penggunaan pendingin ruangan yang masif untuk melawan panas malam hari memicu peningkatan konsumsi listrik yang signifikan. Hal ini menciptakan lingkaran umpan balik negatif: panas yang lebih tinggi memaksa penggunaan AC, yang menghasilkan lebih banyak panas antropogenik, yang pada gilirannya meningkatkan UHI, sehingga membutuhkan lebih banyak AC lagi. Mengatasi siklus ini memerlukan intervensi kebijakan yang berani, seperti subsidi untuk material bangunan berteknologi rendah emisivitas atau insentif untuk penerapan atap teduh dan fasad hijau.
Isu mengenai 'berapa derajat sekarang di Surabaya' juga melekat pada masalah ketersediaan air. Ketika suhu sangat tinggi, laju penguapan dari waduk dan permukaan tanah meningkat drastis. Hal ini dapat mengurangi ketersediaan air untuk konsumsi dan irigasi, terutama selama musim kemarau ekstrem yang diperburuk oleh El Niño. Oleh karena itu, manajemen sumber daya air, termasuk pemanfaatan sumur resapan dan pengelolaan air hujan (rain harvesting), menjadi strategi vital yang terkait erat dengan respons kota terhadap suhu tinggi.
Inovasi dalam infrastruktur transportasi juga harus mempertimbangkan aspek termal. Contohnya, penggunaan material perkerasan jalan yang memantulkan panas (high-albedo pavement) di beberapa kota maju telah terbukti efektif menurunkan suhu permukaan jalan hingga beberapa derajat. Menerapkan teknologi serupa di jalan-jalan utama Surabaya dapat membantu mengurangi pelepasan panas terperangkap dari aspal yang dipanggang matahari.
Masyarakat Surabaya, sebagai subjek utama yang merasakan dampak suhu, harus terus diberdayakan melalui edukasi tentang adaptasi panas. Pengetahuan tentang gejala stres panas, cara melakukan pertolongan pertama, dan pentingnya merencanakan aktivitas di luar ruangan berdasarkan indeks panas (heat index), bukan hanya suhu udara, adalah modal sosial yang tak ternilai. Ini memastikan bahwa meskipun suhu di luar mungkin 35°C, dampak kesehatan terhadap individu dapat diminimalisir.
Secara ringkas, suhu saat ini di Surabaya adalah titik data yang kompleks, dipengaruhi oleh tiga lapisan utama: iklim tropis makro regional, efek UHI perkotaan mikro lokal, dan anomali iklim global. Mengelola dan mengurangi dampak suhu tinggi adalah tugas multi-sektoral yang melibatkan BMKG, dinas tata ruang, dinas kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat. Surabaya harus terus bergerak maju, memastikan bahwa kota ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga secara termal berkelanjutan, siap menghadapi hari-hari di mana termometer terus menanjak, menjadikannya kota yang sejuk di tengah tantangan panas yang membara.
Tingkat panas di Surabaya juga memiliki implikasi terhadap daya tahan material dan infrastruktur. Suhu ekstrem dapat mempercepat degradasi material bangunan, jembatan, dan rel kereta api. Ekspansi dan kontraksi termal yang berulang pada material konstruksi membutuhkan perawatan dan desain yang lebih robust, menambah biaya pemeliharaan infrastruktur vital kota. Ini adalah aspek tersembunyi dari panas Surabaya yang jarang disoroti namun krusial bagi keberlanjutan operasional kota.
Dalam konteks pertanian dan ketahanan pangan di sekitar wilayah metropolitan Surabaya, suhu tinggi juga menjadi ancaman serius. Tanaman pangan tertentu, terutama yang sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembaban, dapat mengalami penurunan hasil panen. Ini memaksa petani untuk mengadopsi varietas tanaman yang lebih tahan panas atau menginvestasikan lebih banyak pada sistem irigasi, yang menambah tekanan pada sumber daya air yang sudah terbatas di musim kemarau panjang. Surabaya, sebagai pusat distribusi, harus memikirkan rantai pasok pangannya dalam skenario kenaikan suhu global.
Pemerintah kota juga harus mempertimbangkan "keadilan termal" (thermal equity). Tidak semua penduduk Surabaya memiliki kemampuan yang sama untuk beradaptasi. Warga yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh, yang sering kekurangan ventilasi dan RTH, serta tidak mampu membeli AC, adalah yang paling menderita akibat UHI dan gelombang panas. Kebijakan mitigasi harus secara spesifik menargetkan kelompok rentan ini dengan menyediakan akses ke ruang pendingin publik (cooling centers) atau meningkatkan insentif untuk penghijauan lingkungan mereka.
Kesinambungan air bersih juga terancam oleh suhu. Selain penguapan yang tinggi, suhu permukaan air yang meningkat di sungai dan reservoir dapat memicu pertumbuhan alga dan bakteri yang lebih cepat, mempersulit proses pengolahan air minum oleh PDAM. Oleh karena itu, manajemen kualitas dan kuantitas air menjadi bagian integral dari strategi adaptasi suhu Surabaya.
Upaya inovatif yang dapat diadopsi Surabaya termasuk penggunaan teknologi energi terbarukan yang tidak menghasilkan panas sisa yang signifikan, seperti panel surya yang dipasang di atas badan air (floating solar panel) atau penggunaan tenaga angin di kawasan pesisir. Energi bersih ini dapat mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik konvensional yang melepaskan panas ke atmosfer, sehingga mengurangi kontribusi antropogenik terhadap UHI.
Lalu lintas udara dan pelabuhan, sebagai denyut nadi ekonomi Surabaya, juga terpengaruh oleh suhu. Suhu udara yang sangat tinggi mengurangi kepadatan udara, yang dapat memengaruhi kinerja lepas landas pesawat (membutuhkan landasan yang lebih panjang atau mengurangi beban angkut). Meskipun dampaknya tidak separah di gurun, ini adalah faktor operasional yang harus diperhitungkan oleh Bandara Internasional Juanda dan Pelabuhan Tanjung Perak.
Dalam jangka panjang, strategi penanggulangan suhu Surabaya harus bertransformasi dari sekadar respons reaktif menjadi perencanaan proaktif. Ini mencakup pemodelan iklim mikro yang sangat rinci untuk mengidentifikasi "hotspot" panas di kota dan mengalokasikan sumber daya mitigasi (penghijauan atau air mancur) secara strategis di area tersebut. Data suhu saat ini dan data historis adalah fondasi dari perencanaan yang cerdas ini, memungkinkan kota Pahlawan untuk terus menaklukkan tantangan lingkungan sambil mempertahankan momentum pembangunannya.
Surabaya sedang berjalan di atas tali antara kebutuhan akan pembangunan infrastruktur cepat dan tuntutan pelestarian lingkungan serta mitigasi iklim. Menyeimbangkan keduanya menuntut komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan untuk memilih solusi yang tidak hanya ekonomis tetapi juga secara termal berkelanjutan. Suhu, dalam semua kompleksitasnya, adalah tolok ukur utama keberhasilan kota ini di abad ke-21.