Menganalisis Suhu Surabaya: Dinamika Iklim di Kota Pahlawan

Berapa Derajat Sekarang di Surabaya? Memahami Dinamika Suhu Harian

Pertanyaan mengenai berapa derajat suhu saat ini di Surabaya adalah pintu gerbang untuk memahami kompleksitas iklim tropis basah yang dialami oleh kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia ini. Surabaya, yang terletak di ujung timur Pulau Jawa dan berdekatan dengan Selat Madura, selalu identik dengan suhu yang tinggi dan kelembaban yang signifikan. Namun, suhu "saat ini" bukanlah angka tunggal yang statis; ia adalah hasil dari interaksi dinamis antara faktor geografis, meteorologis, dan bahkan urbanisasi.

Untuk mendapatkan angka yang akurat mengenai suhu saat ini, kita harus merujuk pada data real-time dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Perak atau Stasiun Juanda. Secara umum, suhu harian di Surabaya sangat jarang turun di bawah 24°C, bahkan pada malam hari. Puncak panas biasanya terjadi antara pukul 11:00 hingga 15:00 WIB. Pada periode ini, terutama saat musim kemarau, angka termometer sering menyentuh 33°C hingga 35°C, dan kadang-kadang melampaui batas tersebut ketika terjadi kondisi iklim ekstrem.

Suhu Tinggi dan Kelembaban
Visualisasi sederhana suhu harian dan intensitas matahari di Surabaya, yang selalu dominan.

Faktor yang paling membedakan Surabaya dari kota-kota beriklim sedang adalah tingginya tingkat kelembaban relatif. Meskipun suhu udara mungkin "hanya" 33°C, kelembaban yang mencapai 60% hingga 80% membuat suhu yang dirasakan (feels like temperature) bisa melonjak hingga 38°C atau bahkan 40°C. Hal ini disebabkan oleh tubuh kesulitan melepaskan panas melalui penguapan keringat di udara yang sudah jenuh uap air.


Mengenal Iklim Surabaya: Klasifikasi Köppen dan Musim Monsun

Secara ilmiah, iklim Surabaya diklasifikasikan berdasarkan sistem Köppen-Geiger sebagai iklim Tropis Muson (Am) atau terkadang sangat dekat dengan iklim Tropis Savana (Aw), meskipun sering kali lebih tepat dikategorikan sebagai iklim tropis basah secara umum. Klasifikasi ini menunjukkan bahwa Surabaya mengalami dua musim utama yang sangat jelas dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun.

Fenomena Angin Monsun Asia dan Australia

Siklus suhu dan curah hujan di Surabaya didominasi oleh dua periode monsun besar:

  1. Monsun Barat (Musim Hujan): Biasanya terjadi antara November hingga Maret. Angin bertiup dari benua Asia, membawa massa udara basah melintasi lautan luas. Pada periode ini, meskipun curah hujan sangat tinggi, suhu maksimum harian sedikit lebih rendah dibandingkan musim kemarau, berkisar antara 29°C hingga 32°C. Kelembaban tetap sangat tinggi, tetapi hujan seringkali berfungsi sebagai pendingin alami.
  2. Monsun Timur (Musim Kemarau): Berlangsung antara Juni hingga September. Angin bertiup dari benua Australia, yang lebih kering dan dingin. Saat melewati perairan Indonesia, angin ini membawa udara yang relatif kering, mengakibatkan curah hujan minimal. Inilah periode di mana suhu di Surabaya mencapai titik tertinggi, seringkali melampaui 34°C, dan intensitas radiasi matahari sangat ekstrem.

Periode transisi, yang dikenal sebagai pancaroba (April-Mei dan Oktober-November), adalah waktu yang paling tidak terduga. Suhu dapat berfluktuasi liar, dengan potensi badai petir lokal yang intens dan tiba-tiba, meskipun suhu dasar tetap panas.

Peran Geografis Surabaya dalam Memicu Panas

Lokasi geografis Surabaya memberikan kontribusi besar terhadap suhu tinggi. Surabaya terletak di dataran rendah pesisir, di delta Sungai Brantas. Ketinggian yang sangat rendah (rata-rata hanya 5 meter di atas permukaan laut) dan kedekatannya dengan garis khatulistiwa (sekitar 7° Lintang Selatan) memastikan bahwa sudut datang sinar matahari selalu curam dan intens sepanjang tahun. Tidak ada peredam termal signifikan berupa pegunungan tinggi di sekitar kota yang dapat menahan panas atau mendorong kondensasi hujan yang lebih teratur.

Surabaya Garis Pantai dan Dataran Rendah
Posisi geografis Surabaya sebagai kota pesisir dataran rendah yang memaksimalkan penyerapan panas.

Pengaruh massa air (lautan dan sungai) juga meningkatkan kelembaban, yang, seperti dijelaskan sebelumnya, memperburuk sensasi panas. Meskipun suhu maksimum di Surabaya mungkin tidak secara konsisten mencapai 40°C seperti di gurun, kombinasi suhu 34°C dan kelembaban 75% terasa jauh lebih mencekik dan menantang bagi fisiologi manusia.


Fenomena Pulau Panas Perkotaan (Urban Heat Island - UHI) di Surabaya

Selain faktor iklim alami, Surabaya juga menghadapi peningkatan suhu signifikan akibat faktor buatan manusia, yang dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI). UHI adalah fenomena di mana daerah perkotaan menjadi jauh lebih hangat daripada daerah pedesaan di sekitarnya. Di Surabaya, UHI merupakan masalah serius yang secara langsung memengaruhi suhu harian yang dialami penduduk.

Penyebab Utama Peningkatan Suhu Urban

  1. Material Bangunan (Beton dan Aspal): Surabaya adalah kota beton dan aspal. Material ini memiliki koefisien albedo yang rendah, artinya mereka menyerap radiasi matahari dalam jumlah besar sepanjang hari dan melepaskannya perlahan sebagai panas pada malam hari. Berbeda dengan tanah atau vegetasi yang dapat melepaskan panas dengan cepat atau menyimpannya untuk fotosintesis, beton menahan panas, menjaga suhu malam hari tetap tinggi.
  2. Minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH): Meskipun pemerintah kota telah berupaya meningkatkan RTH, kepadatan populasi dan pembangunan infrastruktur menyebabkan berkurangnya area hijau. Vegetasi memainkan peran penting dalam pendinginan melalui proses evapotranspirasi (penguapan air dari tanaman), yang berfungsi seperti pendingin udara alami raksasa.
  3. Panas Antropogenik: Panas yang dihasilkan oleh aktivitas manusia itu sendiri, termasuk knalpot kendaraan bermotor, pendingin ruangan (AC) yang membuang udara panas ke jalanan, dan operasional pabrik, semuanya berkontribusi pada peningkatan suhu udara di lingkungan sekitar.
  4. Geometri Kota (Street Canyon): Tata ruang kota yang padat, dengan bangunan-bangunan tinggi yang berdekatan (disebut "street canyon"), dapat menghambat sirkulasi udara alami dan memerangkap panas di antara gedung-gedung, terutama di pusat kota seperti Tunjungan atau kawasan niaga.

Studi menunjukkan bahwa perbedaan suhu antara pusat kota Surabaya (misalnya, area Darmo atau pusat niaga) dengan area penyangga di pinggiran kota (misalnya, kawasan pertanian Sidoarjo atau Gresik yang berdekatan) dapat mencapai 4°C hingga 7°C, terutama pada malam hari. Inilah mengapa suhu minimum malam hari di Surabaya tetap tinggi, seringkali di atas 26°C, yang mengganggu kenyamanan tidur dan kesehatan.

Dampak UHI pada Kualitas Udara dan Kelembaban

UHI tidak hanya meningkatkan suhu, tetapi juga memperburuk kualitas udara. Udara panas cenderung menahan polutan di lapisan bawah atmosfer. Selain itu, suhu yang lebih tinggi di perkotaan dapat meningkatkan laju reaksi kimia di atmosfer yang menghasilkan Ozon permukaan (polutan sekunder berbahaya), yang memengaruhi kesehatan pernapasan penduduk Surabaya.


Variabilitas Iklim Regional: El Niño, La Niña, dan Osilasi Madden-Julian

Suhu "saat ini" di Surabaya juga sangat bergantung pada fenomena iklim skala besar yang terjadi di Samudra Pasifik dan Hindia. Indonesia, sebagai negara kepulauan, sangat rentan terhadap dampak anomali iklim global ini.

Pengaruh El Niño Southern Oscillation (ENSO)

ENSO memiliki dua fase utama yang berdampak langsung pada iklim Jawa Timur:

Pemantauan fase ENSO sangat krusial bagi warga Surabaya, sebab hal ini menentukan apakah mereka akan menghadapi musim kemarau dengan suhu yang ekstrem atau musim hujan dengan risiko banjir yang tinggi. Ketidakpastian ini menuntut adaptasi terus-menerus dalam perencanaan infrastruktur dan kegiatan sehari-hari.

Osilasi Madden-Julian (MJO)

MJO adalah gelombang cuaca raksasa yang bergerak ke timur di sekitar khatulistiwa setiap 30 hingga 60 hari. Meskipun dampaknya lebih cepat dan sementara dibandingkan ENSO, MJO sangat memengaruhi curah hujan dan potensi badai petir di Surabaya. Ketika fase aktif MJO melewati Indonesia, terjadi peningkatan kelembaban dan potensi hujan yang tiba-tiba, yang dapat sedikit meredam suhu panas untuk sementara waktu, sebelum kembali melonjak saat MJO bergerak menjauh.

Analisis Data Suhu Historis Surabaya

Data jangka panjang menunjukkan tren peningkatan suhu rata-rata tahunan di Surabaya. Peningkatan ini sejalan dengan tren pemanasan global, diperparah oleh efek UHI yang terus membesar. Suhu minimum malam hari menunjukkan peningkatan yang lebih cepat daripada suhu maksimum siang hari, sebuah indikator kuat dari retensi panas yang disebabkan oleh urbanisasi masif. Hal ini membuat malam di Surabaya terasa semakin gerah dan panas, sebuah tantangan besar bagi kualitas hidup perkotaan.


Strategi Adaptasi Masyarakat Surabaya Terhadap Suhu Ekstrem

Selama berabad-abad, masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya, telah mengembangkan berbagai cara adaptasi, baik secara budaya, arsitektur, maupun gaya hidup, untuk bertahan di lingkungan yang secara inheren panas dan lembab. Adaptasi ini menjadi semakin penting mengingat tren peningkatan suhu yang berkelanjutan.

Arsitektur Tropis dan Desain Bangunan

Arsitektur tradisional di Jawa, sebelum dominasi beton modern, dirancang secara inheren untuk mengatasi panas. Prinsip-prinsip ini masih relevan:

  1. Ventilasi Silang (Cross Ventilation): Rumah-rumah tua Surabaya memiliki banyak jendela, lubang angin, dan desain atap tinggi (plafon) untuk memaksimalkan aliran udara. Plafon yang tinggi menciptakan ruang udara yang berfungsi sebagai penyangga termal, menjauhkan panas dari ruang hidup di bawahnya.
  2. Penggunaan Material Ringan: Penggunaan kayu dan bambu, yang memiliki inersia termal lebih rendah daripada beton, membantu mencegah penyerapan panas berlebihan pada siang hari.
  3. Teras dan Atap Panjang: Teras yang lebar dan atap yang menjorok melindungi dinding dari sinar matahari langsung, mengurangi panas yang masuk ke dalam rumah.
  4. Pemanfaatan Air: Banyak rumah tradisional yang memiliki halaman berpori atau dekat dengan sumber air, yang membantu menurunkan suhu mikro di sekitarnya melalui penguapan.
Arsitektur dengan Ventilasi Silang
Desain arsitektur tropis yang mengutamakan ventilasi alami sebagai kunci menghadapi suhu tinggi.

Gaya Hidup dan Konsumsi

Pola makan masyarakat Surabaya juga menyesuaikan diri dengan iklim panas. Makanan dan minuman yang bersifat mendinginkan menjadi primadona, seperti es degan (es kelapa muda), es campur, dan minuman herbal tradisional yang dipercaya dapat menstabilkan suhu tubuh dari dalam. Pakaian yang dikenakan cenderung longgar, berbahan ringan, dan berwarna cerah, meminimalkan penyerapan panas dan memungkinkan penguapan keringat.

Aktivitas sosial dan ekonomi juga disesuaikan; banyak kegiatan berat dilakukan pada pagi atau sore hari, menghindari puncak panas tengah hari. Budaya ‘istirahat siang’ (meskipun tidak seformal di negara Mediterania) adalah respons alami terhadap kebutuhan tubuh untuk mengurangi aktivitas fisik saat suhu mencapai titik terpanasnya.


Upaya Mitigasi Panas: Peran Pemerintah Kota dan Infrastruktur

Menyadari dampak negatif UHI dan perubahan iklim, Pemerintah Kota Surabaya telah mengambil langkah-langkah signifikan untuk memitigasi peningkatan suhu dan meningkatkan daya tahan kota terhadap iklim panas.

Inisiatif Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Surabaya dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang gencar membangun taman kota, seperti Taman Bungkul, Taman Prestasi, dan berbagai taman kecil di jalur median jalan. RTH ini berfungsi ganda: sebagai paru-paru kota dan sebagai "pulau dingin" lokal yang menyediakan pendinginan melalui evapotranspirasi dan naungan. Peningkatan persentase RTH adalah strategi utama untuk menurunkan suhu di tingkat lingkungan.

Infrastruktur Air dan Kalimas

Sungai Kalimas, yang membelah kota, memainkan peran penting dalam termoregulasi. Tubuh air alami menyediakan efek pendinginan lokal (pendinginan evaporatif). Selain itu, pengelolaan saluran drainase yang baik sangat penting. Saat musim hujan ekstrem akibat La Niña, sistem ini harus mampu menampung volume air tinggi untuk mencegah banjir, yang dapat memperparah kondisi termal dan kelembaban setelah genangan surut.

Penerapan Teknologi Bangunan Hijau

Dorongan untuk menerapkan atap hijau (green roof) dan dinding hijau (green wall) pada gedung-gedung komersial dan residensial mulai digalakkan. Lapisan vegetasi ini mengurangi jumlah panas yang diserap oleh atap beton secara drastis dan membantu mengurangi suhu udara di sekitarnya. Ini adalah respons langsung terhadap masalah retensi panas material konstruksi konvensional.

Kebijakan Transportasi

Transisi menuju moda transportasi publik yang efisien dan ramah lingkungan, serta mengurangi kepadatan kendaraan pribadi, juga merupakan bagian dari mitigasi UHI. Jumlah kendaraan bermotor yang lebih sedikit berarti emisi panas antropogenik yang lebih rendah, sehingga secara kolektif membantu menstabilkan suhu udara di jalan-jalan utama.


Mikro-Iklim Surabaya: Perbedaan Suhu Antara Kawasan

Meskipun suhu rata-rata Surabaya dapat dilaporkan pada angka tertentu, pengalaman termal setiap warga sangat bervariasi tergantung di mana mereka berada. Surabaya bukanlah massa termal yang homogen; ia terdiri dari berbagai mikro-iklim.

Zona Pesisir (Tanjung Perak dan Kenjeran)

Kawasan pelabuhan dan pesisir cenderung memiliki suhu yang sedikit lebih stabil dan sering kali lebih berangin dibandingkan pusat kota. Dekatnya dengan laut menghasilkan angin laut (sea breeze) yang memberikan efek pendinginan yang moderat selama siang hari. Namun, kelemahan zona ini adalah kelembaban yang luar biasa tinggi, yang berasal dari penguapan air laut, seringkali mencapai 85% hingga 90% pada pagi hari.

Zona Pusat Niaga (Tunjungan, Darmo)

Inilah inti dari fenomena UHI. Dengan kepadatan bangunan tinggi, lalu lintas padat, dan sedikitnya RTH, zona ini adalah yang terpanas, terutama di malam hari. Panas yang terperangkap oleh gedung-gedung beton sulit dilepaskan, membuat suhu minimum tetap tinggi dan waktu pendinginan alami menjadi sangat singkat.

Zona Timur dan Selatan (Rungkut, Gunung Anyar)

Area ini, yang dulunya merupakan pinggiran kota, kini berkembang pesat dengan perumahan dan industri. Jika masih terdapat sawah atau area terbuka di sekitarnya, suhu siang hari mungkin sedikit lebih rendah daripada pusat kota. Namun, kehadiran kawasan industri (seperti di Rungkut) menghasilkan sumber panas antropogenik lokal yang signifikan, menjaga suhu di sekitarnya tetap tinggi.

Pemahaman mengenai mikro-iklim ini sangat penting. Angka suhu yang dilaporkan oleh stasiun BMKG (yang mungkin terletak di pinggiran bandara atau pelabuhan) seringkali merupakan representasi rata-rata. Namun, bagi pekerja yang beraktivitas di tengah kepadatan Tunjungan, suhu yang dirasakan bisa jauh lebih tinggi daripada data resmi yang dipublikasikan.


Suhu Tinggi dan Kesehatan Publik di Surabaya

Suhu tinggi yang terus-menerus, diperburuk oleh kelembaban tinggi dan polusi udara, menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi penduduk Surabaya, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja lapangan.

Risiko Dehidrasi dan Heat Stress

Paparan panas yang intens meningkatkan risiko dehidrasi dan berbagai bentuk stres panas, mulai dari kram panas, kelelahan panas, hingga yang paling parah, serangan panas (heatstroke). Kelembaban tinggi membuat keringat tidak efektif menguap, sehingga mekanisme pendinginan alami tubuh gagal berfungsi.

Pemerintah dan lembaga kesehatan secara rutin mengkampanyekan pentingnya asupan cairan yang cukup (elektrolit) dan menghindari paparan matahari langsung pada jam-jam puncak. Pekerja konstruksi dan pedagang kaki lima merupakan kelompok yang paling berisiko dan membutuhkan jadwal kerja yang fleksibel atau jeda yang lebih sering.

Pengaruh pada Penyakit Menular

Iklim tropis panas dan basah di Surabaya juga ideal untuk perkembangbiakan vektor penyakit, seperti nyamuk Aedes aegypti, pembawa demam berdarah dengue (DBD). Musim hujan, yang membawa kelembaban tinggi, meningkatkan populasi nyamuk, sementara suhu tinggi mempercepat siklus hidup virus di dalam tubuh nyamuk. Oleh karena itu, suhu di Surabaya secara tidak langsung berhubungan dengan tren penyebaran penyakit menular.

Kualitas Tidur dan Kesejahteraan Mental

Suhu malam hari yang tinggi di atas 26°C, yang sering terjadi karena UHI, berdampak negatif pada kualitas tidur. Kurang tidur kronis dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, dan kesejahteraan mental secara keseluruhan. Masyarakat urban sering terpaksa bergantung pada pendingin udara, yang ironisnya, berkontribusi kembali pada UHI dan peningkatan konsumsi energi.


Proyeksi Suhu Surabaya di Masa Depan: Tantangan Perubahan Iklim

Analisis tren global dan regional menunjukkan bahwa kota-kota pesisir seperti Surabaya akan menghadapi peningkatan suhu yang lebih cepat di masa depan. Meskipun sulit untuk memprediksi angka pasti "berapa derajat sekarang" dalam 20 tahun mendatang, model iklim memberikan gambaran tantangan yang signifikan.

Kenaikan Suhu Rata-Rata

Diproyeksikan bahwa suhu rata-rata tahunan di Jawa Timur akan terus meningkat. Kenaikan 0.5°C hingga 1°C dalam beberapa dekade ke depan mungkin terdengar kecil, tetapi dalam konteks iklim tropis yang sudah panas, peningkatan ini akan sangat memengaruhi frekuensi dan intensitas hari-hari dengan suhu ekstrem (di atas 35°C). Periode panas yang diperpanjang akan menjadi norma, bukan lagi anomali.

Ancaman Kenaikan Permukaan Laut

Selain panas, perubahan iklim juga membawa ancaman kenaikan permukaan laut. Sebagai kota dataran rendah yang terletak di delta, Surabaya rentan terhadap intrusi air laut dan banjir rob. Intrusi air laut dapat memengaruhi pasokan air bersih dan infrastruktur kota, sehingga semakin mempersulit upaya pendinginan dan sanitasi.

Pentingnya Ketahanan Kota (City Resilience)

Masa depan Surabaya sangat bergantung pada upaya ketahanan kota (city resilience). Ini mencakup investasi besar dalam infrastruktur hijau (memperluas RTH secara agresif), mengadaptasi kode bangunan untuk memaksimalkan efisiensi energi dan ventilasi alami, serta mengembangkan sistem peringatan dini yang efektif untuk gelombang panas dan cuaca ekstrem lainnya.

Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan "berapa derajat sekarang di Surabaya" akan menjadi semakin penting. Angka tersebut bukan sekadar data meteorologi, melainkan sebuah indikator kesehatan kota, efisiensi infrastruktur, dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi dinamika iklim yang terus berubah.

Dengan kepadatan populasi yang tinggi dan ketergantungan pada sektor industri dan maritim, Surabaya harus terus berinvestasi dalam penelitian iklim lokal dan strategi adaptasi inovatif. Hanya melalui pendekatan holistik—menggabungkan kebijakan lingkungan, arsitektur berkelanjutan, dan kesadaran publik yang tinggi—Surabaya dapat mempertahankan kualitas hidup warganya di tengah tantangan suhu yang semakin meningkat. Suhu hari ini di Surabaya hanyalah satu babak dari kisah panjang kota ini dalam menaklukkan panas tropis yang abadi.

Evolusi iklim di Surabaya akan terus menjadi fokus perhatian para perencana kota, insinyur sipil, dan pakar kesehatan. Ketersediaan data suhu real-time dan prakiraan jangka panjang akan menjadi alat vital untuk memastikan bahwa Surabaya tetap menjadi Kota Pahlawan yang tangguh dan layak huni, terlepas dari seberapa tinggi angka yang ditunjukkan termometer di masa mendatang. Adaptasi terus menerus, didukung oleh ilmu pengetahuan dan kebijakan yang cerdas, adalah satu-satunya jalan ke depan dalam menghadapi tantangan termal yang unik ini. Setiap derajat kenaikan suhu membawa implikasi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang harus dikelola dengan cermat.

Penting untuk diingat bahwa setiap peningkatan suhu di Surabaya, terutama suhu minimum malam hari, tidak hanya memengaruhi kenyamanan tetapi juga membebani sistem energi kota. Penggunaan pendingin ruangan yang masif untuk melawan panas malam hari memicu peningkatan konsumsi listrik yang signifikan. Hal ini menciptakan lingkaran umpan balik negatif: panas yang lebih tinggi memaksa penggunaan AC, yang menghasilkan lebih banyak panas antropogenik, yang pada gilirannya meningkatkan UHI, sehingga membutuhkan lebih banyak AC lagi. Mengatasi siklus ini memerlukan intervensi kebijakan yang berani, seperti subsidi untuk material bangunan berteknologi rendah emisivitas atau insentif untuk penerapan atap teduh dan fasad hijau.

Isu mengenai 'berapa derajat sekarang di Surabaya' juga melekat pada masalah ketersediaan air. Ketika suhu sangat tinggi, laju penguapan dari waduk dan permukaan tanah meningkat drastis. Hal ini dapat mengurangi ketersediaan air untuk konsumsi dan irigasi, terutama selama musim kemarau ekstrem yang diperburuk oleh El Niño. Oleh karena itu, manajemen sumber daya air, termasuk pemanfaatan sumur resapan dan pengelolaan air hujan (rain harvesting), menjadi strategi vital yang terkait erat dengan respons kota terhadap suhu tinggi.

Inovasi dalam infrastruktur transportasi juga harus mempertimbangkan aspek termal. Contohnya, penggunaan material perkerasan jalan yang memantulkan panas (high-albedo pavement) di beberapa kota maju telah terbukti efektif menurunkan suhu permukaan jalan hingga beberapa derajat. Menerapkan teknologi serupa di jalan-jalan utama Surabaya dapat membantu mengurangi pelepasan panas terperangkap dari aspal yang dipanggang matahari.

Masyarakat Surabaya, sebagai subjek utama yang merasakan dampak suhu, harus terus diberdayakan melalui edukasi tentang adaptasi panas. Pengetahuan tentang gejala stres panas, cara melakukan pertolongan pertama, dan pentingnya merencanakan aktivitas di luar ruangan berdasarkan indeks panas (heat index), bukan hanya suhu udara, adalah modal sosial yang tak ternilai. Ini memastikan bahwa meskipun suhu di luar mungkin 35°C, dampak kesehatan terhadap individu dapat diminimalisir.

Secara ringkas, suhu saat ini di Surabaya adalah titik data yang kompleks, dipengaruhi oleh tiga lapisan utama: iklim tropis makro regional, efek UHI perkotaan mikro lokal, dan anomali iklim global. Mengelola dan mengurangi dampak suhu tinggi adalah tugas multi-sektoral yang melibatkan BMKG, dinas tata ruang, dinas kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat. Surabaya harus terus bergerak maju, memastikan bahwa kota ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga secara termal berkelanjutan, siap menghadapi hari-hari di mana termometer terus menanjak, menjadikannya kota yang sejuk di tengah tantangan panas yang membara.

Tingkat panas di Surabaya juga memiliki implikasi terhadap daya tahan material dan infrastruktur. Suhu ekstrem dapat mempercepat degradasi material bangunan, jembatan, dan rel kereta api. Ekspansi dan kontraksi termal yang berulang pada material konstruksi membutuhkan perawatan dan desain yang lebih robust, menambah biaya pemeliharaan infrastruktur vital kota. Ini adalah aspek tersembunyi dari panas Surabaya yang jarang disoroti namun krusial bagi keberlanjutan operasional kota.

Dalam konteks pertanian dan ketahanan pangan di sekitar wilayah metropolitan Surabaya, suhu tinggi juga menjadi ancaman serius. Tanaman pangan tertentu, terutama yang sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembaban, dapat mengalami penurunan hasil panen. Ini memaksa petani untuk mengadopsi varietas tanaman yang lebih tahan panas atau menginvestasikan lebih banyak pada sistem irigasi, yang menambah tekanan pada sumber daya air yang sudah terbatas di musim kemarau panjang. Surabaya, sebagai pusat distribusi, harus memikirkan rantai pasok pangannya dalam skenario kenaikan suhu global.

Pemerintah kota juga harus mempertimbangkan "keadilan termal" (thermal equity). Tidak semua penduduk Surabaya memiliki kemampuan yang sama untuk beradaptasi. Warga yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh, yang sering kekurangan ventilasi dan RTH, serta tidak mampu membeli AC, adalah yang paling menderita akibat UHI dan gelombang panas. Kebijakan mitigasi harus secara spesifik menargetkan kelompok rentan ini dengan menyediakan akses ke ruang pendingin publik (cooling centers) atau meningkatkan insentif untuk penghijauan lingkungan mereka.

Kesinambungan air bersih juga terancam oleh suhu. Selain penguapan yang tinggi, suhu permukaan air yang meningkat di sungai dan reservoir dapat memicu pertumbuhan alga dan bakteri yang lebih cepat, mempersulit proses pengolahan air minum oleh PDAM. Oleh karena itu, manajemen kualitas dan kuantitas air menjadi bagian integral dari strategi adaptasi suhu Surabaya.

Upaya inovatif yang dapat diadopsi Surabaya termasuk penggunaan teknologi energi terbarukan yang tidak menghasilkan panas sisa yang signifikan, seperti panel surya yang dipasang di atas badan air (floating solar panel) atau penggunaan tenaga angin di kawasan pesisir. Energi bersih ini dapat mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik konvensional yang melepaskan panas ke atmosfer, sehingga mengurangi kontribusi antropogenik terhadap UHI.

Lalu lintas udara dan pelabuhan, sebagai denyut nadi ekonomi Surabaya, juga terpengaruh oleh suhu. Suhu udara yang sangat tinggi mengurangi kepadatan udara, yang dapat memengaruhi kinerja lepas landas pesawat (membutuhkan landasan yang lebih panjang atau mengurangi beban angkut). Meskipun dampaknya tidak separah di gurun, ini adalah faktor operasional yang harus diperhitungkan oleh Bandara Internasional Juanda dan Pelabuhan Tanjung Perak.

Dalam jangka panjang, strategi penanggulangan suhu Surabaya harus bertransformasi dari sekadar respons reaktif menjadi perencanaan proaktif. Ini mencakup pemodelan iklim mikro yang sangat rinci untuk mengidentifikasi "hotspot" panas di kota dan mengalokasikan sumber daya mitigasi (penghijauan atau air mancur) secara strategis di area tersebut. Data suhu saat ini dan data historis adalah fondasi dari perencanaan yang cerdas ini, memungkinkan kota Pahlawan untuk terus menaklukkan tantangan lingkungan sambil mempertahankan momentum pembangunannya.

Surabaya sedang berjalan di atas tali antara kebutuhan akan pembangunan infrastruktur cepat dan tuntutan pelestarian lingkungan serta mitigasi iklim. Menyeimbangkan keduanya menuntut komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan untuk memilih solusi yang tidak hanya ekonomis tetapi juga secara termal berkelanjutan. Suhu, dalam semua kompleksitasnya, adalah tolok ukur utama keberhasilan kota ini di abad ke-21.

🏠 Homepage