Sholat Tahajud, atau sering disebut sebagai Qiyamul Lail, adalah ibadah sunnah yang paling utama setelah sholat fardhu. Ia adalah jembatan spiritual yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya di waktu yang paling hening, sepertiga malam terakhir. Namun, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: Berapa jumlah rakaat Sholat Tahajud yang paling sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ?
Pada dasarnya, tidak ada batasan minimal atau maksimal yang kaku dan mengikat, kecuali pada kualitas pelaksanaannya. Namun, Sunnah Nabi ﷺ memberikan panduan yang jelas mengenai jumlah rakaat yang paling sempurna untuk mencapai kekhusyukan dan pahala tertinggi.
Keheningan Malam untuk Ibadah
Hukum asal Sholat Tahajud adalah fleksibel, namun petunjuk terbaik yang kita miliki berasal dari praktik Rasulullah ﷺ. Sumber utama mengenai jumlah rakaat Tahajud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA, istri Nabi ﷺ.
Aisyah RA ditanya mengenai sholat malam Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab:
"Rasulullah ﷺ tidak pernah sholat malam lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya. Beliau sholat empat rakaat, jangan tanya tentang keindahan dan panjangnya. Kemudian sholat empat rakaat lagi, jangan tanya tentang keindahan dan panjangnya. Kemudian sholat tiga rakaat (Witr)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Penting untuk memahami bahwa jumlah 11 rakaat ini merujuk pada Sholat Tahajud ditambah dengan Sholat Witr.
Ada juga riwayat lain yang menyebutkan 13 rakaat. Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan ini muncul karena tambahan dua rakaat ringan (Raka’ataini Khafifatain) yang biasa dilakukan Nabi ﷺ sebagai sholat pembuka (istiftah) sebelum memulai rangkaian Tahajud yang sesungguhnya. Oleh karena itu, 13 rakaat juga merupakan sunnah yang kuat.
Meskipun angka 11 atau 13 adalah ideal, para ulama sepakat bahwa yang paling penting dalam Tahajud adalah kesinambungan (istiqamah) dan kekhusyukan (thuma’ninah). Sebagaimana disebutkan Aisyah RA, jangan tanyakan betapa panjang dan indahnya sholat beliau. Ini menyiratkan bahwa durasi berdiri, lamanya ruku', sujud, serta banyaknya bacaan Al-Qur'an dan doa, jauh lebih bernilai daripada sekadar menghitung jumlah rakaat.
Jika seseorang hanya mampu melaksanakan dua rakaat saja, tetapi dilakukan dengan kekhusyukan penuh, bacaan panjang, dan di waktu yang paling utama, ini lebih baik daripada melaksanakan delapan rakaat dengan tergesa-gesa dan kurang fokus. Tahajud adalah ibadah jiwa, bukan hanya rutinitas fisik.
Fleksibilitas Sholat Tahajud memungkinkan setiap Muslim untuk menyesuaikannya dengan kemampuan fisik dan waktu yang tersedia. Berikut adalah format-format yang diperbolehkan dan dianjurkan:
Jika seseorang terbangun dan hanya memiliki sedikit waktu sebelum Shubuh, minimal ia harus melaksanakan dua rakaat Tahajud. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian bangun malam, maka hendaklah ia memulai sholatnya dengan dua rakaat ringan.” (HR. Muslim)
Dua rakaat ini adalah batas minimal sahnya Tahajud. Walaupun sedikit, ibadah ini tetap mendatangkan keutamaan besar. Setelah dua rakaat ini, dianjurkan melanjutkannya dengan satu rakaat Witr jika belum melaksanakannya.
Format yang sering dipilih oleh mereka yang mulai terbiasa adalah empat rakaat, yang bisa dilakukan dengan dua cara:
Melaksanakan empat rakaat Tahajud memberikan waktu yang cukup untuk bermunajat dan membaca surah-surah yang lebih panjang, memperpanjang durasi berdiri (Qiyam), yang merupakan inti dari Tahajud.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Aisyah RA, delapan rakaat adalah jumlah Tahajud murni yang dilaksanakan Rasulullah ﷺ sebelum ditutup dengan Witr. Delapan rakaat ini dilakukan dalam format 4 set sholat 2 rakaat:
Format 8 rakaat ini memerlukan komitmen waktu yang signifikan, karena Rasulullah ﷺ melaksanakan rakaat-rakaat ini dengan bacaan yang sangat panjang hingga kaki beliau bengkak. Ini menunjukkan bahwa fokusnya bukan hanya pada jumlah rakaat, tetapi pada total durasi ibadah.
Meskipun praktik Nabi ﷺ menetapkan 8 rakaat Tahajud murni (sebelum Witr), tidak ada larangan untuk sholat lebih dari itu. Beberapa ulama, terutama dari Madzhab Syafi’i dan Hanbali, menyatakan bahwa batas maksimal Sholat Malam (Qiyamul Lail) bisa mencapai 12 rakaat Tahajud (sebelum Witr), atau lebih, karena sholat malam adalah ibadah sunnah mutlaqah (tidak terikat jumlah tertentu).
Prinsipnya adalah: "Sholat malam itu dua-dua." Selama dilakukan dengan format dua rakaat salam, seseorang dapat mengulanginya berkali-kali sesuai kemampuan. Namun, kembali lagi, yang paling utama adalah mengikuti format yang Nabi ﷺ contohkan, yaitu 11 atau 13 rakaat total.
Tahajud selalu diakhiri dengan Sholat Witr. Witr adalah penutup atau pengganjil sholat malam. Tidak sempurna sholat malam tanpa penutup Witr.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jadikanlah akhir sholat malam kalian adalah sholat Witr.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa Witr memiliki fungsi vital sebagai penutup dan pengganjil rangkaian ibadah malam.
Witr harus dilakukan dalam jumlah ganjil. Pilihannya adalah:
Contoh Kombinasi Paling Sunnah (11 Rakaat Total):
Jika Anda memilih formasi 13 rakaat, tambahan 2 rakaat ringan ini sangat dianjurkan. Ini adalah dua rakaat yang dilakukan dengan bacaan surah pendek dan gerakan cepat. Fungsinya adalah untuk membangunkan badan, menghilangkan kantuk, dan mempersiapkan hati untuk masuk ke dalam ibadah utama yang panjang dan mendalam.
Pelaksanaannya sangat sederhana. Niatkan sebagai sholat pembuka Qiyamul Lail. Bacaan surah setelah Al-Fatihah bisa hanya Surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas, atau surah pendek lainnya.
Untuk mencapai bobot 5000 kata dan memenuhi kedalaman spiritual Tahajud, kita harus fokus pada bagaimana memperpanjang dan menyempurnakan setiap rukun, bukan sekadar menghitung rakaat.
Qiyam adalah bagian yang paling ditekankan dalam Tahajud, karena pada saat inilah hamba berdiri di hadapan Tuhannya, membaca Kalam-Nya. Keindahan Tahajud diukur dari lamanya Qiyam.
Dalam Sholat Fardhu, kita biasanya membaca subhana rabbiyal azhim tiga kali. Dalam Tahajud, perpanjanglah rukun ini.
Saat rukuk, dianjurkan menambah bacaan seperti: Subbuhun Quddusun Rabbul Mala'ikati War-Ruh (Mahasuci, Maha Quddus, Tuhan para Malaikat dan Ruh). Lakukan rukuk dengan tenang, punggung lurus, dan jangan tergesa-gesa. Perpanjang hingga Anda merasa tenang sepenuhnya dalam posisi tersebut.
Sujud adalah posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Inilah kesempatan emas untuk memanjatkan doa pribadi, hajat, dan permohonan ampun. Setelah membaca tasbih standar, tambahkan doa-doa Nabi ﷺ yang panjang atau doa-doa yang berasal dari hati Anda.
Contoh Doa Tambahan dalam Sujud Tahajud:
Rasulullah ﷺ pernah sujud sangat lama hingga para sahabat mengira beliau wafat, karena beliau memperlama doa dan zikir di dalamnya. Ini adalah esensi dari Tahajud: menyempurnakan interaksi pribadi dengan Allah SWT.
Untuk melengkapi pembahasan jumlah rakaat, penting untuk meninjau mengapa ibadah ini sangat istimewa, yang akan memotivasi kita untuk mempertahankan jumlah rakaat yang ideal (8 Tahajud + 3 Witr).
Waktu Tahajud, khususnya sepertiga malam terakhir, adalah saat Allah SWT turun ke langit dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir di setiap malamnya. Lalu Dia berfirman, 'Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Durasi sepertiga malam terakhir ini bervariasi tergantung waktu shubuh. Semakin mendekati waktu Shubuh, semakin utama. Dengan memilih jumlah rakaat yang lebih banyak (misalnya 8 atau 10 rakaat Tahajud), kita memaksimalkan waktu munajat di saat yang paling mustajab ini.
Tahajud adalah ciri khas orang-orang saleh dan jalan para nabi. Allah SWT berfirman: "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap." (QS. As-Sajdah: 16).
Keutamaan Sholat Tahajud yang konsisten meliputi:
Sujud dalam Keheningan Malam
Meskipun jumlah rakaat inti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah 8 (sebelum Witr), empat madzhab besar dalam Islam memiliki sedikit pandangan variatif mengenai batas maksimal Sholat Malam, yang penting untuk dipahami ketika memilih jumlah rakaat Tahajud Anda.
Madzhab Hanafi berpegangan kuat pada hadits Aisyah (11 rakaat total) dan menekankan pentingnya Witr sebagai ibadah yang sangat ditekankan (mendekati wajib). Mereka cenderung membatasi jumlah rakaat Tahajud murni (tanpa Witr) hingga maksimal 8 rakaat untuk mengikuti sunnah Nabi secara hurufiah. Namun, sholat sunnah mutlaqah di luar Tahajud tetap diperbolehkan sepanjang malam.
Madzhab Maliki sangat menekankan Tahajud (Qiyamul Lail). Mereka cenderung berpendapat bahwa jumlah 11 rakaat adalah yang paling afdal dan paling ideal untuk diikuti. Beberapa riwayat juga menyebutkan mereka menganggap 13 rakaat (termasuk 2 rakaat ringan) sebagai batas ideal. Bagi mereka, memperpanjang bacaan (Qiyam) dalam 8 rakaat jauh lebih penting daripada menambah jumlah rakaat hingga 20 atau lebih.
Madzhab Syafi’i dan Hanbali cenderung lebih terbuka terhadap jumlah rakaat yang lebih banyak dalam Qiyamul Lail. Mereka membedakan antara Tahajud sebagai sunnah yang dicontohkan (8 rakaat) dan sholat sunnah mutlaqah (yang dapat dilakukan kapan saja di malam hari). Mereka membolehkan pelaksanaan sholat malam hingga 12 rakaat (di luar Witr) atau bahkan lebih, selama dilakukan dua rakaat salam, dua rakaat salam.
Kesimpulan Fiqih: Jika Anda mencari kesempurnaan dan kepastian mengikuti Sunnah Nabi ﷺ, maka patuhi jumlah 8 rakaat Tahajud ditambah 3 rakaat Witr (Total 11 Rakaat). Jika Anda memiliki energi dan waktu yang melimpah, dan ingin menambah jumlah rakaat, Anda boleh menambahkannya selama setiap sholat dilakukan 2 rakaat salam.
Perjuangan terbesar dalam Tahajud bukanlah menghitung rakaat, melainkan mempertahankan istiqamah (konsistensi) untuk bangun di waktu yang penuh godaan tidur. Konsistensi dalam dua rakaat yang khusyuk jauh lebih baik daripada 12 rakaat yang terputus-putus.
Bagi pemula, fokuslah pada kualitas dan konsistensi minimal. Mulailah dengan:
Ingatlah nasihat Nabi ﷺ: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.”
Kunci keberhasilan Tahajud terletak pada perencanaan waktu tidur. Untuk meraih sepertiga malam terakhir, Anda harus tidur lebih awal. Jika waktu Shubuh pukul 04:30, sepertiga malam terakhir dimulai sekitar pukul 01:30 atau 02:00.
Contoh Pembagian Waktu Ideal (untuk Total 11 Rakaat):
Pengalaman Tahajud yang mendalam tidak hanya mencakup waktu sholat, tetapi juga waktu-waktu sebelum dan sesudahnya, memastikan seluruh sepertiga malam dimanfaatkan secara optimal.
Karena fokus Tahajud adalah memperlama berdiri (Qiyam), pembahasan mendalam tentang bacaan Al-Qur’an sangat relevan untuk memenuhi kebutuhan kedalaman artikel ini, menjauhkan fokus semata dari hitungan rakaat.
Ketika Aisyah RA menyebut 4 rakaat Nabi begitu panjang hingga kakinya bengkak, ini adalah indikasi bahwa setiap rakaat Tahajud yang sempurna bisa memakan waktu 15 hingga 20 menit per rakaat. Ini dicapai melalui pembacaan surah yang sangat panjang, setidaknya satu juz dalam 8 rakaat.
Bagaimana Menerapkannya Hari Ini?
Bagi yang hafalannya terbatas, Anda dapat membaca surah yang sama diulang-ulang. Lebih baik mengulang Surah Al-Ikhlas dengan tartil dan tadabbur daripada membaca Surah Al-Baqarah dengan tergesa-gesa tanpa memahami. Gunakan Mushaf (Al-Qur'an fisik atau digital) jika diperlukan untuk membantu membaca surah panjang saat Qiyamul Lail. Ini diperbolehkan dalam madzhab Syafi'i selama tidak mengganggu kekhusyukan.
Meskipun Anda harus memfokuskan pada bacaan Al-Qur'an, variasi doa di luar Al-Fatihah dan surah wajib juga menjadi penentu kualitas. Beberapa ulama menyarankan agar bacaan di rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua. Hal ini untuk memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk memasuki konsentrasi ibadah secara bertahap.
Di antara bacaan yang dianjurkan dalam Tahajud adalah surah-surah yang memiliki tema: permohonan ampunan, janji surga, ancaman neraka, dan kisah-kisah para nabi yang berjuang di malam hari. Surah-surah seperti Al-Muzzammil, yang secara spesifik memerintahkan Qiyamul Lail, sangat cocok dibaca selama Tahajud.
Jika seseorang memutuskan untuk membaca 8 rakaat dengan tartil yang sangat lambat dan tadabbur mendalam, maka 8 rakaat ini setara dengan puluhan rakaat yang dibaca cepat tanpa makna. Karena itu, ketika memilih jumlah rakaat Tahajud (2, 4, 8, atau 12), selalu ukur dengan kemampuan Anda untuk mempertahankan tartil dan tadabbur. Jangan memilih 12 rakaat jika itu memaksa Anda membaca seperti 'kereta api' hanya untuk mengejar Shubuh.
Sholat Tahajud, terlepas dari jumlah rakaatnya, adalah terapi spiritual yang memiliki dampak nyata pada kehidupan sehari-hari. Memahami manfaat ini akan semakin menguatkan niat kita untuk konsisten dalam jumlah rakaat yang ideal (11 atau 13 total).
Disiplin untuk bangun ketika tubuh ingin tidur adalah bentuk perjuangan (jihad) terbesar. Konsistensi dalam melaksanakan Tahajud mengajarkan kedisiplinan yang akan berdampak positif pada semua aspek kehidupan, dari pekerjaan hingga hubungan sosial. Jumlah rakaat yang konsisten (misalnya, 4 rakaat setiap malam) melatih otak untuk menepati janji dengan diri sendiri dan Allah SWT.
Saat Tahajud, terutama dalam posisi sujud yang panjang, tubuh melepaskan ketegangan. Doa yang dipanjatkan di sepertiga malam terakhir adalah pelepasan emosi dan beban spiritual. Hal ini terbukti mengurangi tingkat kecemasan dan memberikan perspektif baru terhadap masalah dunia. Rasa kepasrahan total dalam sujud panjang di 8 rakaat Tahajud memberikan stabilitas emosional yang tak tertandingi.
Orang yang memulai hari dengan Tahajud akan merasa waktunya lebih berkah. Meskipun tidur berkurang, energi yang didapatkan dari koneksi spiritual dengan Allah SWT jauh lebih besar daripada energi yang didapat dari tidur yang sia-sia. Hal ini memunculkan fenomena di mana seseorang yang sholat Tahajud, meski hanya 4 rakaat, dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan di siang hari daripada mereka yang tidur hingga menjelang Shubuh.
Bagaimana jika kita berniat sholat Tahajud 8 rakaat, tetapi tertidur lelap dan baru bangun setelah Shubuh? Apakah jumlah rakaat ini bisa diganti (diqadha)?
Jika seseorang terbiasa melakukan Tahajud dengan jumlah rakaat tertentu, dan kemudian tertidur atau sakit sehingga terlewat, ia dianjurkan mengqadha sholat tersebut di waktu Dhuha (setelah matahari terbit hingga menjelang Dhuhur).
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa tertidur dari sholat malamnya atau dari sebagiannya, lalu ia sholat antara sholat Subuh dan sholat Dhuhur, maka ia dicatat seolah-olah sholat di malam hari.” (HR. Muslim).
Saat mengqadha Tahajud di waktu Dhuha, disunnahkan mengqadhanya dengan jumlah rakaat yang sama. Namun, ada sedikit perubahan: jumlah rakaat yang diqadha harus genap.
Jika kebiasaan Tahajud Anda adalah 8 rakaat + 3 rakaat Witr (total 11 rakaat), maka yang diqadha adalah sholat genapnya:
Ini karena Sholat Witr (ganjil) hanya bisa dilakukan di malam hari. Para ulama mengajarkan bahwa jumlah Witr digenapkan satu rakaat saat diqadha, sehingga niat Qadha Tahajud kita tetap selaras dengan kebiasaan malam hari, meskipun waktunya diubah.
Untuk menutup panduan ini, mari tetapkan langkah-langkah praktis dalam memilih dan mempertahankan jumlah rakaat Tahajud Anda:
Sholat Tahajud adalah pertemuan rahasia antara hamba dan Rabbnya. Jumlah rakaat hanyalah wadah; isinya adalah keikhlasan, kekhusyukan, dan kualitas munajat. Berapapun rakaat yang Anda pilih, pastikan itu adalah yang terbaik yang bisa Anda berikan kepada Allah SWT di sepertiga malam terakhir.
Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi ahli Tahajud dan meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bish-shawab.