Al-Qur'an, kitab suci utama dalam agama Islam, adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantaraan Malaikat Jibril. Kitab ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman hidup, tetapi juga merupakan mukjizat abadi yang struktur dan susunannya tersusun rapi secara ilahiah. Bagi setiap Muslim dan pihak yang ingin mendalami Islam, memahami struktur dasar Al-Qur'an adalah langkah fundamental. Pertanyaan yang paling mendasar mengenai struktur ini seringkali berkaitan dengan unit-unit pembentuknya, yaitu surat dan ayat.
Pertanyaan kunci yang selalu muncul ketika mengkaji tata letak Al-Qur'an adalah: Berapa jumlah surat dalam Al-Qur'an? Jawaban atas pertanyaan ini telah disepakati secara mutlak oleh seluruh ulama dan umat Islam sejak masa kodifikasi awal.
I. Jumlah Pasti Surat dalam Al-Qur'an
Konsensus mutlak, yang tidak pernah diperdebatkan dalam sejarah Islam, menetapkan bahwa jumlah keseluruhan surat atau bab dalam Al-Qur'an adalah seratus empat belas (114) surat. Jumlah ini adalah bagian dari Tawqifi, yang berarti penetapan ini berasal langsung dari petunjuk Ilahi melalui Nabi Muhammad ﷺ dan tidak tunduk pada ijtihad atau perubahan manusia.
1. Definisi Surat (Chapter)
Secara etimologi, kata "Surat" (سورة) dalam bahasa Arab sering diartikan sebagai "pangkat," "kedudukan," atau "tanda." Dalam konteks Al-Qur'an, surat didefinisikan sebagai sekelompok ayat Al-Qur'an yang memiliki permulaan dan akhir yang jelas, membentuk satu kesatuan tematik, dan memiliki nama tersendiri. Setiap surat, kecuali Surah At-Tawbah, dimulai dengan kalimat suci Bismillahirrahmanirrahim (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).
2. Struktur Internal Surat: Ayat dan Ruku'
Meskipun jumlah surat selalu 114, perlu diperhatikan bahwa jumlah ayat (kalimat) di dalamnya bervariasi tergantung metode penghitungan (Kufi, Madani, Bashri, Syami). Namun, penetapan jumlah surat tetap 114. Selain ayat, surat-surat juga dibagi menjadi Ruku’ (sekelompok ayat yang menandakan satu kesatuan topik yang sering digunakan sebagai panduan dalam salat).
II. Klasifikasi Struktural 114 Surat
Ke-114 surat ini tidak homogen. Para ulama telah mengklasifikasikannya berdasarkan berbagai kriteria, yang paling umum adalah tempat turunnya (Makkiyah atau Madaniyah) dan panjangnya (pembagian tematik).
1. Klasifikasi Berdasarkan Tempat Turun (Makkiyah vs. Madaniyah)
Pengelompokan ini didasarkan pada apakah surat tersebut diturunkan sebelum (Makkiyah) atau sesudah (Madaniyah) hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ dari Mekah ke Madinah.
A. Surat Makkiyah (± 86 Surat)
- Masa Penurunan: Sebelum Hijrah (Periode Mekah, ± 13 tahun).
- Fokus Utama: Penekanan pada tauhid (keesaan Allah), penetapan kenabian Muhammad, hari kebangkitan (Akhirat), kisah para nabi terdahulu (sebagai hiburan dan peringatan), serta penggunaan gaya bahasa yang kuat, ringkas, dan puitis.
- Ciri Khas: Umumnya surat-surat yang pendek, sering dimulai dengan huruf-huruf tunggal (huruf muqatta'ah) seperti Alif Lam Mim, Kaf Ha Ya 'Ain Shad.
B. Surat Madaniyah (± 28 Surat)
- Masa Penurunan: Setelah Hijrah (Periode Madinah, ± 10 tahun).
- Fokus Utama: Pengaturan hukum (syariat), perihal ibadah (salat, zakat, puasa, haji), hukum keluarga, pidana, ekonomi, hubungan sosial, dan perdebatan dengan kaum munafik dan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani).
- Ciri Khas: Umumnya surat-surat yang panjang, gaya bahasanya cenderung lebih detail, legislatif, dan berargumentasi.
Meskipun ada 86 surat Makkiyah dan 28 surat Madaniyah, surat-surat Madaniyah seringkali memiliki jumlah ayat yang jauh lebih banyak, sehingga menempati porsi volume yang signifikan dalam mushaf.
2. Klasifikasi Berdasarkan Panjang (Pembagian Tematik)
Untuk memudahkan hafalan dan pengkajian, ulama juga membagi 114 surat menjadi empat kategori utama berdasarkan panjang dan temanya. Pengelompokan ini dikenal sebagai Aqsam Al-Qur'an (Divisi-divisi Al-Qur'an).
A. At-Tiwāl (Surat-surat Panjang)
Ini adalah tujuh surat terpanjang dalam Al-Qur'an, yang mencakup hampir sepertiga dari total isi kitab suci. Mereka adalah surat-surat yang sangat penting karena mengandung landasan hukum Islam, kisah sejarah terperinci, dan panduan teologis yang mendalam.
- Al-Baqarah (286 ayat)
- Ali 'Imran (200 ayat)
- An-Nisa' (176 ayat)
- Al-Ma'idah (120 ayat)
- Al-An'am (165 ayat)
- Al-A'raf (206 ayat)
- Anfal dan At-Tawbah (Terkadang dianggap sebagai satu kesatuan panjang karena tidak adanya basmalah di At-Tawbah, atau Yunus ditambahkan sebagai surat ketujuh).
B. Al-Mi'ūn (Surat-surat Seratusan)
Surat-surat yang jumlah ayatnya mendekati atau lebih dari seratus ayat, namun tidak termasuk dalam At-Tiwāl. Kelompok ini mencakup sekitar 12 surat, seperti Surah Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra'd, Ibrahim, dan Al-Hijr. Tema mereka sering berfokus pada kisah-kisah nabi dan argumen tentang keesaan Allah.
C. Al-Maśānī (Surat-surat Pengulangan)
Surat-surat yang panjangnya sedang, biasanya kurang dari 100 ayat. Dinamakan Al-Maśānī karena sering mengulang kisah dan nasihat yang ada di surat-surat panjang, tetapi disajikan dalam bentuk yang lebih ringkas dan ringkas. Kelompok ini mencakup surat-surat dari Surah Al-Kahf hingga Surah Al-Hujurat atau Qaaf.
D. Al-Mufaṣṣal (Surat-surat Pendek)
Surat-surat pendek yang dimulai dari Surah Qaaf (atau Surah Al-Hujurat, tergantung pendapat ulama) hingga Surah An-Nas (surat ke-114). Kelompok ini memiliki banyak pemisah (fasal), yang ditandai dengan Basmalah, sehingga memudahkan pembagian dan pembacaan. Surat-surat ini sering dibacakan dalam salat dan memiliki ritme yang kuat.
III. Detil Analisis Sepuluh Surat Kunci dari 114
Untuk memahami kekayaan dan keanekaragaman dari 114 surat tersebut, penting untuk mengulas beberapa contoh kunci, mulai dari yang terpanjang hingga yang terpendek, mencerminkan struktur yang menakjubkan dari kitab suci ini.
1. Surah Al-Fatihah (Pembukaan) - Surat ke-1
Surah pembuka ini terdiri dari 7 ayat dan merupakan inti sari dari seluruh ajaran Al-Qur'an. Ia disebut Ummul Kitab (Induk Kitab) karena mencakup Tauhid (keesaan Allah), janji hari akhir, pujian kepada Allah, dan permohonan hamba untuk dibimbing di jalan yang lurus. Surah ini wajib dibaca dalam setiap rakaat salat, menekankan pentingnya strukturnya sebagai gerbang menuju 113 surat berikutnya.
2. Surah Al-Baqarah (Sapi Betina) - Surat ke-2 (Madaniyah)
Sebagai surat terpanjang (286 ayat), Al-Baqarah adalah surat Madaniyah yang memuat pilar-pilar syariat Islam. Surat ini secara ekstensif membahas hukum-hukum muamalah (interaksi sosial), seperti puasa (ayat 183-187), haji, zakat, hutang piutang (ayat 282, ayat terpanjang dalam Al-Qur'an), serta kisah Nabi Adam, Nabi Musa, dan Bani Israel sebagai pelajaran bagi umat Muslim untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Ayat Kursi (ayat 255) yang merupakan ayat tentang keagungan Allah terletak dalam surat ini.
3. Surah Ali 'Imran (Keluarga Imran) - Surat ke-3 (Madaniyah)
Dengan 200 ayat, surat ini seringkali dipasangkan dengan Al-Baqarah (dijuluki Az-Zahrawayn, dua yang bercahaya). Fokus utamanya adalah dialog dan perdebatan dengan kaum Nasrani, penetapan kebenaran Isa (Yesus), dan sejarah keluarga Imran (ayah Maryam). Surat ini juga memberikan penekanan besar pada pentingnya jihad, kesabaran dalam menghadapi musuh, dan kisah Perang Uhud, memberikan pelajaran mendalam tentang keimanan dan konsistensi.
4. Surah An-Nisa' (Wanita) - Surat ke-4 (Madaniyah)
Surat sepanjang 176 ayat ini adalah fondasi hukum Islam mengenai hubungan sosial, terutama yang berkaitan dengan wanita, pernikahan, warisan, dan yatim piatu. Hukum waris (fara'id) dijelaskan secara detail di sini, menunjukkan perhatian Islam yang mendalam terhadap keadilan dalam distribusi kekayaan dan perlindungan hak-hak kaum lemah.
5. Surah Yusuf (Nabi Yusuf) - Surat ke-12 (Makkiyah)
Terdiri dari 111 ayat, surat ini unik karena menceritakan kisah Nabi Yusuf secara lengkap, dari awal hingga akhir, dalam satu kesatuan surat. Ini adalah pengecualian, karena kisah nabi lain biasanya tersebar di berbagai surat. Struktur naratifnya yang indah membuatnya disebut Ahsanul Qasas (Kisah Terbaik), mengajarkan tentang kesabaran, takdir, godaan, dan kekuasaan Ilahi.
6. Surah Al-Kahf (Gua) - Surat ke-18 (Makkiyah)
Surah ini sering dibaca pada hari Jumat dan berisi empat kisah utama yang berfungsi sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal: Ashabul Kahf (pemuda gua, fitnah agama), pemilik dua kebun (fitnah harta), Nabi Musa dan Khidr (fitnah ilmu), dan kisah Dzulqarnain (fitnah kekuasaan). Struktur surat ini menunjukkan keutamaan ilmu dan kerendahan hati di hadapan takdir Allah.
7. Surah Yasin (Huruf Ya Sin) - Surat ke-36 (Makkiyah)
Terkenal sebagai "Jantung Al-Qur'an" (Qalb Al-Qur'an), Surah Yasin (83 ayat) berfokus pada kebenaran Hari Kebangkitan, kekuasaan Allah dalam penciptaan, dan kisah para rasul terdahulu. Meskipun pendek dibandingkan Al-Baqarah, ritmenya yang kuat dan argumennya yang tegas membuatnya sangat berpengaruh dalam praktik keagamaan Muslim.
8. Surah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) - Surat ke-55 (Madaniyah/Makkiyah – Ada Perbedaan Pendapat)
Surat ini dikenal karena pengulangan ayat ikoniknya: "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Diulang 31 kali). Surat ini mendeskripsikan keindahan surga dan kengerian neraka, menekankan bahwa segala sesuatu di alam semesta tunduk pada kekuasaan dan rahmat Allah. Strukturnya yang ritmis dan puitis membedakannya dari surat-surat lain.
9. Surah Adh-Dhuha (Waktu Dhuha) - Surat ke-93 (Makkiyah)
Contoh sempurna dari kategori Al-Mufaṣṣal. Surah yang sangat pendek ini (11 ayat) diturunkan untuk menghibur Nabi Muhammad ﷺ setelah periode wahyu terputus sementara. Surat ini mengingatkan Nabi tentang nikmat masa lalu dan janji Allah untuk masa depan, memberikan pelajaran universal tentang harapan di tengah keputusasaan.
10. Surah An-Nas (Manusia) - Surat ke-114 (Makkiyah)
Surat terakhir dalam mushaf, bersama Surah Al-Falaq, dikenal sebagai Al-Mu'awwidhatayn (Dua Surat Perlindungan). Surah An-Nas mengajarkan umat Muslim untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan bisikan setan, baik yang berasal dari jin maupun manusia. Penempatannya di akhir 114 surat melambangkan bahwa setelah menerima semua petunjuk dalam Al-Qur'an, manusia tetap harus memohon pertolongan Ilahi untuk melawan godaan.
IV. Proses Kodifikasi dan Konsistensi Jumlah 114
Jumlah 114 surat tidak ditetapkan secara kebetulan atau berdasarkan ijtihad ulama. Jumlah ini adalah hasil dari proses kodifikasi (pengumpulan) Al-Qur'an yang sangat hati-hati dan sistematis, yang menjamin keaslian dan konsistensi teks hingga hari ini.
1. Era Nabi Muhammad ﷺ (Penyusunan Awal)
Selama hidup Nabi, Al-Qur'an diturunkan secara bertahap. Para sahabat mencatatnya pada media yang berbeda (tulang, kulit, pelepah kurma) dan, yang lebih penting, menghafalnya. Nabi sendiri yang menetapkan urutan ayat dalam surat (disebut tartib al-ayāt) dan juga menetapkan urutan surat berdasarkan petunjuk Jibril, meskipun mushaf saat itu belum terkumpul dalam satu bentuk buku.
2. Era Abu Bakar As-Siddiq (Pengumpulan Pertama)
Setelah banyak penghafal (huffazh) Al-Qur'an gugur dalam Perang Yamamah, Khalifah Abu Bakar khawatir bagian dari wahyu akan hilang. Atas saran Umar bin Khattab, Zaid bin Tsabit ditugaskan untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur'an yang tersebar dan memverifikasinya dengan hafalan para sahabat. Pengumpulan ini menghasilkan satu mushaf lengkap yang tersimpan pada masa Abu Bakar dan kemudian di tangan Hafsah binti Umar.
3. Era Utsman bin Affan (Standardisasi Mushaf)
Penyebaran Islam ke berbagai wilayah menyebabkan munculnya perbedaan dialek dan cara baca (qira'at) di kalangan Muslim. Untuk mencegah perpecahan, Khalifah Utsman bin Affan membentuk komite di bawah Zaid bin Tsabit. Komite ini menyalin mushaf yang disimpan Hafsah ke dalam beberapa salinan standar (Mushaf Utsmani) dan mengirimkannya ke pusat-pusat Islam utama. Proses ini menyatukan umat Islam pada satu teks baku yang terdiri dari 114 surat, menghilangkan semua varian non-standar, dan memastikan bahwa struktur 114 surat ini dipertahankan secara universal.
Keberhasilan Mushaf Utsmani memastikan bahwa, terlepas dari perbedaan kecil dalam jumlah ayat (akibat metode penghitungan ayat), struktur dasar yang terdiri dari 114 surat tetaplah mutlak dan tidak berubah.
V. Analisis Mendalam Mengenai Surat-Surat Yang Lebih Jarang Diperhatikan
Selain surat-surat besar, keindahan 114 surat juga terletak pada surat-surat menengah dan pendek yang mengisi ruang Al-Qur'an. Mereka berfungsi sebagai petunjuk rinci untuk situasi dan kondisi tertentu.
1. Surat-Surat Hukum dan Etika (Kelompok Madaniyah Menengah)
Surat-surat seperti Al-Hajj (22), An-Nur (24), dan Al-Ahzab (33) menyediakan kerangka hukum yang rinci untuk masyarakat Madinah yang baru lahir. Al-Hajj membahas ritual haji dan izin berperang. An-Nur menetapkan hukum pidana terkait tuduhan zina dan pentingnya menjaga kehormatan sosial melalui etika berpakaian dan izin masuk rumah. Al-Ahzab membahas pentingnya etika Nabi di rumah tangga dan hukum-hukum tentang istri-istri Nabi, yang memberikan landasan moralitas tertinggi bagi Muslim.
2. Surat-Surat Peringatan dan Ancaman (Kelompok Makkiyah Menengah)
Surat-surat seperti Al-Qamar (54), Ad-Dukhan (44), dan Az-Zumar (39) berfokus pada peringatan keras terhadap kaum musyrik Mekah yang menolak kebenaran. Mereka sering menggunakan deskripsi Hari Kiamat yang dramatis, kehancuran kaum terdahulu (seperti kaum 'Ad dan Tsamud), dan kontras antara nasib orang yang beriman dan orang yang kafir. Struktur ini berfungsi untuk menguatkan iman para pengikut awal dan memberikan tekanan psikologis kepada para penentang.
3. Peran Surat-Surat Singkat (Al-Mufaṣṣal Terakhir)
Bagian terakhir dari Al-Qur'an (Juz 'Amma), yang meliputi sekitar 37 surat (dari An-Naba' hingga An-Nas), meskipun pendek, seringkali merupakan yang paling sering dibaca dan dihafal karena kekompakan, ritme, dan kekuatan pesan tauhidnya. Mari kita lihat beberapa contoh kunci:
- Al-Kautsar (Surat ke-108): Surat terpendek (3 ayat). Inti pesannya adalah janji kebaikan yang melimpah bagi Nabi Muhammad ﷺ dan perintah untuk beribadah dan berkurban, di tengah ancaman dan penghinaan dari musuh-musuhnya. Ini adalah konsolasi dan kemenangan dalam bentuk yang paling ringkas.
- Al-Qari'ah (Surat ke-101): Fokus penuh pada detail Hari Kiamat (Hari Gegar Gempita). Ayat-ayatnya membangun suasana horor dan keagungan Allah yang tak tertandingi.
- Al-Ikhlas (Surat ke-112): Disebut setara dengan sepertiga Al-Qur'an karena isinya adalah definisi murni dan mutlak dari Tauhid (keesaan Allah). Surat ini menolak segala bentuk kemusyrikan dan antropomorfisme terhadap Tuhan.
Struktur keseluruhan dari 114 surat ini menunjukkan sebuah desain yang seimbang. Surat-surat panjang meletakkan fondasi hukum dan sejarah, surat-surat menengah mengembangkan tema-tema tersebut, dan surat-surat pendek memberikan pengingat yang ringkas, peringatan, dan benteng spiritual (perlindungan).
VI. Keunikan Tata Letak Surat (Tartib Mushafi)
Penting untuk dicatat bahwa urutan 114 surat dalam mushaf (tartib mushafi) tidak selalu sesuai dengan urutan kronologis penurunannya (tartib nuzuli). Ini adalah bukti lain bahwa penataan akhir Al-Qur'an adalah ilahiah.
1. Perbedaan Tartib Nuzuli dan Tartib Mushafi
Surat yang pertama kali turun adalah Al-'Alaq (96), tetapi ia diletakkan jauh di bagian belakang mushaf. Sementara Al-Fatihah, yang turun di awal masa Nabi, diletakkan di posisi pertama. Tata letak (1 hingga 114) yang kita kenal sekarang ini diyakini oleh mayoritas ulama sebagai Tawqifi, yaitu ditetapkan oleh Allah sendiri melalui petunjuk Nabi. Para ulama berpendapat bahwa urutan ini memiliki kebijaksanaan tersembunyi, mungkin untuk menciptakan koherensi tematik yang melintasi batasan kronologis.
2. Koherensi Tematik (Munāsabah)
Ilmu Munāsabah (keterkaitan) mempelajari hubungan tematik antar surat yang berdekatan. Misalnya, Surah Al-Baqarah (2) diakhiri dengan doa memohon pertolongan dari kesulitan, dan Surah Ali 'Imran (3) dimulai dengan kisah yang menguji umat Muslim melalui berbagai kesulitan, seolah-olah Ali 'Imran adalah jawaban atau respons terhadap doa di akhir Al-Baqarah. Keterkaitan 114 surat ini membentuk satu kesatuan narasi teologis yang utuh.
VII. Kedalaman Pesan Setiap Surah: Menjelajahi Tema Khusus
Untuk mencapai pemahaman yang komprehensif tentang 114 surat, diperlukan tinjauan rinci terhadap pesan inti yang terkandung dalam kelompok-kelompok tematik yang tersisa, yang mencerminkan spektrum hukum, moral, dan doktrinal yang ditawarkan oleh Al-Qur'an.
1. Surat-Surat Ekonomi dan Muamalah
Surat-surat Madaniyah, seperti Al-Baqarah, An-Nisa', dan Al-Ma'idah (Surat ke-5), menetapkan kerangka etika ekonomi yang unik. Al-Ma'idah secara khusus menguraikan hukum makanan yang halal dan haram, keabsahan akad perjanjian, serta hukuman bagi pencurian. Surat-surat ini menunjukkan bahwa Islam mengatur kehidupan sehari-hari secara rinci, bukan hanya ritual keagamaan semata.
2. Surat-Surat Keimanan dan Kisah Para Rasul
Banyak dari 114 surat yang didedikasikan untuk kisah para nabi sebagai pelajaran. Selain Yusuf (12), kita memiliki Hud (11) yang sangat detail menceritakan kisah Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syu’aib. Surah Asy-Syu'ara' (26), dengan 227 ayatnya, menekankan pentingnya peran seorang rasul dan kesulitan yang mereka hadapi dalam berdakwah kepada kaumnya. Setiap kisah ini, yang tersebar di antara 114 surat, memperkuat doktrin ketuhanan dan hari akhir.
3. Surat-Surat Kosmologis dan Ilmu Pengetahuan
Beberapa surat, khususnya yang diturunkan di Mekah, menggunakan fenomena alam sebagai bukti kebesaran Allah. Surah Ya Sin (36), Ar-Rum (30), dan An-Naba' (78) seringkali membuka dan menutup dengan sumpah (qasam) atas bintang, matahari, atau bumi. Ar-Rum membahas tentang Romawi dan Persia dan diakhiri dengan refleksi tentang alam semesta, yang menekankan bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (Ayatullah) ada di mana-mana, baik dalam sejarah maupun di alam semesta.
4. Surat-Surat yang Menyebut Nama Perempuan
Di antara 114 surat, hanya satu surat yang secara eksplisit dinamai berdasarkan tokoh perempuan, yaitu Surah Maryam (19). Surat Makkiyah ini menceritakan kisah Nabi Zakaria, Yahya, dan yang paling menonjol, kisah Maryam dan kelahiran Nabi Isa. Fokus yang diberikan pada kesucian dan cobaan Maryam menekankan peran penting perempuan dalam narasi kenabian.
VIII. Menghitung Volume Al-Qur'an: Lebih dari Sekedar Angka
Meskipun jumlah surat Al-Qur'an tetap 114, volume yang dicakup oleh setiap surat sangat berbeda, yang menunjukkan adanya hierarki bobot dan peran dalam struktur keseluruhan.
1. Kontribusi Surat Panjang vs. Surat Pendek
Jika kita melihat pembagian Juz' (30 bagian untuk memudahkan pembacaan bulanan), kita akan menemukan bahwa 7 surat terpanjang (At-Tiwāl) mencakup sekitar 7 Juz' (hampir seperempat dari seluruh kitab). Sementara itu, 37 surat terakhir (Al-Mufaṣṣal) hanya mencakup 1.5 Juz' terakhir (Juz' 29 dan Juz' 30). Ini menggarisbawahi bahwa surat-surat Madaniyah yang panjang berfungsi sebagai fondasi legislatif yang besar, sedangkan surat-surat Makkiyah yang pendek berfungsi sebagai dorongan spiritual dan penegasan akidah.
2. Peran Huruf Muqatta'ah
Sebanyak 29 dari 114 surat dimulai dengan kombinasi huruf-huruf tunggal Arab yang dikenal sebagai Huruf Muqatta'ah (huruf-huruf terputus), seperti Alif Lam Mim, Ha Mim, atau Qaf. Penempatan huruf-huruf ini pada awal surat-surat tertentu menunjukkan hubungan misterius antara surat dan struktur bahasa Arab itu sendiri, seringkali diikuti oleh penegasan bahwa kitab ini adalah kitab suci yang tak diragukan lagi.
IX. Penutup dan Pengaruh Jumlah 114
Ke-114 surat ini adalah unit dasar yang menyusun keseluruhan petunjuk Ilahi. Mereka adalah bukti keutuhan dan kesempurnaan Al-Qur'an sebagai kitab yang terpelihara.
Kesepakatan ulama atas 114 surat menjadi salah satu bukti terkuat tentang pemeliharaan Al-Qur'an. Meskipun terdapat keragaman dalam rincian (seperti jumlah ayat atau ruku'), kerangka besar 114 bab ini tidak pernah berubah sejak era Utsman bin Affan, dan hal ini membedakan Al-Qur'an dari kitab-kitab suci lainnya yang strukturnya mungkin telah mengalami penyesuaian historis.
Memahami bahwa Al-Qur'an terdiri dari 114 surat membantu Muslim dalam mengatur ibadah mereka (misalnya, menghafal Al-Mufaṣṣal untuk salat) dan dalam pengkajian (misalnya, fokus pada At-Tiwāl untuk memahami hukum-hukum syariat). Jumlah ini adalah angka suci yang mewakili keutuhan, dari Al-Fatihah yang merupakan gerbang pujian hingga An-Nas yang merupakan permohonan perlindungan dari godaan duniawi, 114 surat menjadi peta jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Setiap surat memiliki karakteristik unik, sejarah penurunan, dan tujuan spesifik yang berkontribusi pada mosaik kebijaksanaan Al-Qur'an secara keseluruhan. Keindahan 114 surat terletak pada bagaimana keragaman tematik tersebut disatukan dalam satu kesatuan harmonis yang tak tertandingi.
X. Elaborasi Lanjut Struktur Tematik Surat-Surat Penting
Untuk benar-benar menghargai struktur 114 surat, kita harus menyelam lebih dalam ke dalam segmen-segmen tertentu yang seringkali terabaikan dalam studi umum.
1. Kisah Nabi Musa dan Kontribusi Surat Terkait
Kisah Nabi Musa (Musa) adalah yang paling sering diulang dalam Al-Qur'an, tersebar di puluhan surat, namun beberapa surat menempatkannya sebagai tema sentral. Surah Taha (20) dan Surah Al-Qasas (28) memberikan detail yang berbeda. Taha, surat Makkiyah yang fokus pada ketauhidan, menceritakan panggilan kenabian Musa di Lembah Suci dan dialognya dengan Firaun. Al-Qasas, juga Makkiyah, menceritakan masa kecil Musa, perlindungannya dari Firaun, dan perjalanannya ke Madyan sebelum ia kembali sebagai rasul. Kombinasi dari surat-surat ini menunjukkan bagaimana kisah nabi tidak hanya berfungsi sebagai narasi, tetapi sebagai alat didaktik untuk menguatkan Nabi Muhammad ﷺ di masa-masa sulit di Mekah.
2. Surat-Surat Tentang Perang dan Perdamaian
Periode Madinah menghasilkan surat-surat yang mengatur interaksi Muslim dengan pihak luar, terutama dalam konteks konflik. Surah Al-Anfal (8), dinamai sesuai harta rampasan perang, membahas etika perang, pembagian harta, dan pentingnya kesatuan dalam medan pertempuran (khususnya setelah Perang Badar). Di sisi lain, Surah Al-Hujurat (49) adalah surat Madaniyah pendek yang berfokus sepenuhnya pada etika internal masyarakat Muslim, mengatur cara berbicara kepada Nabi dan pentingnya menghindari fitnah, prasangka, dan mengejek satu sama lain. Keberadaan 114 surat ini menunjukkan bahwa Islam mengatur baik urusan militer (luar) maupun urusan moral (dalam).
3. Surat-Surat Peringatan Khusus untuk Kaum Munafik
Setelah Hijrah, tantangan terbesar bagi umat Islam bukan hanya musuh luar, tetapi juga musuh dari dalam: Kaum Munafik (orang-orang yang berpura-pura beriman). Beberapa surat Madaniyah, seperti Surah At-Tawbah (9), Al-Munafiqun (63), dan sebagian besar dari An-Nisa' (4), secara tegas dan eksplisit mengekspos ciri-ciri dan bahaya kaum munafik. At-Tawbah, yang tidak dimulai dengan Basmalah, membawa nada peringatan yang sangat keras dan mengatur hubungan dengan non-Muslim dalam konteks perjanjian dan pengkhianatan. Penempatan surat-surat ini di tengah-tengah mushaf berfungsi sebagai pengingat abadi akan perlunya ketulusan dalam iman.
4. Surat-Surat Peringatan Hari Kiamat (Al-Mufaṣṣal Awal)
Kelompok Mufaṣṣal yang terletak di akhir Al-Qur'an (Juz 30) dikenal karena deskripsinya yang hidup tentang Akhirat. An-Naba' (78), An-Nazi'at (79), At-Takwir (81), dan Al-Ghashiyah (88), semuanya Makkiyah, berfokus pada peristiwa-peristiwa dramatis yang akan terjadi pada hari kebangkitan. Pengulangan tema ini di 114 surat berfungsi untuk menanamkan keyakinan yang teguh pada pertanggungjawaban di Hari Akhir, yang merupakan fondasi moral bagi seluruh syariat yang diatur di surat-surat panjang sebelumnya.
XI. Simbolisme Struktural Angka 114
Selain sebagai angka yang ditetapkan, angka 114 juga memiliki resonansi tertentu dalam konteks struktur teks.
1. Keseimbangan Makkiyah dan Madaniyah
Meskipun jumlahnya terbagi sekitar 86 (Makkiyah) dan 28 (Madaniyah), pembagian ini menciptakan keseimbangan pesan. Makkiyah menanamkan akar tauhid dan keimanan (Akidah) di hati para pengikut yang tertindas. Madaniyah membangun batang dan buah (Syariat) untuk sebuah negara yang berdaulat. Ke-114 surat ini mencakup seluruh spektrum perkembangan umat Islam, dari minoritas tertindas hingga komunitas yang dominan.
2. Peran Surah Al-Fatihah dan At-Tawbah
Dua surat memiliki posisi unik dalam 114 surat. Al-Fatihah (Surat ke-1), yang merupakan ringkasan, dan At-Tawbah (Surat ke-9), yang merupakan satu-satunya surat yang tidak diawali Basmalah. Basmalah sendiri terdiri dari 19 huruf Arab dan muncul sebanyak 114 kali dalam seluruh Al-Qur'an jika Basmalah pada Al-Fatihah dihitung sebagai ayat dan Basmalah pembuka pada setiap surat dihitung, ditambah satu Basmalah tersembunyi di dalam Surah An-Naml (27, ayat 30). Hubungan numerik yang detail ini sering dilihat oleh para sarjana sebagai bukti lebih lanjut tentang desain ilahiah dari 114 surat.
3. Struktur Kunci di Juz 'Amma (Juz 30)
Juz 30 (meliputi surat 78 hingga 114) berfungsi sebagai pengantar yang ideal bagi seluruh 114 surat. Ini adalah bagian yang paling sering dihafal oleh anak-anak dan pemula. Surat-surat pendek ini, meskipun ringkas, secara kolektif mencakup semua tema utama Al-Qur'an: Tauhid (Al-Ikhlas), Kenabian (Adh-Dhuha), Hari Kiamat (An-Naba', Al-Qari'ah), dan hukum sosial dasar (Al-Ma'un, At-Takatsur). Ini adalah "perpustakaan mini" yang mewakili kedalaman dari keseluruhan 114 surat.
XII. Penekanan pada Teks dan Konteks dalam 114 Surat
Studi mengenai 114 surat juga melibatkan analisis mendalam mengenai konteks penurunannya (Asbabun Nuzul), yang seringkali menjelaskan mengapa suatu hukum atau kisah diletakkan di dalam surat tertentu. Memahami konteks ini adalah kunci untuk menafsirkan hukum-hukum yang terdapat dalam surat-surat Madaniyah yang panjang.
1. Kisah Ashabul Ukhdud (Surah Al-Buruj)
Surah Al-Buruj (85) menceritakan tentang 'Ashabul Ukhdud' (Para Penghuni Parit), yaitu orang-orang beriman yang dibunuh secara brutal karena teguh memegang agama mereka. Surat Makkiyah ini berfungsi untuk memberikan dukungan psikologis dan spiritual kepada Muslim awal di Mekah yang mengalami penindasan dan penyiksaan, mengingatkan mereka bahwa penderitaan mereka bukanlah hal baru dalam sejarah kenabian.
2. Hukum Zina dan Saksi (Surah An-Nur)
Penurunan hukum yang sangat ketat mengenai tuduhan zina dalam Surah An-Nur (24) terkait langsung dengan peristiwa "Al-Ifk" (Fitnah Besar) di mana Aisyah, istri Nabi, difitnah. Konteks ini menjelaskan mengapa Al-Qur'an menempatkan standar pembuktian yang sangat tinggi (empat saksi mata yang adil) untuk tuduhan tersebut, demi melindungi kehormatan pribadi dan stabilitas masyarakat. Peristiwa ini, yang diabadikan dalam 114 surat, menunjukkan fungsi Al-Qur'an sebagai penegak kebenaran dan keadilan.
3. Kontroversi Riba (Surah Al-Baqarah)
Ayat-ayat terakhir Al-Baqarah (282-286) yang mengatur tentang utang, kesaksian, dan pelarangan riba (bunga) diturunkan pada akhir periode Nabi di Madinah. Ayat-ayat ini merupakan klimaks dari hukum ekonomi Islam, menyempurnakan struktur syariat dalam salah satu surat terpenting dari 114 surat. Surat ini memperingatkan bahwa mereka yang mempraktikkan riba berada dalam pertentangan langsung dengan Allah dan Rasul-Nya, menunjukkan betapa sentralnya keadilan ekonomi dalam Islam.
XIII. Kesimpulan: Keajaiban Arsitektur 114 Surat
Jumlah pasti surat dalam Al-Qur'an adalah 114, sebuah angka yang mencerminkan ketelitian Ilahi dalam pemeliharaan wahyu. Dari permulaan yang ringkas namun mendasar (Al-Fatihah) hingga akhir yang memohon perlindungan (An-Nas), setiap unit dari 114 surat memiliki peran yang spesifik dan esensial.
Ke-114 surat ini adalah gabungan harmonis dari sejarah, hukum, moralitas, teologi, dan kosmologi. Struktur internal yang diatur oleh Nabi, dan kemudian distandardisasi oleh para khalifah, memastikan bahwa teks yang dibaca oleh umat Islam hari ini persis sama dengan yang diwahyukan berabad-abad yang lalu. Keajaiban 114 surat terletak pada bagaimana mereka, meskipun berbeda panjang dan waktu penurunan, membentuk sebuah kitab suci yang tak lekang oleh waktu, menjadi panduan yang lengkap dan tak tergantikan bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.