Ilustrasi perjalanan malam (Isra')
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil (Anak-anak Israel), adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat pertama dari surat ini memiliki makna yang sangat mendalam, menceritakan tentang peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam, yaitu perjalanan malam (Isra') Nabi Muhammad SAW. Mempelajari cara membaca ayat ini bukan hanya soal pelafalan, tetapi juga memahami konteks dan keagungan peristiwa yang dikandungnya.
Ayat pembuka Surat Al-Isra sangat singkat namun padat makna. Ayat ini secara langsung menyatakan keagungan Allah SWT yang membebaskan hamba-Nya melakukan perjalanan mukjizat.
Membaca Al-Qur'an dengan benar melibatkan tiga aspek utama: pengucapan (tajwid), pemahaman (makna), dan penghayatan (tadabbur). Untuk Ayat 1 Al-Isra, berikut adalah panduan membacanya:
Fokus utama dalam membaca ayat ini adalah pada pengucapan huruf dan panjang pendeknya vokal, sesuai kaidah tajwid.
Sangat disarankan untuk mendengarkan bacaan Qari' (pembaca Al-Qur'an) yang terpercaya untuk menyempurnakan pelafalan, terutama pada bagian yang membutuhkan penekanan atau pemanjangan huruf.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "Asraa bi'abdihii lailam" (memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam). "Isra'" secara harfiah berarti perjalanan di malam hari. Ayat ini adalah pengakuan bahwa Allah SWT yang memulainya. Ini menunjukkan bahwa peristiwa agung tersebut adalah kehendak dan kuasa ilahi, bukan inisiatif manusia semata.
Perjalanan ini berpindah dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem), yang merupakan bukti kebesaran Allah sekaligus penegasan kedudukan Yerusalem sebagai kiblat pertama umat Islam. Kata "baaraknaa haualahu" (Kami berkahi sekelilingnya) menunjukkan kesucian dan keutamaan tempat tersebut.
Setelah memahami pelafalan dan maknanya, penghayatan datang dari dua penutup ayat: "li-nuriya-hu min aayaatinaa" (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami) dan "Innahuu Huwas-Samii'ul-Basiir" (Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat).
Tujuan utama Isra' Mi'raj adalah untuk menunjukkan kepada Rasulullah SAW tanda-tanda kebesaran Allah. Ketika kita membaca ayat ini, kita diingatkan bahwa di tengah kesulitan atau perjalanan hidup yang terasa berat (seperti malam yang gelap), Allah selalu mengawasi, mendengar setiap doa, dan melihat setiap usaha kita. Sifat Allah sebagai As-Sami’ (Maha Mendengar) dan Al-Basir (Maha Melihat) memberikan ketenangan bahwa tidak ada satu pun hal yang tersembunyi dari-Nya.
Untuk menguasai cara membaca Surat Al-Isra ayat 1 dengan baik, pengulangan adalah kuncinya. Latihlah membaca ayat ini secara perlahan, perhatikan setiap titik berat dan panjang bacaan. Setelah lancar, cobalah membacanya dengan cepat namun tetap menjaga kaidah tajwid. Mengintegrasikan makna ayat ini ke dalam renungan harian akan memperkaya ibadah kita, mengingatkan bahwa setiap perjalanan hidup kita berada dalam pengawasan Ilahi yang Maha Sempurna.
Dengan memperhatikan tajwid dan merenungkan maknanya, pembacaan Surat Al-Isra ayat 1 akan menjadi lebih bermakna, menghubungkan kita langsung dengan peristiwa agung yang menjadi mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW dan menjadi pelajaran abadi bagi umat manusia.