Isu mengenai kesuburan pria sering kali dikaitkan dengan jumlah dan kualitas sperma. Penting untuk dipahami bahwa "menambahkan" sperma (volume ejakulat) adalah proses biologis yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari gaya hidup hingga kondisi medis. Daripada fokus pada volume semata, para ahli kesehatan reproduksi menyarankan untuk mengutamakan kualitas sperma—yaitu, motilitas (pergerakan) dan morfologi (bentuk) yang sehat.
Produksi sperma (spermatogenesis) terjadi di testis dan membutuhkan waktu sekitar 70 hingga 90 hari. Faktor-faktor gaya hidup memiliki dampak langsung pada proses ini. Memaksimalkan kesehatan secara keseluruhan adalah langkah awal yang paling efektif untuk mendukung sistem reproduksi.
Diet memainkan peran krusial. Beberapa nutrisi dianggap penting untuk mendukung vitalitas sperma:
Obesitas dapat mengganggu keseimbangan hormon, termasuk menurunkan kadar testosteron dan meningkatkan suhu skrotum, yang merupakan lingkungan tidak ideal bagi produksi sperma. Menjaga Indeks Massa Tubuh (IMT) yang sehat melalui olahraga teratur sangat dianjurkan. Namun, perlu diingat bahwa olahraga berlebihan (terutama bersepeda jarak jauh atau latihan kekuatan yang ekstrem tanpa jeda) juga dapat berdampak negatif pada produksi hormon.
Testis harus berada sedikit lebih dingin daripada suhu tubuh inti agar produksi sperma optimal. Paparan panas yang berkepanjangan dapat menurunkan jumlah sperma sementara. Ini termasuk menghindari sauna, mandi air panas terlalu lama, dan meletakkan laptop langsung di pangkuan.
Volume ejakulat sebagian besar terdiri dari cairan yang diproduksi oleh kelenjar prostat dan vesikula seminalis. Cairan ini membantu memberi nutrisi dan transportasi sperma. Dehidrasi dapat menyebabkan penurunan sementara dalam volume ejakulat. Oleh karena itu, menjaga asupan cairan yang cukup (air putih) sangat penting untuk menjaga cairan tubuh tetap optimal.
Perlu juga diperhatikan frekuensi ejakulasi. Jika ejakulasi terlalu sering dalam waktu singkat, volume cairan seminal mungkin tampak lebih sedikit karena waktu pemulihan untuk pengisian kembali cairan tersebut belum maksimal.
Beberapa kebiasaan gaya hidup terbukti dapat menekan fungsi testis dan kualitas sperma:
Jika Anda dan pasangan telah berusaha untuk hamil selama satu tahun (atau enam bulan jika usia wanita di atas 35 tahun) tanpa hasil, sangat disarankan untuk mencari evaluasi kesuburan. Dokter spesialis andrologi atau urologi dapat melakukan analisis semen (sperma) untuk mengukur parameter kuantitatif dan kualitatif secara akurat. Pengukuran ini memberikan gambaran paling jelas tentang kesehatan reproduksi Anda, jauh lebih akurat daripada perkiraan berdasarkan diet atau gaya hidup saja.
Ingat, peningkatan kualitas sperma membutuhkan waktu beberapa bulan karena siklus produksi yang panjang. Konsistensi dalam gaya hidup sehat adalah kunci utama dalam mendukung sistem reproduksi Anda.