Kesuburan adalah topik penting dalam perencanaan keluarga. Bagi pasangan yang sedang berusaha memiliki keturunan, mengetahui status kesuburan pasangan, termasuk pria, adalah langkah awal yang krusial. Tidak seperti wanita yang siklus ovulasinya lebih mudah dipantau, indikator kesuburan pria seringkali tidak terlihat secara kasat mata.
Lalu, bagaimana cara mengetahui pria subur? Jawabannya terletak pada evaluasi kualitas air mani (semen) yang dilakukan melalui serangkaian tes medis spesifik.
Sekitar 40-50% kasus infertilitas (ketidaksuburan) pada pasangan melibatkan faktor pria. Oleh karena itu, pemeriksaan harus dilakukan secara seimbang antara kedua belah pihak. Pria yang tampak sehat dan aktif secara seksual tetap mungkin mengalami masalah dalam produksi atau kualitas spermanya.
Satu-satunya cara pasti untuk menentukan kesuburan pria adalah melalui analisis laboratorium terhadap sampel air mani. Prosedur ini dikenal sebagai analisis semen atau semen analysis. Pemeriksaan ini mengukur tiga parameter utama:
Ini mengukur jumlah total sperma yang ada per mililiter (ml) air mani. Jumlah yang ideal biasanya di atas 15 juta sperma per ml. Jumlah yang rendah (oligospermia) dapat mengurangi peluang pembuahan.
Motilitas adalah kemampuan sperma untuk berenang secara efektif menuju sel telur. Setidaknya 40% sperma harus menunjukkan gerakan normal. Sperma yang bergerak lambat atau tidak bergerak sama sekali (nekrozoospermia) sulit mencapai tujuannya.
Morfologi menilai bentuk kepala, bagian tengah, dan ekor sperma. Sperma harus memiliki bentuk yang "normal" agar dapat menembus sel telur. Standar Kruger (WHO) menetapkan bahwa setidaknya 4% sperma harus memiliki bentuk normal agar dianggap subur.
Selain tiga faktor utama di atas, analisis semen juga mengevaluasi volume cairan ejakulat dan tingkat keasaman (pH).
Untuk memastikan hasil yang akurat, pria perlu mengikuti protokol tertentu sebelum menyerahkan sampel. Langkah-langkah umum meliputi:
Meskipun analisis semen adalah penentu utama, pria dapat mengoptimalkan potensi kesuburannya dengan memperhatikan gaya hidup. Faktor-faktor berikut sering dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma:
Secara umum, disarankan bagi pasangan untuk mencari evaluasi kesuburan jika mereka telah melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi selama 12 bulan (untuk wanita di bawah 35 tahun) atau 6 bulan (untuk wanita di atas 35 tahun). Jika wanita sudah diketahui memiliki masalah kesuburan yang jelas, tes pria dapat dilakukan lebih awal.
Kesimpulannya, cara mengetahui pria subur tidak dapat ditebak hanya dari penampilan fisik atau performa seksual. Evaluasi medis melalui analisis semen adalah standar emas untuk mengukur potensi reproduksi seorang pria dan menjadi dasar untuk intervensi medis lebih lanjut jika diperlukan.