AIDS, atau *Acquired Immunodeficiency Syndrome*, adalah stadium akhir dari infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV adalah virus yang menyerang dan merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4 T-helper. Tanpa pengobatan, kerusakan sistem imun ini membuat tubuh rentan terhadap berbagai penyakit oportunistik dan kanker langka. Penting untuk dipahami bahwa AIDS bukanlah penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala dan infeksi yang timbul akibat kegagalan sistem imun yang disebabkan oleh HIV.
Seringkali terjadi kesalahpahaman antara HIV dan AIDS. HIV adalah virus yang menginfeksi seseorang, sedangkan AIDS adalah kondisi medis yang berkembang setelah infeksi HIV berlangsung lama dan tidak diobati secara efektif. Seseorang yang hidup dengan HIV (ODHA) belum tentu mengidap AIDS. Dengan terapi antiretroviral (ARV) modern, banyak orang yang hidup dengan HIV dapat mempertahankan kualitas hidup yang baik dan tidak pernah mencapai stadium AIDS. Namun, jika virus tidak terdeteksi atau diobati, kerusakan sistem imun akan terus berlanjut.
Infeksi HIV umumnya melewati beberapa tahapan sebelum mencapai AIDS. Tahap pertama adalah Infeksi Akut, di mana virus berkembang biak dengan cepat dan banyak gejala mirip flu muncul. Tahap kedua adalah Masa Laten Klinis (asimptomatik), di mana virus terus berkembang biak dalam jumlah yang lebih rendah dan pasien mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun selama bertahun-tahun. Tahap ketiga adalah AIDS.
Ketika jumlah sel CD4 turun di bawah ambang batas kritis (biasanya kurang dari 200 sel per milimeter kubik darah), sistem kekebalan tubuh dianggap sangat lemah. Pada titik ini, tubuh sangat rentan terhadap infeksi yang biasanya tidak berbahaya bagi orang dengan sistem imun sehat. Beberapa contoh penyakit oportunistik serius yang menjadi indikator utama seseorang telah mencapai stadium AIDS meliputi:
Munculnya salah satu atau beberapa penyakit oportunistik berat ini, bersama dengan bukti infeksi HIV, secara klinis mendefinisikan kondisi AIDS. Namun, dengan kemajuan ilmu kedokteran, diagnosis dini dan kepatuhan terhadap pengobatan ARV telah mengubah prognosis penyakit ini secara dramatis.
Saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV, tetapi pengobatan ARV sangat efektif dalam menekan replikasi virus hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi (Undetectable = Untransmittable atau U=U). Pengobatan ini tidak hanya memungkinkan ODHA untuk hidup sehat dan memiliki harapan hidup normal, tetapi juga secara efektif menghentikan penularan virus.
Pencegahan tetap menjadi kunci utama dalam mengendalikan penyebaran HIV/AIDS. Ini mencakup praktik seks aman (penggunaan kondom yang konsisten), tidak berbagi jarum suntik, dan bagi ibu hamil yang positif HIV, menjalani terapi pencegahan agar tidak menularkan virus kepada bayinya. Edukasi yang benar mengenai cara penularan dan stigma yang masih melekat adalah tantangan besar dalam upaya global untuk mengakhiri epidemi AIDS. Memahami bahwa HIV adalah kondisi kronis yang dapat dikelola, bukan vonis mati, adalah langkah pertama menuju penerimaan dan pencegahan yang lebih efektif di masyarakat.