Representasi visual dari kedalaman kajian klasik.
Dalam tradisi keilmuan Islam, terutama dalam studi fikih dan tafsir, istilah 'Hasyiyah' memegang peranan penting. Hasyiyah secara harfiah berarti 'tepi' atau 'margin'. Dalam konteks manuskrip dan kitab klasik, Hasyiyah merujuk pada catatan pinggir, penjelasan rinci, atau komentar mendalam yang ditambahkan oleh seorang ulama penerus terhadap teks utama (Matan) atau syarah (penjelasan). Salah satu figur yang karyanya dihiasi dengan Hasyiyah yang sangat berpengaruh adalah Imam Bajuri.
Hasyiyah Bajuri merujuk secara spesifik pada karya-karya monumental yang ditulis oleh Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri (w. 1847 M). Beliau adalah seorang ulama besar dari Mazhab Syafi'i yang pernah menjabat sebagai Syaikhul Azhar di Mesir. Karyanya yang paling masyhur adalah Hasyiyah atas kitab Syarah al-Jalalain (tafsir ringkas Al-Qur'an karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi) dan Hasyiyah atas kitab Syarah al-Umm karya Imam Nawawi.
Mengapa Hasyiyah Bajuri begitu penting, bahkan seringkali dianggap setara atau bahkan lebih didalami daripada teks aslinya oleh sebagian pelajar? Hal ini disebabkan oleh peran multifungsi yang dimainkannya. Teks utama (Matan) seringkali sangat ringkas, bertujuan agar mudah dihafal. Syarah (penjelasan) berusaha menguraikan maksud Matan. Namun, Hasyiyah berfungsi sebagai 'lapisan ketiga' yang mengatasi keterbatasan syarah.
Hasyiyah Bajuri secara sistematis membedah dan menguji argumen yang ada dalam syarah. Ia seringkali menyajikan perbandingan antar pandangan mazhab, mengoreksi pemahaman yang kurang tepat, atau memberikan penegasan hukum yang lebih terperinci berdasarkan metodologi Mazhab Syafi'i yang ia kuasai. Bagi para pelajar di banyak pesantren tradisional, menguasai Hasyiyah Bajuri adalah prasyarat untuk benar-benar memahami kedalaman suatu disiplin ilmu, baik itu tafsir, akidah, maupun fikih.
Dalam bidang tafsir, Hasyiyah 'ala Syarh al-Jalalain karya beliau menjadi rujukan utama. Syarh al-Jalalain sendiri sudah merupakan bentuk penyederhanaan dari karya tafsir yang lebih besar. Namun, Bajuri menambahkan nuansa interpretatif yang kaya. Ketika membahas ayat-ayat yang mengandung persoalan i'rab (struktur gramatikal Arab) atau ketika mendiskusikan makna leksikal yang ambigu, Bajuri memberikan penelusuran mendalam yang tidak ditemukan dalam teks utama. Ini menunjukkan bahwa Hasyiyah bukanlah sekadar tambahan, melainkan sebuah proses pengujian kritis terhadap warisan keilmuan sebelumnya.
Keistimewaan lain dari gaya penulisan beliau adalah kejelasan dalam mengutip pandangan ulama-ulama terdahulu yang menjadi sumber otoritas dalam mazhabnya. Bajuri memastikan bahwa setiap kesimpulan yang ia tarik memiliki sandaran yang kuat, sehingga Hasyiyah-nya bukan sekadar opini personal, melainkan sintesis dari pemikiran para mujtahid. Ini menjadikan karya ini sebagai jembatan antara kajian klasik terdahulu dan kebutuhan pemahaman kontemporer para santri.
Meskipun ditulis berabad-abad silam, Hasyiyah Bajuri tetap relevan. Di banyak institusi pendidikan Islam, kitab ini masih menjadi kurikulum wajib. Relevansi ini membuktikan betapa metodologi penulisan dan analisis yang digunakan oleh Imam Bajuri bersifat universal dalam kajian teks. Beliau mengajarkan cara berpikir kritis terhadap teks yang sudah mapanāsebuah kemampuan yang esensial dalam dunia akademik manapun.
Memahami Hasyiyah Bajuri bukan hanya tentang menghafal penjelasannya, tetapi juga tentang memahami alur penalaran (manhaj) seorang ulama besar dalam mempertahankan dan mengembangkan tradisi keilmuan. Ia adalah representasi bagaimana pengetahuan diwariskan dan diperkaya secara dinamis melalui proses penulisan catatan pinggir yang teliti dan berbobot. Warisan intelektual ini memastikan bahwa dasar-dasar keislaman terus dikaji dengan kedalaman yang memadai.