Tafsir Mendalam: Isra Ayat 7

Isra Ayat 7 merujuk pada ayat ke-7 dari Surah Al-Isra' (atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil) dalam Al-Qur'an. Ayat ini merupakan bagian krusial yang menjelaskan tentang dua kali kebinasaan (fasad) yang dilakukan oleh Bani Israil di muka bumi, serta janji Allah SWT untuk mengirimkan hamba-hamba-Nya yang kuat untuk menghukum mereka pada kali pertama dan kali kedua.

⚖️

Ilustrasi simbolis perjalanan dan penegakan keadilan Ilahi.

Teks dan Terjemahan Isra Ayat 7

Ayat ini berbunyi:

"Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: 'Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di muka bumi ini sebanyak dua kali, dan pasti kamu akan melampaui batas dengan keangkuhan yang besar.'" (QS. Al-Isra: 7)

Ayat ini memberikan peringatan keras kepada Bani Israil mengenai potensi mereka untuk menyimpang dari jalan kebenaran yang telah ditetapkan melalui Taurat. Allah SWT mengingatkan bahwa sejarah mereka akan diwarnai oleh dua episode besar kerusakan dan pemberontakan terhadap ajaran-Nya.

Dua Kali Kerusakan di Muka Bumi

Para mufassir umumnya sepakat bahwa dua kali kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini merujuk pada dua periode kehancuran besar dalam sejarah Bani Israil yang disebabkan oleh pelanggaran mereka sendiri. Kerusakan di sini tidak hanya berarti kekacauan sosial, tetapi juga penolakan terang-terangan terhadap perintah Allah dan penindasan terhadap sesama mereka (terutama terhadap nabi-nabi dan orang-orang saleh).

Periode Pertama

Kerusakan pertama sering dikaitkan dengan masa-masa awal setelah diutusnya banyak nabi. Walaupun Allah telah memberikan mereka kenikmatan berupa Kitab Suci (Taurat) dan wilayah suci Baitul Maqdis (Yerusalem), mereka menyalahgunakannya. Mereka sering membunuh para rasul yang datang membawa kebenaran, mengingkari perjanjian, dan menyebarkan kezaliman. Sebagai akibatnya, Allah mengirimkan musuh yang kuat sebagai hukuman pertama. Salah satu peristiwa yang sering disebutkan adalah penaklukan dan penghancuran Baitul Maqdis oleh bangsa Babel di bawah pimpinan Raja Nebukadnezar pada abad ke-6 SM, di mana banyak dari mereka yang diasingkan.

Periode Kedua

Kerusakan kedua terjadi setelah mereka kembali dari pengasingan dan kembali melakukan penyimpangan, termasuk penolakan terhadap ajaran-ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi berikutnya, bahkan hingga pembunuhan terhadap Zakariya dan Yahya (Yohanes Pembaptis). Hukuman kedua yang lebih dahsyat datang dari bangsa Romawi. Kaisar Titus memimpin pasukannya menghancurkan Baitul Maqdis secara total pada tahun 70 Masehi, membantai ribuan orang Yahudi, dan menyebarkan sisa-sisa populasi mereka ke seluruh penjuru dunia. Periode ini menandai kehilangan pusat spiritual dan politik mereka yang signifikan.

Keangkuhan dan Melampaui Batas

Frasa "melampaui batas dengan keangkuhan yang besar" (الْعُتُوًّا كَبِيرًا - al-'utuwwan kabīran) adalah inti dari pelanggaran mereka. Ini menunjukkan kesombongan spiritual, di mana mereka merasa lebih unggul daripada umat lain dan merasa berhak melanggar hukum-hukum Ilahi karena mereka menganggap diri mereka "umat pilihan" Allah. Keangkuhan ini memicu mereka untuk berbuat zalim, mengingkari janji, dan menindas kaum lemah, baik dari kalangan mereka sendiri maupun dari bangsa lain.

Pelajaran Universal dari Isra Ayat 7

Meskipun ayat ini secara spesifik ditujukan kepada Bani Israil, pelajarannya bersifat universal bagi seluruh umat manusia. Ayat ini menegaskan prinsip fundamental dalam ajaran Islam: bahwa setiap peradaban atau kelompok yang diberikan petunjuk ilahi, namun kemudian memilih untuk menyimpang, berbuat kerusakan, dan diliputi kesombongan, pasti akan menghadapi konsekuensi ilahi, baik dalam bentuk azab di dunia maupun di akhirat. Sejarah adalah cermin, dan peringatan dalam Surah Al-Isra ayat 7 mengingatkan setiap mukmin untuk selalu menjaga kerendahan hati dan komitmen terhadap kebenaran, agar tidak mengulangi pola kehancuran yang sama.

Kisah ini menunjukkan bahwa nikmat dan janji Allah bukanlah jaminan kekebalan mutlak dari konsekuensi perbuatan buruk. Sebaliknya, semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk menaati ajaran-Nya. Jika tanggung jawab itu diabaikan, maka kejatuhan yang menanti akan semakin besar pula.

🏠 Homepage