Ilustrasi getaran atau guncangan dahsyat.
Kata "Zalzalah" (زلزال) merupakan salah satu istilah penting dalam kosakata bahasa Arab klasik yang seringkali merujuk pada guncangan hebat, terutama gempa bumi. Dalam konteks agama, khususnya Al-Qur'an, kata ini memiliki makna yang lebih dalam, seringkali dihubungkan dengan hari kiamat atau peristiwa dahsyat akhir zaman. Memahami di mana kata zalzalah disebutkan pada ayat tertentu akan membuka pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peringatan ilahi.
Secara etimologis, Zalzalah berasal dari akar kata zalzala yang berarti mengguncang, menggetarkan, atau membuat sesuatu menjadi tidak stabil. Dalam penggunaan sehari-hari, ini adalah terjemahan langsung untuk gempa bumi. Namun, ketika muncul dalam teks-teks suci, maknanya meluas mencakup goncangan spiritual, kekacauan sosial, atau malapetaka besar yang menguji keimanan manusia.
Terdapat beberapa surah dalam Al-Qur'an yang secara eksplisit menggunakan kata Zalzalah atau bentuk turunannya. Dua tempat yang paling sering dirujuk adalah Surah Al-Hajj dan Surah Az-Zalzalah itu sendiri.
Surah ini dinamai berdasarkan kata pembukanya. Surah Az-Zalzalah secara penuh membahas deskripsi mengerikannya hari kiamat, yang dimulai dengan guncangan bumi yang sangat dahsyat.
Ayat pembuka ini menegaskan bahwa kata zalzalah disebutkan pada ayat ini sebagai peristiwa pertama yang menandai dimulainya Hari Perhitungan. Guncangan yang terjadi bukanlah gempa biasa, melainkan goncangan final yang mengeluarkan segala isinya. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat akan keadilan mutlak Tuhan, di mana setiap perbuatan manusia, sekecil apapun, akan dipertanggungjawabkan saat bumi memberikan kesaksiannya.
Di dalam Surah Al-Hajj, kata zalzalah disebutkan pada ayat yang juga menjelaskan gambaran kengerian hari kiamat, menekankan betapa manusia akan bingung dan tidak berdaya menghadapi peristiwa tersebut.
Ayat ini secara langsung menyatakan bahwa "guncangan jam itu (kiamat) adalah sesuatu yang sangat besar." Penggunaan kata Zalzalah di sini mengaitkan goncangan fisik bumi dengan goncangan psikologis dan spiritual manusia yang melihat realitas akhirat terungkap. Ibu yang sedang menyusui akan lupa pada bayinya, ibu hamil akan keguguran, dan manusia akan terlihat mabuk, padahal mereka tidak mabuk, melainkan karena azab Allah yang sangat dahsyat.
Mengapa Al-Qur'an menekankan gambaran guncangan ini? Karena goncangan fisik adalah metafora paling kuat untuk kehancuran total tatanan dunia yang selama ini kita anggap stabil. Ketika kata zalzalah disebutkan pada ayat Al-Qur'an, tujuannya adalah untuk membangkitkan kesadaran bahwa kehidupan dunia ini fana dan tidak abadi.
Peristiwa gempa bumi di dunia nyata seringkali menjadi pengingat kecil akan kekuatan dahsyat yang dimiliki Allah SWT. Ia mengingatkan manusia untuk senantiasa bersiap menghadapi hari pertanggungjawaban, di mana fondasi duniawi akan hancur lebur. Kesiapan ini bukan hanya berarti membangun rumah yang tahan gempa, tetapi lebih mendalam lagi, membangun amal dan iman yang kokoh menghadapi goncangan spiritual terbesar.
Kejelasan bahwa kata zalzalah disebutkan pada ayat yang berulang kali menekankan Hari Kiamat menunjukkan urgensi pesan ini. Ini adalah panggilan untuk bertobat, memperbaiki hubungan dengan sesama dan Tuhan, sebelum guncangan yang sesungguhnya datang tanpa peringatan di waktu yang tak terduga. Dengan demikian, pemahaman terhadap istilah ini menjadi pintu gerbang menuju perenungan eksistensial yang mendalam.