Ilustrasi: Sumber Cahaya dan Petunjuk Ilahi
Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan" atau "Jamuan", adalah surat ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat yang tergolong Madaniyah ini memiliki posisi sangat penting dalam hukum dan prinsip kehidupan seorang Muslim. Selain mengandung perintah-perintah syariat yang rinci, Al-Maidah juga menyimpan berbagai hikmah dan keutamaan yang menjadikannya salah satu surat yang patut dikaji secara mendalam.
Salah satu keutamaan paling monumental dari Surat Al-Maidah terdapat pada ayat ke-3, di mana Allah SWT menegaskan bahwa agama Islam telah disempurnakan bagi umat ini.
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu." (QS. Al-Maidah: 3)
Ayat ini menjadi penutup dari rangkaian turunnya ajaran Islam. Ini menandakan bahwa seluruh landasan akidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak telah terjelaskan secara tuntas melalui Al-Qur'an dan Sunnah. Keutamaan ini memberikan rasa aman dan kepastian bagi umat Islam bahwa mereka memegang pedoman hidup yang lengkap dan tidak perlu lagi mencari tambahan dari sumber lain di luar syariat.
Nama surat ini diambil dari kisah permintaan para pengikut Nabi Isa (AS) akan hidangan dari langit. Surat Al-Maidah mengatur secara rinci mengenai hal-hal yang dihalalkan dan diharamkan bagi konsumsi umat Islam, khususnya terkait daging hewan.
Al-Maidah menekankan pentingnya menepati janji dan perjanjian, baik dengan Allah maupun sesama manusia. Surat ini juga membahas masalah peradilan dan kepemimpinan. Seorang Muslim diperintahkan untuk berlaku adil, bahkan jika harus bersaksi melawan diri sendiri atau orang terdekat.
Keutamaan ayat tentang keadilan (QS. Al-Maidah: 8) sangatlah fundamental:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi, dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Kewajiban untuk bersikap adil tanpa memandang dendam atau simpati pribadi adalah pilar utama yang ditekankan surat ini, menegaskan bahwa moralitas Islam bersifat universal dan transparan.
Selain ayat-ayat hukum, Al-Maidah juga memuat kisah-kisah teladan yang berfungsi sebagai pengajaran abadi. Kisah tentang dua putra Nabi Adam (Habil dan Qabil) memberikan pelajaran tentang konsekuensi iri hati dan permusuhan. Selain itu, surat ini juga mengulas kembali kisah para nabi terdahulu sebagai peringatan bagi umat Nabi Muhammad SAW agar tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu dalam mendustakan rasul dan melanggar perjanjian ilahi.
Secara keseluruhan, keutamaan Surat Al-Maidah terletak pada perannya sebagai penutup dan penyempurna syariat Islam. Ia membawa pilar-pilar penting seperti kesempurnaan agama, panduan halal-haram yang jelas, kewajiban menegakkan keadilan, dan pentingnya menunaikan janji. Membaca dan merenungkan isinya membantu seorang Muslim memahami pondasi hukum dan etika yang menjadi pedoman hidup hingga akhir zaman.