Istilah "Kuttab" berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti "tempat menulis" atau "tempat buku". Dalam konteks sejarah Islam, Kuttab merujuk pada lembaga pendidikan dasar pertama yang menjadi tulang punggung literasi dan transmisi ilmu agama di era klasik. Keberadaannya sangat fundamental karena ia berfungsi sebagai madrasah awal bagi anak-anak Muslim sebelum mereka melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti majelis ilmu para ulama besar.
Di tengah pusat-pusat peradaban Islam, Kuttab memastikan bahwa setiap Muslim, terlepas dari latar belakang sosialnya, memiliki akses terhadap pengetahuan dasar yang wajib, yaitu membaca, menulis, dan menghafal Al-Qur'an.
Ketika kita berbicara mengenai "Kuttab Imam Malik," fokusnya beralih pada tradisi pendidikan yang diwarisi dari mazhab Maliki, yang berpusat di Madinah dan kemudian menyebar luas, terutama di Afrika Utara dan Andalusia. Imam Malik bin Anas, salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam, sangat menekankan pentingnya pendidikan formal dan ketat dalam membentuk karakter seorang Muslim.
Kuttab di bawah pengaruh mazhab Maliki dikenal memiliki kurikulum yang sangat terstruktur. Prioritas utama tentu saja adalah pengajaran Al-Qur'an, bukan hanya aspek tilawah (membaca) tetapi juga pemahaman dasar tentang makna dan penghafalan. Selain itu, mereka juga diajarkan dasar-dasar akidah, fiqh (hukum Islam) sesuai mazhab Maliki, dan etika (adab).
Penting untuk dicatat bahwa Kuttab Imam Malik menekankan metode pengajaran lisan yang kuat, didukung oleh disiplin yang tinggi. Guru (Mu'allim) memegang otoritas besar dalam membentuk akhlak murid. Keterkaitan antara pengajaran Al-Qur'an dengan pembentukan moralitas adalah ciri khas yang sangat kuat dalam sistem pendidikan yang diasosiasikan dengan Madinah dan Imam Malik.
Metode yang digunakan dalam Kuttab klasik seringkali mengandalkan hafalan berulang-ulang (tadris) dan penulisan menggunakan papan kayu (lauh) yang dapat dihapus. Ini memungkinkan efisiensi dalam penggunaan media tulis yang saat itu masih mahal dan langka. Murid-murid belajar menulis huruf, menggabungkannya menjadi kata, dan kemudian menyalin ayat-ayat suci.
Disiplin adalah elemen tak terpisahkan. Pendidikan di Kuttab bukan hanya transfer informasi, tetapi pembentukan kepribadian yang tunduk pada aturan ilmu. Para ulama yang mengikuti jejak Imam Malik meyakini bahwa ilmu yang didapatkan tanpa adab hanyalah pengetahuan kosong. Oleh karena itu, penekanan pada rasa hormat kepada guru, kejujuran, dan kesabaran adalah bagian integral dari pelajaran sehari-hari.
Meskipun bentuk fisik Kuttab tradisional mungkin telah berevolusi menjadi sekolah formal modern, semangat dasar dari Kuttab Imam Malik tetap relevan hingga kini. Banyak lembaga pendidikan Islam modern, terutama di negara-negara yang menganut tradisi Maliki, masih mengadopsi fokus inti: mengutamakan Al-Qur'an sebagai fondasi, dan mengintegrasikan pendidikan akhlak bersamaan dengan ilmu pengetahuan.
Kuttab mengajarkan kita bahwa pendidikan dasar haruslah holistikāmelibatkan akal, hati, dan perilaku. Warisan pendidikan yang ditinggalkan oleh Imam Malik melalui sistem Kuttab adalah sebuah cetak biru tentang bagaimana menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan moral. Memahami Kuttab adalah memahami bagaimana pondasi ilmu Islam dibangun di atas ketelitian dan keteguhan hati.