Ilustrasi perjalanan spiritual dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
Hubungan antara Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) adalah salah satu narasi paling mendalam dalam sejarah Islam. Kedua masjid ini tidak hanya merupakan situs suci, tetapi juga titik fokus ibadah, sejarah kenabian, dan perjalanan spiritual umat Muslim selama berabad-abad.
Keutamaan dan Kedudukan
Masjidil Haram adalah kiblat dunia, tempat Ka'bah berada, pusat dari ibadah haji dan umrah. Keutamaan shalat di dalamnya dilipatgandakan nilainya, menjadikannya destinasi utama setiap Muslim. Sebaliknya, Masjidil Aqsa, yang merupakan kompleks masjid yang lebih luas, dikenal sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum berpindah ke Ka'bah. Masjid ini juga merupakan lokasi dari mana Nabi Muhammad SAW melakukan Isra' Mi'raj.
Dalam hadis sahih, disebutkan bahwa shalat di Masjidil Aqsa memiliki keutamaan yang sangat besar. Meskipun nilainya tidak melebihi Masjidil Haram, Masjidil Aqsa tetap menempati posisi ketiga setelah Masjid Nabawi di Madinah dalam hal keutamaan spiritual. Keistimewaan ini menarik perhatian kaum Muslimin untuk selalu menyambungnya dalam doa dan, jika memungkinkan, dalam kunjungan fisik.
Perjalanan Isra' Mi'raj: Jembatan Ilahi
Titik temu paling monumental antara kedua tempat suci ini adalah peristiwa agung Isra' Mi'raj. Isra' adalah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Dari Masjidil Aqsa inilah, beliau kemudian dimuliakan dengan diangkat menuju langit untuk menerima perintah shalat lima waktu, yang merupakan tiang agama. Peristiwa ini mengukuhkan status Masjidil Aqsa sebagai "Gerbang Langit" atau tempat transit antara bumi dan alam malakut.
Perjalanan fisik yang ditempuh oleh Nabi dalam waktu singkat tersebut menjadi simbol bahwa Islam adalah agama yang menghubungkan tempat-tempat suci yang jauh secara spiritual. Jarak geografis yang memisahkan Makkah dan Al-Quds menjadi tersingkap oleh kekuatan ilahi, menekankan kesatuan visi kenabian.
Ziarah dan Ikatan Umat
Sepanjang sejarah, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa telah menjadi bagian penting dari perjalanan ziarah. Meskipun secara historis jalur darat sangat panjang dan penuh tantangan, para penziarah sering kali menggabungkan kunjungan mereka ke Makkah, Madinah, dan kemudian ke Al-Quds. Perjalanan ini bukan sekadar wisata geografis, melainkan upaya untuk merasakan jejak para nabi dan merasakan atmosfer kesucian di ketiga masjid agung tersebut.
Bagi banyak Muslim, mengunjungi Masjidil Aqsa adalah impian yang membawa kedekatan emosional dengan sejarah iman mereka. Ketika seseorang menyelesaikan ibadah haji atau umrah di Masjidil Haram, melanjutkan perjalanan ke Masjidil Aqsa seolah melengkapi lingkaran spiritualitas Islam awal.
Tantangan dan Harapan
Saat ini, perjalanan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa sering kali diwarnai oleh kompleksitas politik dan isu keamanan. Meskipun demikian, ikatan spiritual yang mengikat kedua situs tersebut tidak pernah pudar. Umat Islam di seluruh dunia terus mendoakan dan berharap agar Masjidil Aqsa senantiasa berada dalam lindungan dan dapat diakses oleh semua Muslim dengan aman dan damai.
Kesadaran akan sejarah bersama antara Makkah dan Al-Quds terus menjadi pengingat pentingnya persatuan umat, sekaligus menegaskan peran sentral kedua masjid ini dalam jantung peradaban dan iman Islam. Keduanya adalah tiang penopang spiritualitas yang menghubungkan umat dari masa lalu hingga masa depan.