Membaca surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surat Bani Israil, merupakan sebuah perjalanan spiritual yang kaya akan pelajaran moral, sejarah, dan keyakinan. Surat ke-17 dalam Al-Qur'an ini dibuka dengan penggalan kisah Isra' Mi'raj, mukjizat perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang kemudian dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Ayat pembuka ini menjadi landasan penting untuk memahami kedudukan agung Islam dan peran sentral Nabi dalam sejarah kenabian.
Ilustrasi visual tema perjalanan dan keajaiban spiritual dalam surat Al-Isra.
Pelajaran Akidah dan Moral
Selain kisah perjalanan agung, inti dari surat Al-Isra terletak pada petunjuk-petunjuk ilahiah mengenai perilaku seorang Muslim. Surat ini menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang tua. Allah SWT berfirman untuk tidak mengucapkan kata "ah" atau membentak mereka, melainkan berkata dengan perkataan yang mulia dan penuh hormat. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan berbakti kepada kedua orang tua dalam Islam, sebuah perintah yang seringkali disejajarkan dengan perintah tauhid.
Lebih lanjut, Al-Isra memberikan peringatan keras terhadap perbuatan tercela seperti membunuh anak karena khawatir kemiskinan, mendekati zina, dan berlaku curang dalam timbangan. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pagar moral yang melindungi masyarakat dari kerusakan. Membaca dan merenungkan ayat-ayat ini membantu umat Islam membangun benteng spiritual yang kokoh dalam menghadapi godaan duniawi.
Kisah Umat Terdahulu dan Kehancuran
Surat ini juga mengisahkan tentang kehancuran kaum Bani Israil (Yahudi) akibat pembangkangan mereka terhadap janji-janji Allah SWT. Setelah diselamatkan dari Firaun dan diberikan nikmat-nikmat besar (seperti makanan mana dan salwa, serta air dari batu), mereka kerap kali melanggar perjanjian, berbuat kerusakan di muka bumi, dan menyombongkan diri.
Pelajaran yang dapat dipetik adalah konsistensi dalam ketaatan. Allah SWT memberikan peringatan tegas bahwa kerusakan pertama yang dilakukan oleh Bani Israil akan berujung pada kehancuran kedua. Ini adalah pengingat universal bahwa kekuasaan dan kenikmatan duniawi akan dicabut jika manusia lupa akan pemberi nikmat dan menyalahgunakan kebebasan yang diberikan.
Pentingnya Bersyukur dan Kewajiban Sosial
Dalam konteks sosial, Surat Al-Isra menekankan pentingnya tanggung jawab sosial. Ayat-ayat yang membahas tentang larangan israf (pemborosan) dan perintah untuk memberikan hak kepada kerabat dekat, anak yatim, dan orang miskin sangat ditekankan. Islam mendorong keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan pribadi dan kepedulian terhadap sesama.
- Larangan Israf: Boros adalah perbuatan setan, menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya harus bijaksana.
- Keadilan Sosial: Pentingnya menunaikan hak-hak ekonomi mereka yang membutuhkan sebagai bagian dari ibadah.
- Etika Berbicara: Menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia dan dusta.
Penutup Surat: Janji dan Kebenaran
Menutup lembaran surat Al-Isra, kita disajikan dengan konfirmasi kebenaran Al-Qur'an dan keniscayaan hari kiamat. Allah SWT menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk dan rahmat, meskipun manusia cenderung meragukannya. Pembacaan yang tekun atas surat ini bukan hanya sekadar ritual, melainkan sebuah kesempatan untuk memperbarui komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang ditawarkan oleh firman Allah. Dengan memahami Al-Isra, seorang Muslim diingatkan akan perjalanan hidupnya yang harus diisi dengan kebaikan, kesopanan, dan ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta.