Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Al Ghazali, adalah salah satu pemikir Islam terbesar yang karyanya sangat berpengaruh dalam bidang fikih, teologi, dan terutama tasawuf. Dalam pandangan beliau, pembahasan mengenai akhlak bukan sekadar daftar perilaku baik dan buruk, melainkan fondasi esensial bagi pencapaian kebahagiaan sejati di dunia maupun akhirat.
Untuk memahami apa itu akhlak adalah menurut Imam Al Ghazali, kita harus merujuk pada pemahamannya yang mendalam tentang jiwa (nafs). Beliau mengartikan akhlak secara fundamental sebagai keadaan batin yang menetap. Dalam karyanya yang masyhur, Ihya Ulumuddin, beliau menjelaskan bahwa akhlak adalah suatu sifat atau kecenderungan yang tertanam dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tertentu secara spontan tanpa perlu pemikiran atau paksaan yang berat.
Al Ghazali membagi sifat-sifat batin ini menjadi dua kategori utama: yang terpuji (mahmudah) dan yang tercela (mazmumah). Jika sifat tersebut secara otomatis memunculkan tindakan kebaikan—seperti sabar saat menghadapi kesulitan, atau murah hati saat memiliki harta—maka itu adalah akhlak yang baik. Sebaliknya, jika sifat tersebut mendorong pada keburukan—seperti marah yang tidak terkontrol, atau kikir—maka itu adalah akhlak yang buruk.
Poin krusial yang ditekankan oleh Al Ghazali adalah aspek spontanitas dan kemudahan. Akhlak sejati bukanlah tindakan baik yang dipaksakan sekali-sekali, melainkan kebiasaan yang sudah mendarah daging. Jika seseorang harus berjuang keras setiap kali ingin berkata jujur, maka kejujuran itu belum sepenuhnya menjadi akhlaknya; itu baru sebatas perbuatan yang dipaksakan. Akhlak yang benar terwujud ketika perbuatan baik menjadi kenikmatan alami bagi pelakunya.
Lantas, bagaimana akhlak yang baik itu terbentuk? Menurut Al Ghazali, pembentukan akhlak melibatkan tiga pilar utama: pengetahuan (ilmu), amal (tindakan), dan kebiasaan (istiqamah).
Al Ghazali sangat menekankan bahwa akhlak yang paling tinggi dan paling mulia adalah akhlak yang bersumber dari makrifatullah (mengenal Allah). Ketika seorang hamba benar-benar mengenal keagungan dan kebaikan Tuhannya, maka sifat-sifat ketuhanan yang tercermin dalam Asmaul Husna akan mulai tercermin dalam perilakunya. Misalnya, karena Allah Maha Pengampun, maka hamba berusaha menjadi pemaaf. Karena Allah Maha Bijaksana, maka hamba berusaha berpikir dengan bijaksana.
Dalam konteks etika, Al Ghazali mengajarkan pentingnya jalan tengah atau keseimbangan (wasatiyah). Akhlak yang baik hampir selalu berada di antara dua ekstrem yang tercela. Sebagai contoh klasik:
Keseimbangan ini hanya bisa dicapai melalui pengendalian diri yang ketat, yang mana pengendalian diri itu sendiri adalah puncak dari akhlak yang baik. Oleh karena itu, menurut Imam Al Ghazali, akhlak adalah manifestasi nyata dari sejauh mana seseorang berhasil membersihkan hatinya dan menyelaraskan kehendak nafsunya dengan kehendak syariat Allah. Ini adalah proses seumur hidup yang menuntut perjuangan mujahadah yang tiada henti.