Akhlak sering kali diterjemahkan sebagai moralitas atau karakter. Dalam konteks ajaran Islam, pembinaan akhlak adalah proses fundamental dan berkelanjutan untuk membentuk kepribadian seseorang agar sesuai dengan tuntunan ilahi. Ini bukan sekadar perilaku luar, melainkan cerminan dari keyakinan dan hati yang telah dimurnikan. Pembinaan ini merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas hidup individu di dunia maupun akhirat.
Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia salah satunya adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Hal ini menunjukkan betapa sentralnya peran karakter dalam agama. Akhlak yang baik adalah timbangan amal terberat di Hari Perhitungan. Seseorang dengan ibadah yang banyak namun lisannya menyakiti orang lain akan menemui kesulitan, sementara mereka yang sederhana tetapi memiliki budi pekerti luhur akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah SWT.
Pembinaan akhlak bukanlah hasil instan, melainkan sebuah perjalanan adaptasi dan introspeksi diri yang melibatkan beberapa tahapan krusial. Proses ini harus dimulai sejak dini dan terus diasah sepanjang usia.
Langkah awal dalam pembinaan adalah memahami apa yang benar dan apa yang salah. Ini diperoleh melalui pembelajaran syariat, baik dari Al-Qur'an, Hadis, maupun teladan para ulama. Tanpa ilmu yang benar, upaya pembinaan akhlak berisiko jatuh pada kesesatan atau hanya menjadi formalitas tanpa substansi.
Ilmu yang diperoleh harus segera diwujudkan dalam tindakan nyata. Integritas muncul ketika perkataan sejalan dengan perbuatan. Pengamalan ini harus dilakukan secara konsisten, bahkan dalam situasi yang sulit atau ketika tidak ada orang yang mengawasi. Konsistensi ini membangun kebiasaan baik.
Karakter terbentuk dari kebiasaan. Jika seseorang ingin jujur, ia harus melatih dirinya untuk selalu berkata benar. Jika ingin sabar, ia harus membiasakan diri menahan emosi saat diuji. Proses ini sering kali terasa berat (riyadhah), namun sangat esensial untuk mengakar kuatnya akhlak mulia.
Setiap akhir hari atau periode tertentu, seorang Muslim dianjurkan untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah). Apa kekurangan yang terjadi? Di mana letak kegagalan dalam menjaga lisan, pandangan, atau perbuatan? Evaluasi ini mendorong perbaikan berkelanjutan.
Fokus pembinaan akhlak mencakup seluruh aspek kehidupan. Beberapa pilar utama meliputi:
Pada intinya, pembinaan akhlak adalah proses pembentukan jati diri Islami yang utuh. Ketika akhlak seseorang baik, maka ibadah mahdhah (ritual) yang dilakukannya akan menjadi sempurna dan diterima. Ia akan menjadi rahmat bagi lingkungannya, merefleksikan ajaran Islam yang sejati melalui perilakunya sehari-hari. Mari kita jadikan upaya penyempurnaan akhlak sebagai prioritas utama dalam perjalanan spiritual kita.