Infeksi Virus Membawa Kekebalan Tubuh (HIV) dan penyakit yang diakibatkannya, AIDS, tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat global yang signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara konsisten memimpin upaya penyusunan strategi pencegahan yang komprehensif, berbasis bukti, dan berpusat pada hak asasi manusia. Pendekatan WHO menekankan pada pencegahan yang terintegrasi, menargetkan populasi kunci, dan memastikan akses universal terhadap layanan.
Prinsip Dasar Pencegahan HIV Berdasarkan WHO
WHO mengadvokasi pendekatan yang dikenal sebagai "Triple Intervention" atau strategi pencegahan terpadu yang mencakup tiga pilar utama: mengurangi risiko penularan seksual, mengurangi risiko penularan melalui paparan darah, dan memastikan ketersediaan pengobatan yang mencegah penularan lebih lanjut.
1. Pencegahan Penularan Seksual (Safer Sex)
Penularan seksual merupakan jalur utama penyebaran HIV di seluruh dunia. WHO mendorong serangkaian intervensi yang saling melengkapi:
- Promosi Penggunaan Kondom: Penggunaan kondom pria atau wanita secara konsisten dan benar adalah metode paling efektif untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual. Edukasi yang luas mengenai penggunaan kondom menjadi prioritas.
- Program Pengurangan Risiko (Harm Reduction): Ini melibatkan edukasi komprehensif mengenai seks aman, termasuk promosi abstinence (pantang), kesetiaan bermitra (monogami), dan pengurangan jumlah pasangan seksual.
- Pengobatan Pencegahan Pra-Pajanan (PrEP): WHO sangat merekomendasikan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) bagi individu yang memiliki risiko tinggi terinfeksi HIV. PrEP melibatkan penggunaan obat antiretroviral harian untuk mencegah infeksi virus.
- Pengobatan sebagai Pencegahan (TasP): Ini adalah strategi krusial. Ketika orang yang hidup dengan HIV (ODHA) menerima dan mempertahankan terapi antiretroviral (ARV) secara efektif hingga virus tidak terdeteksi dalam darah mereka (Undetectable = Untransmittable/U=U), risiko penularan seksual menjadi nol.
2. Pencegahan Penularan Melalui Darah
Meskipun jalur ini kurang dominan dibandingkan penularan seksual di banyak negara, pencegahan tetap vital, terutama terkait penggunaan narkoba suntik (IDU) dan praktik medis yang tidak aman.
- Keamanan Transfusi Darah: Memastikan 100% skrining darah donor untuk HIV dan memastikan praktik transfusi darah yang aman.
- Program Jarum Suntik Steril (Syringe Services Programs/SSP): Untuk populasi pengguna narkoba suntik, penyediaan jarum suntik dan alat suntik yang steril adalah intervensi pencegahan yang paling efektif dan terbukti secara ilmiah.
- Sterilisasi Peralatan Medis: Penekanan pada sterilisasi alat bedah dan prosedur invasif lainnya di layanan kesehatan.
Peran Pengobatan dalam Pencegahan (TasP dan TPT)
Salah satu pergeseran paradigma terbesar dalam respons HIV adalah pengakuan bahwa pengobatan bukan hanya kuratif tetapi juga pencegahan yang kuat. Strategi "Test and Treat" WHO menargetkan agar semua orang yang terdeteksi positif HIV segera memulai Terapi Antiretroviral (ARV).
Selain TasP, terdapat juga Pencegahan Transmisi Vertikal (TPT) atau Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA). WHO merekomendasikan bahwa semua wanita hamil yang hidup dengan HIV harus menerima ARV sepanjang hidup mereka, dan selama kehamilan, persalinan, dan menyusui, untuk memastikan risiko penularan kepada bayi mendekati nol.
Mengatasi Stigma dan Diskriminasi
WHO menekankan bahwa keberhasilan pencegahan sangat bergantung pada penciptaan lingkungan sosial yang mendukung. Stigma dan diskriminasi terkait HIV adalah penghalang besar bagi orang untuk mencari tes, memulai pengobatan, dan berpartisipasi dalam program pencegahan. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus selalu disertai dengan advokasi hukum dan sosial untuk melindungi hak-hak ODHA dan populasi kunci (seperti pekerja seks, pria yang berhubungan seks dengan pria, dan pengguna narkoba suntik).
Pendekatan berbasis hak asasi manusia memastikan bahwa intervensi pencegahan tidak bersifat menghakimi tetapi inklusif, sehingga setiap individu dapat mengakses layanan tanpa takut akan penolakan atau kekerasan. Ini termasuk memastikan kerahasiaan dan persetujuan dalam semua interaksi kesehatan.
Mencapai Akses Universal
Tujuan akhir WHO adalah mengakhiri epidemi AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030. Hal ini memerlukan percepatan cakupan layanan. Pencegahan harus mudah diakses, terjangkau, dan berkualitas tinggi di mana pun seseorang berada. Ini berarti mengintegrasikan layanan pencegahan HIV ke dalam layanan kesehatan primer, layanan kesehatan seksual dan reproduksi, serta layanan rehabilitasi narkoba.
Secara ringkas, pencegahan HIV menurut WHO adalah multi-sektoral, berlapis (menggunakan berbagai alat pencegahan), dan selalu berorientasi pada pengobatan sebagai alat pencegahan utama (TasP), sambil secara aktif memerangi hambatan struktural seperti stigma dan ketidaksetaraan.