Visualisasi kebaikan dan interaksi manusiawi.
Akhlak, dalam terminologi Islam, adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku, sifat, dan karakter manusia. Secara harfiah, kata 'akhlak' (jamak dari khuluq) dalam bahasa Arab berarti perangai atau budi pekerti. Ilmu akhlak berfokus pada bagaimana seorang muslim seharusnya bersikap, baik terhadap Tuhannya (hubungan vertikal) maupun terhadap sesama makhluk (hubungan horizontal), termasuk lingkungan sekitarnya.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu keadaan batin yang tertanam kuat dalam jiwa, yang darinya muncul berbagai perbuatan dengan mudah dan tanpa perlu dipikirkan terlebih dahulu. Jika perbuatan yang muncul itu baik dan terpuji, maka itu disebut akhlakul mahmudah (akhlak terpuji). Sebaliknya, jika perbuatan yang muncul adalah buruk dan tercela, maka itu adalah akhlakul madzmumah (akhlak tercela).
Penting untuk dipahami bahwa akhlak dalam Islam bukanlah sekadar sopan santun lahiriah. Kesopanan bisa dipelajari dan dipaksakan, sementara akhlak sejati berasal dari pemahaman nilai-nilai Ilahiyah yang telah meresap ke dalam hati, sehingga ketaatan atau perbuatan baik dilakukan karena dorongan internal, bukan karena ingin dilihat atau dipuji manusia. Rasulullah SAW bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
Kedudukan akhlak dalam Islam sangatlah tinggi. Ia menjadi tolok ukur utama kualitas keimanan seseorang. Tidak ada ibadah ritual—seperti shalat, puasa, atau zakat—yang dianggap sempurna tanpa diiringi dengan perbaikan budi pekerti. Seorang yang rajin shalat tetapi senantiasa menyakiti tetangganya, perilakunya tersebut menunjukkan adanya cacat dalam implementasi akhlaknya.
Akhlak yang baik mencakup kejujuran, amanah, kesabaran, rasa syukur, kasih sayang, dan kerendahan hati. Ketika akhlak ini terwujud, maka dampaknya akan meluas, menciptakan harmoni dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat luas. Fondasi masyarakat yang kuat terletak pada integritas moral individu-individu di dalamnya.
Keutamaan akhlak dalam Islam ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Dalil-dalil ini menjadi landasan fundamental bagi setiap muslim untuk memperbaiki kualitas perilakunya.
Allah SWT secara langsung memuji kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW, menjadikannya teladan tertinggi bagi umat manusia.
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam [68]: 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa misi kerasulan Nabi tidak hanya terbatas pada penyampaian syariat, tetapi juga pada peneguhan karakter luhur yang sempurna.
Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW menekankan bahwa akhlak mulia akan menjadi pemberat utama timbangan amal seorang hamba kelak di akhirat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang kasar dan kotor perkataannya." (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)
Hadits ini secara jelas menempatkan akhlak baik (seperti kesantunan, kelembutan, dan tutur kata yang baik) sebagai amalan yang paling bernilai di sisi Allah, bahkan melebihi amalan ritual tertentu.
Hadits ini menegaskan misi utama kerasulan Nabi Muhammad SAW terkait dengan perbaikan karakter.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad)
Ini menunjukkan bahwa penyempurnaan moral adalah inti dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah.
Pengertian akhlak mencakup keseluruhan aspek perilaku lahir dan batin yang didasari oleh nilai-nilai keimanan. Dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa akhlak mulia (akhlakul mahmudah) bukan sekadar pelengkap ibadah, melainkan ruh dari agama itu sendiri. Seorang muslim dituntut untuk senantiasa berusaha meneladani akhlak Rasulullah SAW, karena hal itu merupakan penentu kedekatan seseorang dengan Tuhannya dan penerimaan amalannya di sisi-Nya. Proses pembentukan akhlak adalah perjalanan seumur hidup yang memerlukan mujahadah (perjuangan keras) dan evaluasi diri yang berkelanjutan.